31 Desember 2011

Tentang Tradisional ^_^


Salam semangat buat para Dreamer...^v^/
Tulisanku kali ini mengulas sedikit tentang tarian tradisional yang mungkin remaja-remaja zaman sekarang hampir tidak mengenalnya dan bahkan tidak tahu kalau tarian ini memang ada sejak dulu.. Agar ke-tradisonalan kita ini tetap terjaga dan tidak terhapus oleh waktu, mari kita intip sebentar tentang tarian muang sangkal berikut yang merupakan salah satu tarian tradisional di pulau Madura.
TARI MUANG SANGKAL
M
adura merupakan pulau yang memiliki kekayaan kesenian tradisional yang sangat banyak dan yang pasti sangat bernilai, unik dan juga menarik untuk
dipelajari. Kita sebagai orang asli Madura sudah seharusnyalah mengenal budaya Madura yang masih hidup bahkan yang akan dan telah mati atau dengan kata lain telah punah di makan zaman.
Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep mempunyai kebudayaan masing-masing yang memiliki ciri khas yang membedakannya.
            Sekarang, mari kita tengok kabupaten tetangga kita, Sumenep. Tidak kalah menariknya dengan kebudayaan Pamekasan kita. Salah satu contoh budaya yang patut di lestarikan, yaitu tarian. Nah, seperti contohnya tarian Muang Sangkal (buang sial) yang akan kita bahas sekarang.
            Tari Muang Sangkal adalah suatu tradisi yang mampu bertahan sampai sekarang. Tari Muang Sangkal adalah tarian tradisional yang diciptakan oleh Taufiqqurrahman, seniman asli Sumenep.
            Secara harfiah, muang berarti membuang, sedangkan sangkal berarti sengkolo atau bahaya. Oleh karena itu Muang Sangkal berarti menghilangkan marabahaya/bala.
            Tari Muang Sangkal sangat diminati oleh orang-orang Madura, khususnya orang-orang Sumenep. Bahkan, tarian ini telah berhasil mendapat penghargaan cak durasim award beberapa tahun silam. Oleh karena itu, tarian ini dikukuhkan sebagai tarian khas Sumenep.
            Gerakan tarian ini diiringi dengan bunyi gamelan. Tak jauh beda dengan tarian lainnya, setiap gerakannya memiliki makna seni yang tinggi dan pastinya mengandung arti. Membawakan tarian ini membutuhkan konsentrasi tinggi dan kemampuan menari yang baik, agar orang yang menyaksikan dapat berdecak kagum.
            Tari Muang Sangkal dibawakan oleh minimal 4 orang, dan maksimalnya bisa mencapai 15 orang. Para penari membawa nampan berwarna emas yang di dalamnya terdapat beras berwarna kuning. Diakhir tarian, para penari menabur beras kuning yang ada dalam nampan tadi. Hal itu sebagai tanda petaka atau marabahaya serta sial yang ada dalam diri seseorang telah dibuang jauh-jauh.
            Tari Muang Sangkal ini telah banyak mengalami pengembangan, seperti contohnya tari Paraben (perawan) Madura yang merupakan pengembangan dari tari Muang Sangkal yang diringkas menjadi sebuah garapan tari tradisional kontemporer yang menceritakan tentang perkembangan anak remaja menjadi dewasa.
            Pengembangan tarian Muang Sangkal ini disusun dengan menggunakan pendekatan restrukturisasi (penyusunan kembali), yang meliputi penggarapan gerak, tata busana, tata rias, musik, dan penyajiannya secara menyeluruh disusun dengan tidak menghilangkan warna khas masyarakat Madura, yaitu pola dari unsur ghelleng soko (gelang kaki) dan sanggul bellu’ (sanggul berbentuk angka 8) yang diiringi dengan musik khas Madura, musik tong-tong.
Selain mengalami perkembangan, Tari Muang Sangkal ini juga telah mengalami berbagai perubahan yaitu menjadi tari wajib untuk menyambut tamu-tamu agung yang datang dan peresmian peristiwa penting. Seperti contohnya pada saat peresmian jembatan kebanggaan kita “Suramadu” yang diresmikan langsung oleh bapak presiden kita, Susilo Bambang Yodhoyono. Pada saat kedatangan beliau langsung disambut dengan tarian Muang Sangkal yang dibawakan oleh 15 penari putri dari Madura dan Surabaya. Dan seperti telah dijelaskan tadi, pada akhir tarian tersebut diwarnai dengan penaburan beras kuning kesegala penjuru untuk membuang sial yang ada di jembatan Suramadu tersebut, sebagaimana tari Muang Sangkal yang berati menghilangkan bala.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar