13 Januari 2014

Manis Pahitnya Dunia Lain



Manis Pahitnya Dunia Lain
Wiiih wiih wiih, ni judul serem amat yak ? hehehe, tenang, tenang, di tulisanku kali ini yang akan dibahas memang dunia lain, tetapi bukan dunia lainnya para makhluk halus :D , dunia lain yang aku maksud adalah jreeeng jeeeeeng... :D
Ngomong-ngomong tentang khayalan atau juga bisa disebut lamunan, dreamers pasti udah tahu dong? Karena aku yakin semua orang di bumi ini pasti pernah berkhayal meskipun hanya sesekali atau bahkan memang cuma sekali. Pasti itu, pasti. Benar, ‘kan? Benar, ‘kan? Hehehehe. Entah itu khayalan yang bener ataupun khayalan yang gak bener (apa tuh? :D), pasti dreamer pernah mengalaminya, ya ‘kan? Ya ‘kan? (hehehe, aku tahu kalian bakal bilang “ni orang maksa banget yak?” hehehe.. :D).

Semisal lagi turun hujan, terus dreamers lagi gak ada kerjaan, cuma bengong, bengong dan bengong dan akhirnya pikiran kesasar deh ke dunia khayal, entah itu dunia khayal yang punya pemandangan indah, punya segala hal yang dibutuhkan kita saat itu, atau tempat yang buruk sekalipun, dan semuanya kita yang mengatur. (hayoooo, pernahkan? Pernahkan? :D maksa banget yak? Hehehe, memang gitu. Dan memang harus gitu. Kali ini aku di setting sebagai orang yang maksa. :D)

Naaaah, setelah dreamers melakukan hal itu (berkhayal maksudnya), pernah tidak dreamers berpikir tentang manis pahitnya ke diri kita? (gak ngerti ya? :D) Maksudnya, pernah tidak dreamers berpikir tentang dampak positif dan negatif ke diri kita? Pasti ada yang jawab pernah, dan ada yang jawab belum pernah (aku kok sok tahu banget yak? :D hehehe kalau gak gitu gak jadi ni tulisan, :D)
Aku sendiri termasuk pada dreamer yang pernah berpikir hal tersebut, kenapa begitu? Hehehe (ini yang namanya nanya jawab sendiri :D), sebagai orang yang suka nulis, sebagian waktuku aku luangkan untuk berkhayal demi mendapatkan sebuah cerita baru yang unik dan lain daripada yang lain, dan sepertinya aku termasuk orang yang berkhayal pada tingkat yang sudah terlalu tinggi, aku bisa menghabiskan waktu 1 jam lebih tanpa melakukan apa-apa, hanya berdiam dan berlenggang bebas di dunia khayal. Bukankah cerita seseorang akan terasa lebih hidup jika orang itu menulisnya dengan hati? Nah, itulah yang selalu aku usahakan, aku berkhayal dengan hati agar menghasilkan cerita yang dapat aku tulis dengan hati pula. :D

Menurutku, khayalan yang aku lakukan masih termasuk sehat dan normal, karena aku menuangkan khayalanku kesebuah tulisan yang dapat nikmati banyak dreamers. Tapi waktu yang aku habiskan untuk mengkhayal adalah permasalahan yang harus di perbaiki, karena berkhayal selama berjam-jam bisa membuat kita benar-benar tinggal di dunia khayalan selamanya. Iiih, ngeri, ‘kan?

Karena rasa penasaranku pada “khayalan” tambah menjadi, maka dengan sigap ku ambil modem di lemari, connect, dan berselancarlah aku di dunianya Mbah Google (Guru besarku :D).

Ada beberapa sumber yang aku dapat tentang “khayalan”. Dan hasilnya cukup membuatku mangap-mangap (hayooo, penasaran ya? :D). Hasil yang aku dapat membuatku memikirkan lagi tentang waktu yang terlalu banyak aku luangkan untuk berkhayal, meskipun itu untuk hal yang positif.
(Ahahaha, peliharaanku lagi ngomong.. :D)
Khayalan adalah sebuah kata yang sudah begitu akrab dengan dunia kita, khususnya dunia remaja (umur 21 itu remaja gak ya? :D hohohoho), kalau ada pembaca yang sudah dewasa, ini juga berlaku untuk anda :) . 

Dalam dunia khayalan yang kita ciptakan sendiri, kita bebas melakukan segala hal, merencanakan segala hal, berbuat segala hal, dan  berkeliaran ke segala tempat yang biasanya di dunia nyata itu dilarang. Segala hal tersebut sah-sah saja, karena itu adalah dunia kita. Yang namanya khayalan, tidak ada yang salah.
 Seperti contohnya di atas ini :D hohohohoho. Ini benar, beneran loh, beneran di dunia khayalan. hahahaha :D

Di dunia khayalan semuanya memang selalu benar, di dunia khayal hanya kita yang bisa menunjuk itu salah atau benar, itu siapa dan ini siapa. Dan itulah yang membuat orang tergila-gila pada dunia ini, karena dunia khayal tidak membuat mereka lelah dengan segala pertentangan dan perjuangan yang biasanya dilakukan di dunia nyata.

Setelah selesai dengan beberapa kalimat di atas, mari kita mulai bahas tentang sisi positif dari “khayalan”.

  • Yang pertama, seperti halnya yang aku lakukan, khayalan aku tuangkan ke dalam sebuah karya yang bisa di nikmati oleh orang banyak.
  • Yang kedua (kok kayaknya jadi serius amat yak? :D hehehe), seperti yang telah kita ketahui, khayalan bisa membuat kita melupakan sejenak tentang kehidupan dunia nyata yang melelahkan. Dengan berkhayal kita bisa diam sejenak, bersantai, menenangkan pikiran (kalau orang-orang keren bilang tu meditasi), dengan melakukan hal tersebut kita bisa mengendalikan kecemasan, kegelisahaan, ataupun ketakutan yang sedang kita alami.
  • Mengkhayal juga bisa meningkatkan produktifitas seseorang. Ketika seseorang yang sedang lelah dengan semua pekerjaan yang ada dihadapannya, ada baiknya luangkan waktu sejenak untuk mengkhayalkan sesuatu yang indah, yang membuat pikiran segar dan kembali bersemangat. Cukup lakukan beberapa menit, dengan begitu pusing akan berkurang, dan dapat kembali bekerja dengan semangat.  
(Sebelum menghayal :D)                         


                                   (Setelah menghayal :D)


  • Bagi seseorang yang mempunyai pekerjaan yang monoton setiap hari, mengkhayal bisa dijadikan sarana sebagai pengusir bosan. Selain itu mengkhayal dapat membantunya untuk menjaga pikiran tetap terstimulasi. 

(Sebelum menghayal :D ) 

                                                             (Setelah menghayal :D)
Tapi tahukah kalian bahwa “khayalan” juga memiliki dampak negatif yang benar-benar merugikan kita?
Aku blok pakek tinta merah deh, biar bener-bener jadi warning buat dreamers yang baca tulisan ini. 

Menurut tim peneliti dari Universitas Harvard (Wiih, ini Universitas terkenal, :D) menunjukkan bahwa "mayoritas orang menghabiskan 49,6 % waktunya untuk mengkhayal, inilah yang dikatakan kebahagiaan orang telah tereduksi. Para peneliti juga menegaskan bahwa kebahagiaan seseorang yang sebenarnya adalah ketika hidup di alam realita, bukan ketika berkelana dalam lamunan indah tentang kehidupannya yang sukses."
Sebenarnya berkhayal memang bukanlah hal yang baik untuk dilakukan, karena hal tersebut dapat membuat orang  menjadi bingung dan memiliki tekanan batin atau bahkan dapat menyebabkan orang menjadi kehilangan jati dirinya dan cenderung gila-gilaan.

Ini di sebabkan karena otak manusia memiliki kelemahan yang signifikan. Jika otak semakin sering digunakan untuk berfikir, menganalisa, meneliti, menghapal atau bekerja akan sangat baik dampaknya, karena orang yang terbiasa menggunakan otaknya untuk hal-hal tersebut dapat membuat ia semakin cerdas. Sedangkan orang yang membiarkan otaknya tertidur atau dibiarkan terlena dengan dunia khayal akan menjadikannya pelupa bahkan akan memiliki usia yang sangat pendek. (Kalau gak percaya coba aja.. :D)

Sebuah penelitian baru telah menemukan fakta baru tentang “berkhayal”. Penelitian tersebut menemukan bahwa "berkhayal atau melamun dapat menyebabkan hilangnya sebagian memori, khususnya memori sebelum orang tersebut mulai berkhayal atau melamun. Semakin jauh pikiran kita melayang dalam dunia khayal, maka hilangnya memori akan semakin parah."

Nah, ternyata, sebelum peneliti yang di atas menyatakan hal tersebut, sudah ada juga peneliti yang menemukan dampak buruk dari berkhayal atau melamun, ini. Peneliti yang terdahulu itu menemukan bahwa "berkhayal dapat memblokir akses ke kenangan atau memori masa lalu."

Peter F. Delaney dari University of North Carolina di Greensboro juga mengatakan hal yang sama : “Melamun dapat membuat Anda merasa berada dalam situasi yang berbeda, karena Anda tidak dapat mengingat kejadian yang terjadi sebelum Anda melamun”

Masih ada lagi ni dreamers tentang buruknya berkhayal atau melamun yang berlebihan. Kebiasaan mengkhayal hanya akan membuat otak lemah, sehingga akan membuat orang sulit untuk berkonsentrasi.
 Wah wah wah…. Ternyata dampak negatifnya lebih mengerikan dari yang kita kira, bukan? Hemm, kalau menurutku sih, boleh-boleh aja melamun, asal jangan sampai keterlaluan, jangan sampai menghabiskan hari-hari kalian hanya untuk berkhayal, apalagi mengkhayalkan hal yang tidak berguna.

Jika kalian memang membutuhkan yang namanya berkhayal, boleh-boleh saja, tapi luangkanlah waktu hanya sejenak, beberapa menit saja sudah cukup, jangan sampai berjam-jam. Ini juga merupakan pelajaran buat aku. Jadi kita sama-sama mendapatkan ilmu baru hari ini. :D
 
 Semoga bermanfaat ya dreamers.. :D
Share:

12 Januari 2014

Kuning, Kuning, Kuning, Warna Kuning :D




H, E, double L, O, HELLO…. :D
Hello dreamers, :D
Kali ini tulisanku berjudul “kuning” yang akan membahas segala hal berkaitan dengan kuning. Kebetulan kuning juga warna kesukaanku, jadi penjelasannya akan menjadi lebih seru (hati kecil berbisik : sok asyik, apanya yang seru?) :D
Hehehe…
Agar tidak terlalu tegang, nantinya aku akan lebih memperbanyak emot titik dua dan huruf de besar (kayak ini maksudnya :D ) hehehehe. :D (tu kan ada lagi..)


Baiklah baiklah, karena pastinya sudah banyak yang berpikir “bahas apaan sih ini sebenernya? Kok gak nyampek-nyampek ke intinya?”, NAAAH, sebelum kalian mengeluarkan pikiran itu dalam bentuk kata-kata dan komentar-komentar, mari langsung saja aku mulai penjelasannya.

Dreamer yang baca tulisan ini, ketika ada kata "kuning" kebanyakan pasti langsung mengarahkan pikirannya pada sesuatu yang "ngambang di sungai". Hemmm, benar-benar ironis, kasian banget ya warna kuning. ckckckck :/
Baiklah mari kita selesaikan itu di sini.. :|

Kuning. Menurut sumber yang aku dapat dari mbah Google, kuning adalah sebuah warna (yaeyaalah, nenek-nenek juga tahu kalau kuning itu warna. :D). hehehehe. That’s right (hati kecil berbisik : mulai deh sok inggrisnya).
Kuning ituu… mmmm, (kenapa aku malah ngantuk ya, -_-“) 
Hehehe, oke lanjut lanjut..

Warna kuning adalah perpaduan antara warna merah dan warna hijau, warna kuning termasuk dalam warna primer berdampingan dengan warna biru dan merah. Dalam penemuan sebelumnya, kuning tidak termasuk warna primer, tetapi setelah dilakukan penelitian-penelitian selanjutnya, disimpulkanlah bahwa warna primer itu adalah warna merah, biru, dan kuning (jangan tanya aku kenapa bisa gitu, soalnya bukan aku yang neliti.. :D hehehe). Kalau pengen tahu lebih lanjut tentang warna primer, silahkan intip ni referensi yang aku dapet dari guru besarku (Hehehe, Mbah Google) ini linknya 
Dalam penjelasan lainnya :
  • · Warna kuning merupakan salah satu dari tiga warna primer subtraktif, bersama dengan magenta dan cyan. Sistem warna CMYK dalam cetak warna memakai empat warna tinta, salah satunya adalah kuning. Proses cetak CMYK ditemukan sekitar taun 1890, ketika surat kabar pada waktu itu mulai menerbitkan komik strip berwarna.
  • · Warna kuning adalah warna cahaya yang memberi rangsangan pada sel kerucut (cone cells) merah dan hijau pada retina mata manusia, tapi tidak pada sel kerucut biru. Panjang gelombangnya antara 565-590 nm. 
Wiiiih, keren banget aku yak, hehehe penjelasannya scientist banget.. :D hehehehe, setelah heboh dengan penjelasan yang berbau keilmuan pasti, mari kita bahas sedikit tentang warna kuning menurut pandangan psikologinya.. :D pasti banyak yang suka ni kalau udah bahas kayak ginian.
Dari sisi psikologi keberadaan warna kuning dapat merangsang aktivitas pikiran dan mental. Warna kuning sangat baik digunakan untuk membantu penalaran secara logis dan analitis. Warna kuning memberi arti kehangatan dan rasa bahagia dan seolah ingin menimbulkan hasrat untuk bermain.

Dengan kata lain warna ini juga mengandung makna optimis, semangat, perdamaian, dan ceria. Selain itu kuning merupakan warna yang dapat meningkatkan konsentrasi serta dapat menurunkan emosi. 
Karena kuning identic dengan suasana yang ceria dan hangat, sebagian besar orang memilih warna kuning untuk mengecat kamar atau rumahnya agar lebih terlihat cerah dan hidup. Tetapi Warna kuning juga dapat membuat mata lebih cepat lelah akibat cahaya yang dipancarkannya. Kuning dapat membuat bayi menjadi menangis, jadi jangan mencat kamar bayi dengan menggunakan warna kuning (nah yang ini aku juga baru tahu, baru dapet waktu browsing, masih belum nyoba langsung, entar deh aku coba kalau lagi ada ponakanku yang masih bayi main ke rumah, tak takut-takutin pakek warna kuning, ini demi membuktikan kalimat tersebut benar atau tidak. :D hahahaha #PeaceOomTante).
Sekarang kita bahas bagaimana sebenernya orang yang suka warna kuning, kayak aku ini.. :D
Individu penyuka warna kuning cenderung lebih bijaksana (hehehehe, aku bijaksana. :D) dan cerdas dari sisi akademis (wiiiiih, aku banget, #ngarep :D), mereka lebih kreatif dan pandai menciptakan ide yang original (Ini ni aku aku aku bangeeeet, hahaha #lebay -_-“).
Selain membaik-baikkan arti warna kuning, aku juga mau jelasin tentang sisi negatif yang di miliki si kuning ini. Sisi negatif pecinta kuning adalah, mereka orang yang mudah cemas, gelisah dan sering dikuasai ketakutan, terlebih dalam menghadapi orang yang juga sedang merasa tertekan ataupun stress mereka cenderung menjadi terlalu kritis dan menghakimi.

Nah, setelah kita membahas sedikit tentang warna kuning berdasarkan keilmuan pasti (Eh, bener gak ya? Hehe :D) dan berdasarkan psikologi, sekarang kita sudah sedikit paham tentang warna kuning, ‘kan?? :D

Jadi, bagi dreamer yang sudah baca tulisan ini sudah bisa ngubah pikirannya dong, kalau udah denger nama kuning, atau ngeliat warna kuning, maka yang terlintas dipikiran bukan lagi yang “ngambang di sungai”, tapi langsung berpikir secara cerdas bahwa kuning adalah warna yang…… warna yaaang… yang apa dreamer? Hehehehe, yang baguslah, bagus makna dan bagus pandangannya. :D
Meskipun tulisan agak sedikit seliweran, maklumkan saja, :D (Maklumkan saja, bukan cuma tulisan, tapi orangnya juga seliweran) semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk para dreamer sekalian.. :D
Love You All… :D

Share:

"50 PENA CINTA" PART 15



BAGIAN 15
“Pulangnya Vey dan Riko”
Pagi yang cerah tidak membuat hati Vey ceria. Dia masih murung sama seperti kemarin setelah percakapan singkatnya dengan Dirga. Sekarang Vey benar – benar merasa bersalah. Telepon dan pesan singkatnya tidak mendapat balasan dari Dirga. Niatnya untuk meminta maaf karena sudah keterlaluan membuat Dirga merasa bersalah masih belum dapat terlaksana juga. Vey bingung bagaimana cara menemui Dirga. Dia benar – benar kehilangan Dirga. Hubungan melalui telepon tidak mendapat tanggapan, Dirga juga tidak di hotel, dan menurut Kek Raja, Dirga juga tidak pulang ke rumah. Jadi dimana Dirga?
Vey sudah hampir kehabisan waktu. Besok pagi dia dan Riko akan kembali ke Bogor. Nek Mira akan tetap di Lombok sampai hari pernikahannya dengan Kek Raja terlaksana. Vey dan Riko akan kembali lagi ke Lombok pada waktu pernikahan tersebut. Bukan hanya mereka nantinya yang akan datang, Nek Ningsih, mama dan papa Vey juga akan ikut ke Lombok untuk menghadiri pernikahan Nek Mira dan Kek Raja.
Pernikahan Nek Mira dan Kek Raja akan di adakan dua minggu lagi di hotel tersebut. Selama dua minggu itulah Vey dan Riko pulang untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang belum rampung karena tertunda oleh perjalanan mereka ke Lombok.
“Murung amat wajahmu, Vey!” Kata Riko ketika ada di sebuah toko oleh – oleh khas Lombok bersama Ramon.
“Lagi gak mood tu, Rik. Biasa kalau masalah hati memang datangnya gak milih waktu. Hehehe.” Ledek Ramon yang ada di sebelah Vey. Vey melirik Ramon. “Iih, sok tahu.” Sahut Vey ketus. “Judes banget. Tak kasi tahu Dirga lo ya..” Ramon semakin menggoda Vey.
“Eh? Kamu tahu Dirga dimana?” Tanya Vey kaget mendengar kata – kata Ramon.
“Yaiyalah tahu. Dirga ‘kan nginep di rumahku yang gak ditempati. Rumahku dulu, tapi udah jarang aku tempati. Tapi suasananya bagus, deket pantai. Bisa menjernihkan pikiran kalau lagi suntuk. Olehkarena itu Dirga izin untuk tinggal beberapa hari di sana. Kamu gak tahu? Yaaah, aku kira sudah tahu.” Jelas Ramon pada Vey.
Vey langsung menarik lengan Riko dan Ramon keluar toko. Riko dan Ramon hanya terheran – heran melihat tingkah Vey yang tiba – tiba. “Ada apaan sih, Vey? Kenapa narik – narik gini?” Tanya Riko setelah sampai di luar toko.
“Antarkan aku ke Dirga!” Kata Vey singkat.
“Loh? Katanya mau jalan – jalan?” Tanya Riko.
“Sudahlah turuti aja orang yang lagi kasmaran.” Ledek Ramon.
“Cepetaaaaaan.” Teriak Vey yang sudah ada di dalam mobil terlebih dahulu.
Mobil Ramon melaju kencang menuju pantai kuta. Pantai dimana rumah Ramon berada. Selama perjalanan, Vey hanya terdiam memikirkan bagaimana cara untuk berbicara dengan benar di hadapan Dirga. Dia tidak ingin melakukan kesalahan lagi. Sesekali Ramon dan Riko menggodanya tentang hubungannya dengan Dirga. Tapi Vey tidak begitu memperhatikan, dia terlalu sibuk pada lamunannya tentang Dirga.
Beberapa saat kemudian, mobil Ramon memasuki sebuah pekarangan rumah. Rumah itu tidak begitu besar. Bisa dibilang rumah itu begitu sederhana, tetapi indah. Halamannya terawat, banyak bunga dan tanaman hiasan yang tumbuh di halaman tersebut. Kalau masalah rumah, meskipun jarang ditempati tapi kebersihannya masih terjaga.
Angin yang menghembus setiap waktu dari arah pantai membuat rumah itu begitu sejuk dirasa. Ramon, Riko, dan Vey turun dari mobil. Mereka melangkah mendekati pintu rumah. Vey mulai terheran – heran. Tidak ada mobil Dirga di halaman rumah, apa benar Dirga ada di rumah ini?
“Ramon.. apa benar Dirga di sini? Kok gak ada mobilnya?” Tanya Vey penasaran.
“Mobilnya mungkin sudah dibawa pulang sama Pak Santo, sopir Dirga itu. Dirga ‘kan kalau kemana – mana lebih sering di antar jemput sopir.” Jawab Ramon. Mereka sudah sampai di depan pintu. Ramon mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak ada jawaban yang terdengar.
“Ramon… kemana Dirga?” Rengek Vey, dia sudah mulai tidak sabar menunggu tanggapan dari ketukan tersebut.
“Oh, mungkih Dirga di bagian belakang rumah. Disana ada tempat nyantai yang langsung mengarah ke pantai. Mungkin Dirga lagi bersantai di sana. Ayo ikut aku ke belakang.” Riko dan Vey mengikuti langkah Ramon. Mereka melewati jalan samping rumah menuju kebelakang rumah. Dan benar kata Ramon, Dirga sedang duduk bersantai sambil mendengarkan lagu dengan headsheet di telinganya.
“Benar ‘kan? Itu Dirga. Sana kamu aja yang nyamperin. Kita jadi penonton aja dari jauh.” Kata Ramon sambil mendorong tubuh Vey maju. Vey melangkah mendekati Dirga. Jantungnya kali ini benar – benar berdebar – debar tak terkontrol. Sesekali dia mengambil nafas panjang agar tidak terlihat terlalu gugup di hadapan Dirga nanti.
Vey terus mendekat, dan berhenti di samping tempat Dirga duduk. Mulutnya terkunci. Dia bingung kata apa yang harus lebih dulu keluar dari mulutnya. Dirga yang tersadar ada orang di sampingnya segera menoleh dan melepas headsheet-nya.
“Vey?” Dirga terkejut melihat Vey yang berdiri di hadapannya.
“Dirga, aku…” kata – kata Vey terputus, dia masih gugup. Dirga yang tadinya duduk sekarang berdiri tepat di depan Vey. “Aku minta maaf atas kejadian kemarin.”
“Minta maaf? Bukan kamu yang salah, tapi aku.” Kata Dirga singkat.
“Aku juga salah, maaf sudah membuatmu mengambil keputusan yang salah, maaf juga sudah membuatmu merasa begitu bersalah. Aku tidak pernah bermaksud untuk membuatmu kepikiran seperti ini.”
“Bukan kamu yang salah. Aku tinggal di sini bukan karena kepikiran tentang masalah kemarin, aku hanya ingin menenangkan pikiran saja.” Kata Dirga, ekspresinya begitu datar, mungkin masih ada rasa kesal di hatinya. “Sekarang kembalilah ke hotel. Jangan khawatir tentang masalah salah menyalahkan ini. Itu sudah selesai. Jangan dibahas lagi.” Setelah mengatakan kata – kata itu, Dirga melangkah untuk meninggalkan Vey.
“Aku bukan khawatir karena masalah salah menyalahkan ini.” Kata Vey tiba – tiba, kata – katanya membuat Dirga berhenti melangkah. Kini Vey ada di belakangnya. Meskipun Dirga menghentikan langkahnya, dia tidak membalikkan badan pada Vey. Vey memandang punggung Dirga. Aku ke sini cuma ingin bilang aku suka kamu, Dir. Bisik Vey dalam hati. Tapi mulutnya terkunci. Egonya mengalahkan segala yang ada di hatinya. “Aku hanya tidak ingin meninggalkan kesan buruk selama aku tinggal di Lombok ini. Besok aku pulang ke Bogor. Syukurlah kamu sudah menganggap masalah salah menyalahkan ini selesai sebelum aku pulang.” Lanjut Vey. Kata yang dikeluarkannya tidak sesuai dengan apa yang ada di hatinya.
Dirga sedikit kaget mendengar bahwa Vey akan pulang besok ke Bogor. Dia ingin berbalik, tapi sepertinya rasa gengsi masih menguasainya. Dirge masih terdiam di tempatnya. “Terima kasih atas semuanya.” Kata Vey, kemudian dia mendahului tempat Dirga berhenti tadi. Ingin sekali Dirga mengejar dan memeluk Vey dari belakang. Tapi kakinya terpaku.
Vey yang melangkah menjauhi Dirga begitu sesak dadanya. Kenapa dia tidak mengejarku? Apa dia rela aku pergi dengan cara seperti ini? Gumam Vey dalam hati. Mereka sama – sama suka. Hati mereka sama – sama saling memanggil, tapi ego mereka mampu mengalahkan hati nurani yang suci.
***
Malam yang sunyi membuat Vey melangkahkan kakinya di lorong – lorong kamar hotel tanpa tujuan. Kakinya terus melangkah mengikuti irama hatinya yang sedang kacau. Besok dia akan kembali ke tanah kelahirannya, Bogor. Seharusnya hal tersebut membuatnya senang karena bisa bertemu dengan kedua orang tuanya lagi, tapi malam itu suasananya membuat Vey tidak ingin pulang.
Vey merindukan Dirga. Merindukan saat – saat ketika mereka masih bisa bertemu, meskipun setiap pertemuannya selalu diisi dengan keributan. Tapi itulah yang membuat Vey rindu pada Dirga. Langkah Vey berhenti pada di pinggir kolam tempat pertemuan Nek Mira dan Kek Raja. Dia menghela nafas panjang. Pikirannya melayang mencari hal yang dicari – carinya.
Vey duduk di sebuah bangku pinggir kolam. Disandarkannya leher pada sandaran kursi, kepalanya menengadah ke atas. Matanya kini mengarah pada bintang yang bertaburan menghiasi malam yang sunyi. Vey mengambil ponsel pintarnya di saku baju. Dia membuka aplikasi catatan. Sebuah lembar kosong terpampang di hadapannya. Tangannya mulai menekan beberapa tombol untuk menghasilkan kesatuan kata padu.
Pena Kek Raja yang ke – 50 mengantarku bertemu dengan sosok manusia sepertinya. Manusia yang bukan seperti tipeku, tapi dia mampu membuatku merindukannya. Manusia yang bukan seperti Kak Riko, tapi dia mampu membuatku melamunkannya.
Aku ke tanah Lombok ini berniat untuk mencarikan cinta Nek Mira yang telah lama hilang. Tapi aku sendiri malah menemukan cinta yang tak tentu jawabannya. Apa yang harus aku lakukan? Aku akan pulang besok pagi. Tapi sampai sekarang, aku masih belum mendapatkan jawaban tentang cintaku ini.
Aku bingung harus mulai berpikir darimana untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaanku sendiri. Apa aku benar – benar menyukai Dirga? Tapi kenapa sulit mengatakannya?
 Vey berhenti mengetik. Dia menghela nafas panjang. Pikirannya sekarang penuh pertanyaan yang belum mampu dijawabnya sendiri. “Apa aku benar – benar suka Dirga ya?” Vey menggaruk – garuk kepalanya. Kalau sudah merasakan sendiri yang namanya cinta, baru terasa bimbang dan gelisahnya. Biasanya mampu menasehati orang tentang cinta, tapi ketika diri sendiri mengalaminya, satu nasehat pun tak keluar dari hatinya. Itu yang dirasakan Vey saat ini.
“Dirgaaaa… aku rindu.” Kata Vey. “Dirga pasti rindu juga padamu, Vey.” Tiba – tiba suara Kek Raja muncul dari belakang Vey. Vey benar – benar kaget bercampur malu. Dia menoleh pada Kek Raja. Ya itu benar Kek Raja. “Kakek? Loh? Kakek gak pulang?”
“Kakek nginep di hotel, Vey. Di rumah sepi. Dirga yang biasanya nemenin Kakek sekarang lagi minggat entah kemana.” Vey berdiri untuk mendorong kursi roda Kek Raja. Setelah ada di samping tempat duduknya tadi, Vey kembali duduk di kursi.
“Kakek ngapain malam – malam gini keluar?”
“Kakek Cuma pengen cari udara segar aja. Kamu sendiri?”
“Ya sama, Kek. Cari udara segar.”
“Sekalian melepas galau ya?” Goda Kek Raja. Vey tersenyum mendengar kata – kata Kek Raja. “Kakek memang sudah tua, Vey. Tapi Kakek masih peka melihat orang yang lagi jatuh cinta.” Kek Raja tersenyum melihat wajah Vey yang mulai merona merah. “Dirga orangnya kalau sudah mencintai seseorang pasti akan menjaganya dengan sepenuh hati, contohnya Kakek. Kakek hanyalah Kakek sepupunya. Tapi dia benar – benar menyayangi kakek, dan karena sayang itu dia benar – benar menjaga Kakek sampai – sampai kamu salah paham dengan dia kemarin tentang masalah sembunyi –sembunyian itu.” Kek Raja tersenyum. Vey merasa bersalah, “Maafin Vey, Kek.”
“Gak ada yang salah, Vey. Dirga dan kamu itu cuma salah paham.”
“Iya, Kek. Tapi sepertinya Dirga benar – benar marah sama Vey. Vey jadi bingung sendiri gimana caranya biar dia mau nanggepin Vey lagi.”
“Berikan dia waktu, Vey. Jangan mendesaknya lagi dalam mengambil keputusan. Kamu suka dia ‘kan?”
“Hah? Emmm.” Vey menggaruk – garuk kepalanya. “Apa benar Vey suka, Kek?” tanya Vey. Vey berbalik tanya pada Kek Raja. Dia bingung harus menjawab apa.
“Kamu bingung dengan perasaanmu sendiri?” Vey mengangguk. “Memangnya apa yang kamu rasakan sekarang Vey? Apa kamu memikirkan Dirga?”
“Lebih dari itu, Kek. Aku benar – benar merindukannya. Kalau sudah inget dia pikiran jadi gelisah sendiri, pengen ketemu tapi kondisi tak memungkinkan.”
“Kamu mulai memasuki tahap pertama cinta, Vey.”
“Oh? Begitu ya, Kek? Terus aku harus gimana? Aku kayaknya gak bisa apa – apa, Kek. Besok sudah pulang ke Bogor. Gak mungkin punya waktu untuk mengungkapkan atau berbicara lagi sama Dirga.” Vey menunduk, dia kebingungan sendiri.
“Biarkan itu mengalir seperti air di sungai, Vey. Jangan kamu paksakan. Kalau sudah waktunya nanti kamu pasti punya kesempatan untuk berbicara dan mengungkapkan rasa yang kamu rasakan. Sekarang kondisi sedang memanas. Beri waktu untuk hati kalian merindu satu sama lain. Dan waktu itulah waktu yang tepat untuk kalian berbagi satu sama lain. Dua minggu lagi kamu ‘kan kesini lagi, mungkin itu kesempatan keduamu untuk berbicara dengan Dirga.”
“Jadi Vey harus…”
“Jadi kamu harus menunggu waktu yang tepat. Jangan paksakan disaat yang tidak memungkinkan seperti sekarang ini. Kalau sudah jodoh ‘kan gak mungkin kemana, Vey.”
“Tapi bukankah cinta butuh perjuangan dan pengorbanan, Kek?”
“Betul. Ini perjuanganmu untuk bertahan meskipun jarak berjauhan. Ini juga pengorbanananmu untuk cinta, mengorbankan perasaan menggebu – gebu untuk sesaat. Jangan terburu – buru, nanti hasilnya bisa jelek.” Kek Raja memberikan nasehat pada Vey. Vey hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan Kek Raja. Sekarang Vey mengerti apa yang harus dilakukannya. Menunggu waktu yang tepat.
Malam itu terasa menenangkan bagi Vey. Suasana hatinya agak mereda setelah mendengar beberapa petuah dari Kek Raja. Semilir angin malam berhembus pelan mengiringi senyum Kek Raja dan Vey yang masih bertahan duduk dipinggir kolam itu sampai larut malam. Mereka masih berbincang – bincang tentang segala hal yang belum mereka pahami dan belum mereka mengerti, terutama soal cinta yang akhir – akhir ini menguasai hari – hari mereka.
***
Vey dan Riko sudah bersipa untuk pulang. Koper mereka bertambah satu lagi, berisi oleh – oleh dari tanah Lombok yang sudah mereka beli kemarin. Mereka sudah berdiri di depan bandara bersama Kek Raja, Nek Mira, dan Ramon. Perbincangan mereka tidak begitu berat, hanya sekedar basa – basi salam dan pesan.
“Hati – hati di jalan ya, Vey.” Kata Ramon sambil menyerahkan koper milik Vey yang dibawakan Ramon.
“Iya, tenang. Entar aku bilangin ke pilotnya suruh hati – hati.” Ramon tertawa mendengar kata – kata Vey.
“Salam sama papa dan mamamu ya, Vey. Sampaikan juga pada Nenekmu untuk tentang kabar gembira ini.” Kata Nek Mira sambil tersenyum bahagia. Sejak pertemuaannya dengan Kek Raja, di wajah Nek Mira selalu terpancar rona bahagia yang berseri – seri. Dan Vey senang melihatnya.
“Iya, Nek. Tenang saja. Nanti waktu pernikahan Nek Mira sama Kek Raja, mereka semua bakal Vey ajak ke sini. Agar tambah meriah.” Vey tersenyum melihat kedua insan yang baru dipersatukan itu. Senyum Vey memang terlihat seperti orang yang begitu bahagia, tapi dalam hati, dia merasakan sesuatu yang hilang. Daritadi dia menoleh kanan kiri, memastikan apakah Dirga benar – benar tidak datang untuk mengantarnya pulang. Setelah tiba gilirannya untuk berangkat, barulah Vey sadar kalau Dirga memang tidak mungkin datang.
Vey melangkah menuju pintu masuk pesawat, langkahnya masih berat. Pikirannya masih tertinggal di tempat lain. Dia terlalu memikirkan Dirga. Riko yang berjalan mendahuluinya mengerti apa yang sedang dipikirkan adik perempuannya itu. Riko langsung merangkul bahu Vey sambil berkata, “tenang, Vey. Dirga baik – baik saja. Dua minggu lagi kita bakal ketemu sama dia kok. Ayo cepet jalannya, mama sama papa udah nunggu di Bogor.” Kata Riko sambil tersenyum berusaha untuk menyemangati adiknya.
Pesawat yang ditumpangi Vey dan Riko baru saja terbang menuju Bogor. Seorang laki – laki berlari mendekati Ramon, Nek Mira, dan Kek Raja yang sudah mau beranjak pulang. “Kakek, Vey udah berangkat?” Tanya Dirga sambil terengah – engah kehabisan nafas karena berlari.
“Baru saja. Kenapa kamu bisa telat?” Tanya Kek Raja pada Dirga yang terlihat begitu murung mendengar kabar bahwa Vey sudah berangkat. Dirga terdiam, dia menyesali keterlambatannya.
“Dia masih bingung berpikir, Kek. Masih bingung berpikir suka apa enggak ke Vey. Kelamaan berpikir jadi telat deh.” Celetuk Ramon sambil cengar - cengir mengejek Dirga. Dirga meliriknya, tapi Ramon hanya menanggapinya dengan senyum nakal yang membuat Dirga jadi ragu untuk menanggapi candaan Ramon.
“Ayo pulang, Kek, Nek. Biarkan Dirga merenungkan nasibnya sekarang.” Nek Mira, Kek Raja, dan Ramon pun melangkah pergi meninggalkan Dirga yang masih terdiam. Tak berapa lama dari kepergian mereka, Dirga pun melangkah keluar untuk pulang, langkahnya begitu gontai, seperti tak punya otot. Dia sekarang tidak tahu harus berbuat apa. Menunggunya dua minggu lagi? Aku sudah terlalu merindukannya. Gumam Dirga dalam hati.
Derungan mobilnya mulai terdengar menjauhi bandara yang ramai dengan sesak desak manusia yang ingin bepergian. Dirga terus menyetir mobilnya menyusuri jalanan beraspal tanpa ujung. Dirga tidak tahu harus kemana agar pikirannya tidak kacau seperti saat ini, yang dia tahu hanyalah menyetir dan terus menyetir tanpa tujuan yang jelas.
Share: