15 November 2013

Bahan Postingan :D

Malam ini adalah malam yang sepi, temen kosan banyak yang pulang, hanya sebagian yang gak pulang, itupun masih kerasa sepi. Agar tidak terasa begitu sepi aku putuskan untuk nonton film semaleman, tapi stock filmku lagi habis. 
Baru tadi sore aku menuntaskan tontonan film Koreaku. Kali ini  cuma 20 episode, filmnya berjudul "GHOST".
ini ni posternya :

Keren kan? Pemainnya cakep.. :D
Aku memang maniak banget sama film, apalagi film Korea yang berseri(berepisode-episode), itu serua banget :D
Udah banyak banget film Korea yang aku tonton, yang akhir - akhir ini berhasil aku tuntaskan adalah HEART STRING, GOOD DOCTOR, WILD ROMANCE, GHOST, THE HEIRS (yang ini belum tuntas downlodannya :D) hidup tanpa film bagaikan sayur tanpa garam.. :D hehehe
Tapi malam ini aku kehabisan film :(
Yah, ketimbang gak ada kerjaan mending nulis iseng - iseng di blog, bisa dijadikan bahan postingan yang gak begitu menarik :D
Pengen ngelanjutin nulis, tapi sepertinya mood malam ini tidak begitu mendukung. Bukankah menulis itu tergantung mood seseorang? Apa cuma aku yang ngerasa? hehehehe.
Share:

"50 PENA CINTA" part 2



BAGIAN 2
“Kotak Kehidupan”
                Vey masih sibuk membersihkan kamar barunya. Barang – barang miliknya sudah diangkut dengan susah payah ke dalam kamar itu. Beberapa barang yang sudah keluar dari koper berantakan di atas kasur, ada juga yang sudah diletakkan di tempat yang semestinya.
                Kemucing yang dipegang Vey daritadi masih dikibas -  kibaskan ke segala penjuru. Sesekali Vey bersin karena menghirup debu yang beterbangan di dalam kamarnya. Pikirannya mulai merancang berbagai rancangan untuk merenovasi kamar tersebut. Dari berbagai macam cat yang dicocok – cocokkan sampai perkakas yang di pas – paskan untuk tiap sudut kamarnya.
                Kamar yang Vey dapatkan sebenarnya adalah kamar yang bagus tapi kondisi berdebu dan kusam menutup pesona yang sebenarnya. Vey meletakkan kemucing di atas sebuah meja yang ada di dekat tempat tidurnya. Dia mengambil sebuah bolpen dan buku catatan miliknya yang berserakan dengan barang – barang lainnya di atas kasur. Vey duduk dan mulai berkutat dengan catatan kecilnya itu.
                “Yang harus aku beli itu.. cat warna kuning, biar kelihatan ceria, cat warna hijau biar keliahatan segar, emmm, apa lagi ya? Oh, iya, cat warna merah muda, ungu muda. Naah, kuning sisi utara, hijau sisi barat, merah muda untuk sisi selatan, dan ungu muda sisi timur.” Vey menulis semua kebutuhan yang dia inginkan. Sesekali dia memperhatikan tiap baris dinding yang membatasi kamar itu.
                “Oh? Iya, hampir lupa, kamar mandi harus dicat ulang juga, pakai warna biru deh biar lebih kerasa airnya. Hehehe, eh.. bolpen…” Belum selesai dia menulis, bolpennya terjatuh dari tangan. “Aduh, tangan ini udah capek mungkin ya..” Vey menunduk berusaha meraih bolpen yang jatuh tepat di sebelah kakinya. Beberapa kali ayunan tangannya masih belum sampai juga, maklumlah, tempat tidur yang dia duduki lumayan tinggi. Akhirnya dia bangkit dari duduknya dan berjongkok mengambil bolpen itu.
                “Naaaah, dapet.” Vey berhasil mendapatkan bolpennya, dia masih berjongkok. “Eh? Itu apa ya?” Dia melihat sebuah kotak besar di bawah ranjang itu. Tanpa pikir panjang, Vey menariknya keluar. Tidak begitu berat, meskipun kotaknya terlihat besar.
                “Ini apaan ya??” Vey masih saja penasaran, dia mengangkat kotak tadi ke atas tempat tidur. Vey membuka tutup kotak yang lusuh dan berdebu itu. “Haaahjjiiim… aaaah, debunya bandel banget sih..” Kotaknya terbuka. Vey mulai dapat melihat isinya. Amplop – amplop surat, bolpen – bolpen, dan sebuah buku catatan.
Untuk sejenak Vey tertegun, dia terdiam, entah apa yang dia pikirkan, hanya saja tangannya mulai merogoh sebuah amplop yang tersusun rapi di dalam kotak itu. “Seribu sembilan ratus enam puluh enam. Maret..” Vey membaca tulisan yang tertulis di balik amplo itu. Vey semakin penasaran, dia membuka amplop lusuh itu dan menemukan sebuah kertas didalamnya.
“Eh, ada isinya, kayaknya surat deh.” Vey segera mengeluarkan kertas di dalam amplop itu. Mungkin warna kertas tersebut awalnya putih bersih, sekarang warna kertasnya sudah berubah menjadi kecoklatan, tapi masih utuh dan dapat jelas terbaca.
Lombok, 3 Maret 1966.
Hai, sahabat penaku. Senang akhirnya bisa membalas suratmu. Ini adalah surat ketiga yang aku kirimkan untukmu setelah pengiriman keduaku pada tanggal 21 Februari lalu. Aku senang sekali memiliki teman sepertimu. Isi suratmu membuatku bersemangat untuk membacanya.
Seperti perjanjian kita sebelumnya di surat kedua. Di surat ketiga ini kita akan membahas tentang diri kita masing – masing. Tujuannya agar kita bisa tahu sama lain. Baiklah, akan aku mulai penjelasan tentang diriku.
Nama ku Raja, nama panjangnya Raja Kuswantoro. Orang tuaku memberikanku nama seperti itu karena mereka sangat suka dengan peran seorang raja. Menguasai, memimpin, bijaksana dan banyak lagi sifat yang mereka sukai dari seorang raja. Hehehe, alasannya begitu simple ya?
Orang tuaku memiliki sebuah usaha kecil – kecilan di Lombok, sebuah penginapan untuk pelancong yang lagi berlibur ke Lombok. Lain kali, kalau kamu ingin berlibur ke Lombok, mampirlah ke penginapan kami. Kami pasti menerima dengan sepenuh hati.
Keluargaku ada tiga orang, aku, dan kedua orang tuaku. Aku tidak memiliki saudara, oleh karena itu, ketika aku mendapatkan sahabat pena yang dapat di ajak berbagi sepertimu ini, aku benar – benar sangat bahagia. Setidaknya aku masih memiliki kamu sebagai pelipur lara.
Oh ya, ayo kita adakan perjanjian, setiap minggu kita akan berkirim surat, dan setiap pena yang kita habiskan untuk menulis surat – surat kita ini dikirim bersamaan dengan surat yang dikirim. Agar kita tahu sudah sejauh mana tinta pena itu menggambar perjalanan kita.
Vey tersenyum, dia menutup surat itu. Rasa penasaran yang semakin menjadi membuatnya tidak berhenti sampai itu saja. Dia sekarang mengambil sebuah buku catatan, seperti buku harian. Sampulnya berwarna ungu yang memudar, mungkin karena sudah termakan usia. Vey memperbaiki posisi duduknya dan mulai membuka dan membaca buku harian itu. Dia membaca lembar pertama.
Bogor, 10  Februari 1966
Hari ini, aku menerima sepucuk surat dari seseorang yang tidak aku kenal. Alamat dan namaku benar – benar jelas terbaca.  Aku baca dengan begitu hati – hati, siapa tahu dari seseorang yang terlupakan. Dia dari Lombok. Seseorang bernama Raja. Entah Raja siapa, dia hanya menuliskan nama pendek saja. Dia juga menyebutku sahabat pena. Dia mengajakku untuk berteman. Aku sebagai perempuan yang hidupnya terkungkung dalam sebuah rumah yang besar ini, sungguh sangat senang menyambutnya. Mendapatkan seorang teman untuk pertama kalinya adalah hal yang paling membahagiakan untukku.
Tulisannya begitu rapi, indah dan terlihat menarik untuk dibaca. Aku segera membalasnya, meskipun ada sedikit rasa ketidak percayaan dalam diri ini, tetapi, apa salahnya dicoba?
Vey mulai kegirangan, hobinya memang membaca kisah - kisah yang ditulis oleh penulis yang berisi tentang berbagai cerita cinta, tapi kebanyakan fiksi. Dan kali ini dia menemukan sebuah kisah lagi, kisah yang tepat ada dihadapannya. Kisah nyata, pikirnya.
“Wah, kayaknya seru ni.” Vey mulai membaca lagi, dia meneruskan bacaan di buku harian itu. Pikirannya mulai fokus, matanya hanya tertuju pada satu posisi, yaitu buku harian lusuh yang dipegangnya.
Aku tuliskan beberapa kata yang menurutku indah untuk dibaca oleh orang. Sebenarnya sulit diungkapkan, itu karena aku jarang berkomunikasi dengan lingkungan luar. Orang tuaku selalu mengurungku dengan alasan aku seorang anak gadis yang perlu dijaga. Ungkapan – ungkapan yang aku tulis untuknya adalah ungkapan – ungkapan yang ingin aku sampaikan kepada setiap orang yang ingin aku miliki, seorang teman.
Mungkin aku tidak bisa mengukur bagaimana ukuran kata dan kalimat yang pantas untuk dituliskan untuk seseorang yang baru aku kenal. Dan semoga kata – kata itu dapat membuatnya senang menerima suratku.
Vey mengernyitkan alisnya, dia sepertinya memikirkan sesuatu, dia terus membuka lembar demi lembar dengan cepat, tidak membacanya, hanya membuka saja.
“Gimana ya ending-nya? Aku pengen langsung lihat di lembar paling akhir aja deh. Mungkin mereka akhirnya ketemu.” Vey membuka lembaran paling akhir. Kosong. “Loh? Lembar paling akhir kosong?” Vey kembali membuka lembaran buku itu, tetapi sekarang dia membukanya dari belakang. “Oh? Dia menulisnya hanya sampai lembar ke – 19 dari belakang? Kenapa 19 lembar selanjutnya kosong? Apa mungkin dia ganti buku harian lain ya? Kalau aku sih bakal nyelesain buku ini, baru kalau sudah full ganti buku baru. Hemm, yasudahlah, itukan urusannya. Aku bagian baca aja. Hehehe”
Vey membaca tulisan akhir di buku itu. Vey memperbaiki posisinya agar lebih enak membaca temuannya, dengan posisi begitu dia dapat lebih berlama – lama membaca lembar demi lembar tersebut.
Bogor, 4 November 1969
Bolpen ke - 50 yang dia kirim masih ada tintanya, dia bilang kalau kita harus menghentikan ini semua sebelum semua terluka. Cukup kita berdua saja yang terluka, jangan sampai orang lain ikut terluka. Itu adalah kata – katanya.aku tidak bisa terima. Untuk pertama kalinya aku berjuang untuk diriku sendiri. Sebelumnya aku sudah mengikuti semua keinginan orang tuaku. Untuk kali ini saja ijinkan aku untuk memilih jalanku sendiri, tetapi mengapa dia tidak mendukungku? Aku sudah menceritakan kalau aku akan dijodohkan, dan aku juga sudah menceritakannya bahwa aku juga akan menentang perjodohan itu. Tetapi mengapa kamu lebih memilih untuk menghentikan kisah kita?
Aku akan membalas suratnya, tetapi aku tidak akan menyertakan bolpenku ini, bolpenku masih ada tintanya, itu pertanda bahwa aku masih belum boleh menghentikan suratku untuknya. Dia bilang dia akan di pasung jika dia tidak mengikuti kata orang tuanya, tetapi bukankah cinta butuh pengorbanan? Kenapa dia tidak berusaha untuk menolaknya? Sudah lebih dari 3 tahun kebersamaan ini, apakah harus berakhir dengan begitu sia – sia? Aku akan memperjuangkan cinta ini. Meskipun kita sama – sama dijodohkan, aku tidak ingin berpisah hanya karena keingina orang lain, meskipun aku tidak tahu harus berbuat apa.
Vey terkejut membacanya, dibeberapa bagian kertasnya seperti bekas basah. Membentuk bulatan – bulatan yang sudah mengering. Mungkin bekas tetesan air mata. Vey mengernyitkan dahinya. “Hah? Apa akhirnya sedih? Ah, enggak, enggak, aku gak suka kisah yang berakhir sedih. Mungkin aku harus baca semuanya agar mengerti maksudnya. Ini mungkin milik penghuni sebelumnya.” Vey menutup buku harian itu, dia berpikir sejenak.
“Bukankah papa bilang rumah ini milik teman nenek yang sudah lama gak ditempati. Siapa ya namanya? Kenapa di buku ini gak ada keterangan nama? Apa aku kurang teliti bacanya? Bukankah nama biasanya ada paling depan? Tapi.. di deppan tadi gak ada namanya..” Vey membuka buku itu lagi. Belum sempat Vey membacanya, mama Vey memanggilnya dari bawah.
“Vey, Riko.. cepet ke bawah, makan dulu.” Teriak mamanya. Suara pintu Riko dari sebelah terdengar terbuka. Vey segera meletakkan buku yang dipegangnya di dalam kotak semula. Dia segera menuju pintu untuk memenuhi panggilan mamanya.
Vey melangkah keluar kamar, tapi pikirannya masih melayang, membayangkan beberapa kalimat yang dia baca di lembar – lembar tadi. Mungkin kotak itu berisi kisah kehidupan pemilik rumah ini sebelumnya. Pikiran Vey masih saja terikat pada kotak lusuh itu meskipun mulutnya sudah mulai mengunyah makanan yang disiapkan mamanya.
Share:

11 November 2013

Lagu yang sering aku putar :D

Lirik lagu Tangga Cinta Tak Mungkin Berhenti

Tak ada kisah tentang cinta
Yang bisa terhindar dari air mata
Namun ku coba menerima, hatiku membuka
Siap untuk terluka

Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti
Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati

Walau seharusnya bisa saja dulu aku menghindar
Dari pahitnya cinta
Namun ku pilih begini, biar ku terima
Sakit demi jalani cinta (cinta)

Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga (sehingga) hidupku (hidupku) pun berarti
Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati

Hanya kamu yang bisa (…)
Bisa membuatku rela (rela menjalani segalanya)
Rela menangis karenamu (ku rela ku rela …)

Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti
Cinta tak mudah berganti (cinta tak mungkin berhenti)
Tak mudah berganti jadi benci (tak mudah untuk berganti)
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati
Biar ku pergi sembuhkan hati


#kalau mau download Klik Disini
Share:

08 November 2013

Lagu yang lagi hangat-hangatnya ditelingaku :D

Lirik lagu Naff Kau Masih Kekasihku
jauh di lubuk hatiku
masih terukir namamu
jauh di dasar jiwaku
engkau masih kekasihku

tak bisa ku tahan laju alir
untuk semua kenangan yang berlalu
hembuskan sepi
merobek hati

meski raga ini tak lagi milikmu
namun di dalam hatiku sungguh engkau

hidup
entah sampai kapan
ku tahankan rasa cinta ini

jauh di lubuk hatiku
masih terukir namamu
jauh di dasar jiwaku
engkau masih kekasihku

dan ku berharap semua ini
bukan kekeliruan seperti yang kukira
seumur hidupku
akan menjadi doa untukmu

jauh di lubuk hatiku
masih terukir namamu
jauh di dasar jiwaku
engkau masih kekasihku

andai saja waktu bisa terulang kembali
akan kuserahkan hidupku di sisimu
namun ku tahu itu takkan mungkin

terjadi
rasa ini menyiksaku
sungguh sungguh menyiksaku

jauh di lubuk hatiku
masih terukir namamu
jauh di dasar jiwaku
engkau masih kekasihku


#Kalo pengen download lagunya klik disini
Share:

"50 PENA CINTA" part 1


BAGIAN 1
“Suasana Baru”
Embun pagi membentuk bulatan - bulatan kecil di atas daun, menetes setelah terkumpul menjadi satu. Matahari mulai menunjukkan pesonanya, menyinari butiran - butiran embun yang tersebar diseluruh dedaunan yang menghijau. Embun itu berkilau bak permata, bening bak berlian. Seperti perhiasan alam yang menghiasi setiap tanaman yang mengakar.
Pohon yang menjulang menyambut suara alam yang terdengar di sela – sela gemersik daun yang tertiup angin pagi. Dahannya bergoyang lembut ke kanan dan kiri menuruti perintah alam yang disampaikan oleh hembusan angin. Beberapa burung yang bertengger di dahan terdengar seperti menyenandungkan lagu - lagu indah untuk pagi yang cerah.
Vey baru saja tiba di rumah barunya, rumah kuno yang dibeli keluarganya dari teman neneknya, memang sudah terlihat tua dan kusam, tetapi jika dipoles sedikit dengan cat yang cerah akan berubah menjadi rumah yang sungguh indah. Beberapa perabot yang masih tersisa di dalamnya terselimuti oleh kain - kain putih yang sudah lusuh, sarang laba - laba yang menggantung disegala penjuru rumah membuatnya terlihat seperti rumah hantu. Sepertinya rumah ini sudah lama sekali tidak ditempati. Pemiliknya pun sepertinya juga tidak peduli dengan barang - barang yang ada di rumah itu. Dia menjual rumah kuno tersebut beserta perabot rumahnya.
Vey meletakkan beberapa barang bawaannya di ruang tengah, kemudian kembali lagi keluar untuk mengambil barang - barang yang masih tersisa di mobil. Papa dan mamanya menyeret koper - koper berisi baju - baju. “Ma, sepertinya kita bakal kerja keras sebentar lagi.” Kata Vey sambil tersenyum melewati papa dan mamanya yang sedang menggeret koper – koper besar milik mereka menuju ruang tengah.
Rumah yang baru dibeli oleh keluarga Vey berada jauh dari pusat kota, pedesaan tepatnya, tetapi mungkin dulu pemilik rumah ini adalah orang kaya di desa, karena model rumah tersebut bukan seperti model rumah orang - orang desa di sekitarnya, lebih terlihat berkelas, lebih besar, dan lebih bagus pengaturan tempatnya. Halamannya luas, taman yang dilengkapi dengan air mancur di tengahnya tampak lebar membentang di depan rumah. Mungkin bila diumpamakan, model rumah tersebut sama seperti model rumah para bangsawan kuno.
Vey pindah ke rumah itu hanya untuk beberapa tahun saja sampai proyek bisnis papanya dapat rampung diselesaikan. Sebenarnya, menyewa saja sudah cukup, tapi melihat lokasi yang begitu indah untuk dijadikan tempat bersantai dan tempat wisata dihari tua , akhirnya keluarga mereka berpikir dua kali. Lebih baik membelinya daripada menyewanya. Kalau dibeli dan sudah menjadi milik diri, nantinya bisa dijadikan rumah singgah waktu liburan berlangsung. Begitu pikir mereka.
Posisi rumah tersebut begitu terpelosok. Dikelilingi oleh sawah dan beberapa kebun yang menghijau. Pemandangannya begitu indah, menyejukkan, melegakan rasa dan mampu menenangkan jiwa yang sedang galau.  Itu adalah salah satu alasan Vey dan Kakaknya, Riko, menyetujui rumah itu untuk dibeli.
Barang - barang bawaan mereka sudah terkumpul di ruang tengah. Mata Vey masih saja mengitari setiap sudut di ruangan itu. Tampaknya kejadian itu di perhatikan oleh papanya sejak tadi. “Kenapa Vey? Gak suka rumahnya?”
“Hah? Nggak kok, Pa. Vey suka. Tapi sepertinya perlu dipoles lagi, biar gak kelihatan tua - tua banget.” Kata Vey sambil berkacak pinggang. Matanya masih saja menelusuri setiap baris tembok yang berjajar menyusun rumah itu. “Pa, kita perlu ke kota dulu, buat beli cat dan beberapa perkakas lainnya.”
“Iya, besok saja. Sekarang kita bereskan barang - barang kita dulu. Sekalian bersihkan debu - debu dan sarang laba - laba.”
“Siap, Pa! Vey laksanakan.” Kata Vey dengan semangat, tangannya menghormat bibirnya menyungging, tersenyum. tiba – tiba dari belakang terdengar suatu keributan yang mengejutkan Vey dan papanya. Mama Vey muncul dengan berlari - lari dari belakang, arah dapur, wajahnya begitu ketakutan. Vey mengernyitkan dahinya. Hantu? Apa hantu? Masak beneran ada hantu kalau rumah lama gak ditempati?. Pikiran Vey melayang kemana - mana.
“Ada apa, Ma?” Tanya papa Vey dengan cemas. “I.. i.. itu, Pa. ada kecoak di dapur. Iiiiiiiih….. ya ampun.. ya ampun.. Mama jijik lihatnya. Papa cepet bersihin dapur aja, biar Mama sama Vey bagian sini aja bersihinnya.” Mama Vey menggerutu tanpa henti. “Pantes aja dijual murah. Orang rumahnya udah kayak gak layak huni. Kotor, kayak rumah hantu. Papa kok bisa milih rumah ini sih!”
Vey dan papanya saling pandang, mereka tersenyum melihat tingkah mamanya yang begitu tiba - tiba. “Di desa ini  gak ada lagi rumah yang dijual, Ma. Dan kebetulan temen Ibu ada yang punya rumah gak ditempati ini. Murah lagi, bukannya kemarin Mama udah setuju?” kata papa Vey dengan lembut.
“I.. i.. iya sih, tapi kan.. Mama kira gak kayak gini, Pa.” Mama Vey menggaruk - garuk lengannya. “Ya.. ya sudahlah, Pa. Sana - sana bersihin dapur.” Papa Vey masih saja senyum - senyum sendiri melihat tingkah istrinya. Mama Vey masih saja menggaruk – garuk lengannya yang tadi sempat diloncati kecoak. Kecoaknya memang sudah tidak ada, terbang entah kemana, tapi rasa geli di lengannya masih terasa sampai sekarang.
“Ayo ayo kerja.” Sela Vey sambil cengengesan melihat papa dan mamanya. Papanya melangkah menuju dapur menuruti kata – kata istrinya tadi. Vey dan mamanya mulai membersihkan ruangan demi  ruangan yang dipenuhi oleh debu - debu, menyingkap kelambu demi kelambu yang menutupi ruangan itu, kemudian menyapunya dengan perlahan.
“Ma, Vey mau lihat kamar atas ya.. Vey juga mau milih kamar. Katanya sih ada tiga kamar. Vey mau milih sekarang, nanti kalau Kak Riko dateng tinggal ambil kamar sisanya. Hehehe.” Kata Vey dengan semangat.
“Iya, iya sana. Eh? Tunggu, kamu hubungi lagi kakakmu itu. Takutnya dia tersesat. Ini tempatnya ‘kan cukup sulit ditemui.” Mama Vey berkata sambil mengibas - ngibaskan kemucing yang dipegangnya pada sebuah lemari besar.
“Iya, Ma. Kak Riko entar pasti nelepon sendiri kalau udah bingung, jadi gak usah ditelpon. Hahaha.” Vey tertawa sambil melangkah menyusuri anak - anak tangga yang berbaris rapi ke atas menuju lantai dua.
“Hemmm, anak itu. Ada aja bahan buat bikin kakaknya kesel.” Gumam mama Vey, tangannya masih saja bekerja membersihkan lemari besar itu.
Baru saja Vey ingin membuka pintu sebuah kamar, dia tiba - tiba mendengar suara mobil. Telinganya mulai disetel dengan pendengaran yang tajam. Suara seseorang yang dikenalnya kemudian menyusul bunyi mobil tadi. Begitu jelas, dan itu membuatnya khawatir. Dia mendekati pagar lantai melihat ke bawah, ke tengah ruangan tempat mamanya bekerja.
“Mama, Vey mana? Dia udah milih kamar, ya? Di atas ‘kan? Riko gak boleh ketinggalan, Riko harus milih duluan!” Kata Riko sambil berlari menaiki anak - anak tangga yang mengantarnya menuju lantai dua.
“Aaaaaa… Tidaaaaak!!!” Vey tiba - tiba berteriak histeris melihat kakaknya yang datang tiba – tiba pula. Dia segera berbalik badan berusaha mencari kamar yang paling luas untuknya. Dia segera bergerak agar tidak didahului kakaknya.
“Rikooo! Hati - hati! Vey juga jangan rebut!! Ya ampun, kalian ini udah tua - tua tapi masih aja kayak anak kecil rebutan es krim.” Teriak mama Vey dari bawah. Dan sepertinya kedua anak bersaudara itu tidak mendengarkan sedikitpun gerutuan mamanya.
“Gak, Kakak harus masuk duluan. Kakak mau lihat.”
“Gaaaaaak, aaaaa… kakaaaak..” Vey berteriak – teriak tidak jelas, dia berteriak hanya agar kakaknya berhenti berlari mendahuluinya.
Riko masuk lebih dulu menyingkirkan adik perempuan satu - satunya itu. Riko langsung mengecek setiap sudut kamar termasuk kamar mandi dalam. Vey yang tertinggal di belakangnya hanya berusaha menghalangi Riko. Riko langsung keluar kamar dan masuk ke kamar selanjutnya. Vey masih saja berlarian mengejar Riko.
“Kakak jangan maruk doooong..” Riko tidak mendengarkan kata - kata Vey, dia masih saja memeriksa kamar itu. “Wah ini ni, kakak pilih yang ini!” Kata Riko masih dengan semangat mengalahkan adiknya.
“Curaaaaaang. Kenapa Kakak gak ngalah sih ke yang lebih muda!!!” Vey cemberut, mukanya ditekuk  -  tekuk. Riko tertawa puas mengalahkan adiknya.
“Siapa cepat dia dapat! Kita ‘kan udah dapet jatah dua kamar, yang satu kamar utama itu kamarnya papa sama mama, jadi terima aja. Hahahaha” Riko tambah menjadi, perutnya kegelian melihat tingkah Vey yang kesal. Vey berbalik meninggalkan Riko yan sedang berkubang dalam kesenangannya.
“Huh, kurang cepet, kenapa mesti Kak Riko duluan sih yang dapet kamar paling luas.” Vey menggerutu sambil melangkahkan kakinya menuju lantai bawah.
“Loh? Kenapa turun? Udah ributnya?” Goda mama Vey sambil tersenyum melihat Vey yang cemberut.
“Tau ah, Ma. Kak Riko jahat. Dia gak pernah ngalah sama Vey.”
“Vey juga gak pernah ngalah sama Riko, Ma!” Teriak Riko dari atas.
Vey melongokkan kepalanya melihat Riko yang juga melongokkan kepalanya ke bawah. “Apa lihat – lihat? Hahahaha” Kata Riko sambil meledek Vey.
“Mamaaaa… Tu Kak Riko.” Rengek Vey sambil menunjuk Riko yang lagi menggodanya. Papanya keluar dari arah dapur. “Ada apa sih kok ribut – ribut?”
“Biasa, Pa. Vey sama Riko bikin ulah lagi. Rebutan kamar.” Adu mama Vey sambil tersenyum.
“Biarin aja, Pa. Entar mereka juga capek sendiri. Udah biasa seperti itu. Semakin direlai semakin jadi entar.”
Papa Vey mengangguk – angguk. Dia mendekati Vey yang duduk di ruang tengah sambil cemberut. “Kamu kalah ya?” Goda Papa Vey.
“Tau ah, Pa.” Jawab Vey dengan jutek. Hatinya masih merasa kesal dikalahkan untuk kesekian kalinya oleh Riko.
“Kenapa gak kamu lihat dulu gimana kamarnya? Siapa tahu lebih bagus meskipun lebih kecil.” Bujuk papa Vey. Vey mulai mendengarkan papanya, dia beranjak dari duduknya. Kemudian melangkah lagi menuju lantai atas meninggalkan papanya yang masih duduk.
Vey memasuki kamar yang pintunya memang sudah terbuka sejak kejadian rebutan kamar itu terjadi. Dia memasuki kamarnya, melihat setiap sudutnya. Yah, lumayanlah, masih muat banyak juga. Gumam Vey menenangkan diri sendiri. Matanya terus menyusuri ruangan yang kini jadi kamarnya itu.
Dia melangkah mendekati jendela yang lebar, tirainya yang lusuh disingkapnya. Dengan seketika sinar matahari langsung masuk menyinari ruangan itu. Vey menganga, matanya terpaku, tubuhnya membatu.
“I… i.. ini, ini indah bangeet. Ya ampuuuun, pemadangannya…” Vey sambil kehabisan kata - kata. Kamar Vey langsung menghadap pegunungan dan sawah – sawah yang sedang menghijau. Jendela yang begitu lebar itu segera dibukanya. Udara segar khas pedesaan langsung menyerbu memasuki kamarnya menggantikan udara sumpek yang ada di kamar.
Riko melangkah keluar kamarnya melewati kamar Vey. Pintu kamar Vey yang tidak ditutup rapat membuat Riko penasaran, sedang apa adiknya ini. Dia mendorong pintu dengan perlahan. Begitu pintu terbuka seluruhnya, Riko terkejut, dia menganga, matanya terpaku, tubuhnya membatu, sama seperti kejadian pertama kali Vey melihatnya.
“Seperti lukisan nyata.” Kata Riko tanpa disadari.
“Kenapa Kakak ke sini? Kecewa dengan isi kamar ya?? Hahahaha.” Kata Vey sambil nyengir. “Aku mau lihat kamar Kakak, mau lihat jendelanya. Apa kayak punya Vey juga pemandangannya.” Goda Vey, dia segera berlari kecil menuju pintu, tapi langsung ditangkap oleh Riko.
“Jangaaaaan!! Gak boleh!”
“Kenapa?”
“Gak boleh. Kamu bersihin kamarmu aja. Gak usah ngurus kamar orang lain.”
“Hahahaha, pasti jelek aslinya, makanya itu Kakak gak ngebolehin aku lihat. Hahahaha.” Vey membalikkan badannya, dia masuk lagi ke kamarnya.
“Ah, sok tahu!” Riko meninggalkan kamar adiknya. Jelas saja Riko tidak membolehkan Vey melihat kamarnya. Dia tidak mau dibilang kalah, karena pemandangan yang bisa dilihat dari jendelanya hanyalah semak belukar dan rumah – rumah penduduk yang bergenting merah diselingi hitam disetiap baris gentingnya.
Bibir Riko menyudut ke atas, mengejek Vey yang sedang senang karena mendapat bonus pemandangan alam asli dari alamnya sendiri. Tenang, Rik. Kamarmu lebih luas, jangan merasa kalah. Harus tetap optimis. Jangan sampai merasa kalah. Bisik Riko dalam hatinya. Dia menyemangati diri sendiri setelah menyadari apa yang baru saja dia dapatkan. Kegaduhan yang dibuat mereka seketika menghilang. Rumah kuno itu kembali dalam kesunyiannya. Vey dan Riko yang tadi bersitegang hanya karena masalah kamar kini sibuk dengan kamar mereka masing – masing.
Share:

04 November 2013

SINOPSIS "50 PENA CINTA"



SINOPSIS
“50 PENA CINTA”
50 pena milik Raja Kuswantoro dan Mira Laksmina merangkaikan kata demi kata, menciptakan kisah demi kisah, dan menyambungkan rasa demi rasa yang mereka miliki satu sama lain. mereka hanya manusia biasa yang di pertemukan oleh goresan tinta di atas kertas. Cerita ini merupakan cerita sepasang manusia yang memperjuangkan cinta selama 44 tahun lamanya sampai akhirnya mereka dipertemukan dalam sebuah pencarian.
Bermula dari pindahnya keluarga Vey pada sebuah rumah tua yang di belinya dari sahabat neneknya. Pindahnya mereka pada rumah tua tersebut dikarenakan sebuah urusan bisnis yang harus mereka selesaikan di daerah tersebut. Bukan hanya sekedar rumah tua yang terlantar, rumah tua ini menyimpan banyak cerita yang membuat Vey penasaran dengan cerita yang sebenarnya.
Rasa penasaran Vey itu berawal sejak dia menemukannya sebuah kotak yang berisi surat – surat, pena – pena kosong dan sebuah buku harian yang sudah menua. Benda – benda itu menceritakan pada Vey tentang jalan kehidupan pemiliknya, yang tak lain adalah pemilik rumah itu sebelumnya. Mira Laksmina, teman Neneknya yang telah menjual rumah itu pada keluarga Vey.
Lembaran – lembaran surat dan pena - pena tersebut menceritakan kehidupan cinta dan segala lika – likunya yang pernah dihadapi oleh Mira Laksmina. Cinta yang Mira Laksmina rasakan bersama Raja Kuswantoro merupakan cinta yang sulit dipercaya, mereka saling mencintai meskipun jarak membentang memisahkan raga mereka. Bukan hanya itu, mereka juga belum pernah bertemu, tetapi cinta yang mereka rasakan begitu kuat melebihi orang – orang jatuh cinta di tempat yang berdekatan.
Kekuatan cinta mereka mulai diuji dengan berbagai hal yang membuat mereka benar – benar jatuh dalam lubang keputusasaan. Perjodohan yang diatur oleh kedua orang tua mereka membuat hubungan mereka benar – benar mendapat cobaan yang begitu berat. Perpisahan yang tak dinginkan pun terjadi.
44 tahun kemudian, barulah sebuah fakta terungkap tentang kejadian di masa lalu yang mulai membuat Mira Laksmina yang sudah berumur 62 tahun mengingat kembali kejadian yang telah membuatnya kehilangan segalanya. 44 tahun berlalu tapi ingatannya masih kuat mengingat kejadian demi kejadian yang telah dialaminya selama hidupnya itu.
Vey yang merasa penasaran tentang kisah Mira Laksmina dan Raja Kuswantoro. itu segera mencari tahu tentang segala yang berkaitan dengan mereka. Cerita dari neneknya, Nek Ningsih dan cerita dari Nek Mira langsung, sudah membayar rasa penasaran itu. Ketika Nek Mira menceritakan segalanya, keluarlah nasehat – nasehat dari Vey yang membuat Nek Mira bangkit dari keterpurukan masa lalunya.
Pena – pena dan surat – surat yang ada di dalam kotak kehidupan yang Vey temukan di rumahnya itu, dijadikannya sebuah alasan agar Nek Mira bisa kembali seperti dulu. Seperti saat cintanya menggebu – gebu, saat jiwanya benar – benar kuat dalam mempertahankan cinta yang dirasakannya dulu. Pena – pena dan surat – surat itu diingatkannya lagi oleh Vey pada Nek Mira agar bisa membuka hati untuk cintanya yang sudah 44 tahun mengering.
Akhirnya pena ke – 50 milik Raja mengantarkan Nek Mira, Vey dan Riko ke tanah Lombok untuk melakukan suatu pencarian tentang suatu akhir bahagia dalam kisah cinta Mira dan Raja. Berbagai kejadian lucu, menyenangkan, menjengkelkan, dan menyedih kan mereka jalani dengan sabar.
Selama mencari Raja Kuswantoro, cinta lama Nek Mira, Vey juga mengalami berbagai kisah yang membuat hidupnya berubah lebih berwarna, mulai hikmah bersama kakaknya, Riko sampai kisah cinta yang di alaminya sendiri dengan Dirga Dirwan Putra, cucu dari Raja Kuswantoro.
Pertemuan antara Nek Mira dan Kek Raja yang telah dinanti – nanti membuat hubungan Vey dan Dirga mengalami kemunduran. Perbedaan pendapat yang mereka sampaikan membuat segalanya menjadi lebih parah. Ego yang mereka miliki hampir membuat hubungan mereka benar – benar hilang dan tak punya harapan.
Sebuah kesadaran akhirnya muncul saat pernikahan Nek Mira dan Kek Raja di Lombok berlangsung. Pernyataan cinta Dirga di depan umum membuat Vey benar – benar tercengang. Kisah cinta yang berakhir bahagia akhirnya mengakhiri kisah penuh warna ini dengan begitu indah dan penuh makna.
Share: