08 November 2013

"50 PENA CINTA" part 1


BAGIAN 1
“Suasana Baru”
Embun pagi membentuk bulatan - bulatan kecil di atas daun, menetes setelah terkumpul menjadi satu. Matahari mulai menunjukkan pesonanya, menyinari butiran - butiran embun yang tersebar diseluruh dedaunan yang menghijau. Embun itu berkilau bak permata, bening bak berlian. Seperti perhiasan alam yang menghiasi setiap tanaman yang mengakar.
Pohon yang menjulang menyambut suara alam yang terdengar di sela – sela gemersik daun yang tertiup angin pagi. Dahannya bergoyang lembut ke kanan dan kiri menuruti perintah alam yang disampaikan oleh hembusan angin. Beberapa burung yang bertengger di dahan terdengar seperti menyenandungkan lagu - lagu indah untuk pagi yang cerah.
Vey baru saja tiba di rumah barunya, rumah kuno yang dibeli keluarganya dari teman neneknya, memang sudah terlihat tua dan kusam, tetapi jika dipoles sedikit dengan cat yang cerah akan berubah menjadi rumah yang sungguh indah. Beberapa perabot yang masih tersisa di dalamnya terselimuti oleh kain - kain putih yang sudah lusuh, sarang laba - laba yang menggantung disegala penjuru rumah membuatnya terlihat seperti rumah hantu. Sepertinya rumah ini sudah lama sekali tidak ditempati. Pemiliknya pun sepertinya juga tidak peduli dengan barang - barang yang ada di rumah itu. Dia menjual rumah kuno tersebut beserta perabot rumahnya.
Vey meletakkan beberapa barang bawaannya di ruang tengah, kemudian kembali lagi keluar untuk mengambil barang - barang yang masih tersisa di mobil. Papa dan mamanya menyeret koper - koper berisi baju - baju. “Ma, sepertinya kita bakal kerja keras sebentar lagi.” Kata Vey sambil tersenyum melewati papa dan mamanya yang sedang menggeret koper – koper besar milik mereka menuju ruang tengah.
Rumah yang baru dibeli oleh keluarga Vey berada jauh dari pusat kota, pedesaan tepatnya, tetapi mungkin dulu pemilik rumah ini adalah orang kaya di desa, karena model rumah tersebut bukan seperti model rumah orang - orang desa di sekitarnya, lebih terlihat berkelas, lebih besar, dan lebih bagus pengaturan tempatnya. Halamannya luas, taman yang dilengkapi dengan air mancur di tengahnya tampak lebar membentang di depan rumah. Mungkin bila diumpamakan, model rumah tersebut sama seperti model rumah para bangsawan kuno.
Vey pindah ke rumah itu hanya untuk beberapa tahun saja sampai proyek bisnis papanya dapat rampung diselesaikan. Sebenarnya, menyewa saja sudah cukup, tapi melihat lokasi yang begitu indah untuk dijadikan tempat bersantai dan tempat wisata dihari tua , akhirnya keluarga mereka berpikir dua kali. Lebih baik membelinya daripada menyewanya. Kalau dibeli dan sudah menjadi milik diri, nantinya bisa dijadikan rumah singgah waktu liburan berlangsung. Begitu pikir mereka.
Posisi rumah tersebut begitu terpelosok. Dikelilingi oleh sawah dan beberapa kebun yang menghijau. Pemandangannya begitu indah, menyejukkan, melegakan rasa dan mampu menenangkan jiwa yang sedang galau.  Itu adalah salah satu alasan Vey dan Kakaknya, Riko, menyetujui rumah itu untuk dibeli.
Barang - barang bawaan mereka sudah terkumpul di ruang tengah. Mata Vey masih saja mengitari setiap sudut di ruangan itu. Tampaknya kejadian itu di perhatikan oleh papanya sejak tadi. “Kenapa Vey? Gak suka rumahnya?”
“Hah? Nggak kok, Pa. Vey suka. Tapi sepertinya perlu dipoles lagi, biar gak kelihatan tua - tua banget.” Kata Vey sambil berkacak pinggang. Matanya masih saja menelusuri setiap baris tembok yang berjajar menyusun rumah itu. “Pa, kita perlu ke kota dulu, buat beli cat dan beberapa perkakas lainnya.”
“Iya, besok saja. Sekarang kita bereskan barang - barang kita dulu. Sekalian bersihkan debu - debu dan sarang laba - laba.”
“Siap, Pa! Vey laksanakan.” Kata Vey dengan semangat, tangannya menghormat bibirnya menyungging, tersenyum. tiba – tiba dari belakang terdengar suatu keributan yang mengejutkan Vey dan papanya. Mama Vey muncul dengan berlari - lari dari belakang, arah dapur, wajahnya begitu ketakutan. Vey mengernyitkan dahinya. Hantu? Apa hantu? Masak beneran ada hantu kalau rumah lama gak ditempati?. Pikiran Vey melayang kemana - mana.
“Ada apa, Ma?” Tanya papa Vey dengan cemas. “I.. i.. itu, Pa. ada kecoak di dapur. Iiiiiiiih….. ya ampun.. ya ampun.. Mama jijik lihatnya. Papa cepet bersihin dapur aja, biar Mama sama Vey bagian sini aja bersihinnya.” Mama Vey menggerutu tanpa henti. “Pantes aja dijual murah. Orang rumahnya udah kayak gak layak huni. Kotor, kayak rumah hantu. Papa kok bisa milih rumah ini sih!”
Vey dan papanya saling pandang, mereka tersenyum melihat tingkah mamanya yang begitu tiba - tiba. “Di desa ini  gak ada lagi rumah yang dijual, Ma. Dan kebetulan temen Ibu ada yang punya rumah gak ditempati ini. Murah lagi, bukannya kemarin Mama udah setuju?” kata papa Vey dengan lembut.
“I.. i.. iya sih, tapi kan.. Mama kira gak kayak gini, Pa.” Mama Vey menggaruk - garuk lengannya. “Ya.. ya sudahlah, Pa. Sana - sana bersihin dapur.” Papa Vey masih saja senyum - senyum sendiri melihat tingkah istrinya. Mama Vey masih saja menggaruk – garuk lengannya yang tadi sempat diloncati kecoak. Kecoaknya memang sudah tidak ada, terbang entah kemana, tapi rasa geli di lengannya masih terasa sampai sekarang.
“Ayo ayo kerja.” Sela Vey sambil cengengesan melihat papa dan mamanya. Papanya melangkah menuju dapur menuruti kata – kata istrinya tadi. Vey dan mamanya mulai membersihkan ruangan demi  ruangan yang dipenuhi oleh debu - debu, menyingkap kelambu demi kelambu yang menutupi ruangan itu, kemudian menyapunya dengan perlahan.
“Ma, Vey mau lihat kamar atas ya.. Vey juga mau milih kamar. Katanya sih ada tiga kamar. Vey mau milih sekarang, nanti kalau Kak Riko dateng tinggal ambil kamar sisanya. Hehehe.” Kata Vey dengan semangat.
“Iya, iya sana. Eh? Tunggu, kamu hubungi lagi kakakmu itu. Takutnya dia tersesat. Ini tempatnya ‘kan cukup sulit ditemui.” Mama Vey berkata sambil mengibas - ngibaskan kemucing yang dipegangnya pada sebuah lemari besar.
“Iya, Ma. Kak Riko entar pasti nelepon sendiri kalau udah bingung, jadi gak usah ditelpon. Hahaha.” Vey tertawa sambil melangkah menyusuri anak - anak tangga yang berbaris rapi ke atas menuju lantai dua.
“Hemmm, anak itu. Ada aja bahan buat bikin kakaknya kesel.” Gumam mama Vey, tangannya masih saja bekerja membersihkan lemari besar itu.
Baru saja Vey ingin membuka pintu sebuah kamar, dia tiba - tiba mendengar suara mobil. Telinganya mulai disetel dengan pendengaran yang tajam. Suara seseorang yang dikenalnya kemudian menyusul bunyi mobil tadi. Begitu jelas, dan itu membuatnya khawatir. Dia mendekati pagar lantai melihat ke bawah, ke tengah ruangan tempat mamanya bekerja.
“Mama, Vey mana? Dia udah milih kamar, ya? Di atas ‘kan? Riko gak boleh ketinggalan, Riko harus milih duluan!” Kata Riko sambil berlari menaiki anak - anak tangga yang mengantarnya menuju lantai dua.
“Aaaaaa… Tidaaaaak!!!” Vey tiba - tiba berteriak histeris melihat kakaknya yang datang tiba – tiba pula. Dia segera berbalik badan berusaha mencari kamar yang paling luas untuknya. Dia segera bergerak agar tidak didahului kakaknya.
“Rikooo! Hati - hati! Vey juga jangan rebut!! Ya ampun, kalian ini udah tua - tua tapi masih aja kayak anak kecil rebutan es krim.” Teriak mama Vey dari bawah. Dan sepertinya kedua anak bersaudara itu tidak mendengarkan sedikitpun gerutuan mamanya.
“Gak, Kakak harus masuk duluan. Kakak mau lihat.”
“Gaaaaaak, aaaaa… kakaaaak..” Vey berteriak – teriak tidak jelas, dia berteriak hanya agar kakaknya berhenti berlari mendahuluinya.
Riko masuk lebih dulu menyingkirkan adik perempuan satu - satunya itu. Riko langsung mengecek setiap sudut kamar termasuk kamar mandi dalam. Vey yang tertinggal di belakangnya hanya berusaha menghalangi Riko. Riko langsung keluar kamar dan masuk ke kamar selanjutnya. Vey masih saja berlarian mengejar Riko.
“Kakak jangan maruk doooong..” Riko tidak mendengarkan kata - kata Vey, dia masih saja memeriksa kamar itu. “Wah ini ni, kakak pilih yang ini!” Kata Riko masih dengan semangat mengalahkan adiknya.
“Curaaaaaang. Kenapa Kakak gak ngalah sih ke yang lebih muda!!!” Vey cemberut, mukanya ditekuk  -  tekuk. Riko tertawa puas mengalahkan adiknya.
“Siapa cepat dia dapat! Kita ‘kan udah dapet jatah dua kamar, yang satu kamar utama itu kamarnya papa sama mama, jadi terima aja. Hahahaha” Riko tambah menjadi, perutnya kegelian melihat tingkah Vey yang kesal. Vey berbalik meninggalkan Riko yan sedang berkubang dalam kesenangannya.
“Huh, kurang cepet, kenapa mesti Kak Riko duluan sih yang dapet kamar paling luas.” Vey menggerutu sambil melangkahkan kakinya menuju lantai bawah.
“Loh? Kenapa turun? Udah ributnya?” Goda mama Vey sambil tersenyum melihat Vey yang cemberut.
“Tau ah, Ma. Kak Riko jahat. Dia gak pernah ngalah sama Vey.”
“Vey juga gak pernah ngalah sama Riko, Ma!” Teriak Riko dari atas.
Vey melongokkan kepalanya melihat Riko yang juga melongokkan kepalanya ke bawah. “Apa lihat – lihat? Hahahaha” Kata Riko sambil meledek Vey.
“Mamaaaa… Tu Kak Riko.” Rengek Vey sambil menunjuk Riko yang lagi menggodanya. Papanya keluar dari arah dapur. “Ada apa sih kok ribut – ribut?”
“Biasa, Pa. Vey sama Riko bikin ulah lagi. Rebutan kamar.” Adu mama Vey sambil tersenyum.
“Biarin aja, Pa. Entar mereka juga capek sendiri. Udah biasa seperti itu. Semakin direlai semakin jadi entar.”
Papa Vey mengangguk – angguk. Dia mendekati Vey yang duduk di ruang tengah sambil cemberut. “Kamu kalah ya?” Goda Papa Vey.
“Tau ah, Pa.” Jawab Vey dengan jutek. Hatinya masih merasa kesal dikalahkan untuk kesekian kalinya oleh Riko.
“Kenapa gak kamu lihat dulu gimana kamarnya? Siapa tahu lebih bagus meskipun lebih kecil.” Bujuk papa Vey. Vey mulai mendengarkan papanya, dia beranjak dari duduknya. Kemudian melangkah lagi menuju lantai atas meninggalkan papanya yang masih duduk.
Vey memasuki kamar yang pintunya memang sudah terbuka sejak kejadian rebutan kamar itu terjadi. Dia memasuki kamarnya, melihat setiap sudutnya. Yah, lumayanlah, masih muat banyak juga. Gumam Vey menenangkan diri sendiri. Matanya terus menyusuri ruangan yang kini jadi kamarnya itu.
Dia melangkah mendekati jendela yang lebar, tirainya yang lusuh disingkapnya. Dengan seketika sinar matahari langsung masuk menyinari ruangan itu. Vey menganga, matanya terpaku, tubuhnya membatu.
“I… i.. ini, ini indah bangeet. Ya ampuuuun, pemadangannya…” Vey sambil kehabisan kata - kata. Kamar Vey langsung menghadap pegunungan dan sawah – sawah yang sedang menghijau. Jendela yang begitu lebar itu segera dibukanya. Udara segar khas pedesaan langsung menyerbu memasuki kamarnya menggantikan udara sumpek yang ada di kamar.
Riko melangkah keluar kamarnya melewati kamar Vey. Pintu kamar Vey yang tidak ditutup rapat membuat Riko penasaran, sedang apa adiknya ini. Dia mendorong pintu dengan perlahan. Begitu pintu terbuka seluruhnya, Riko terkejut, dia menganga, matanya terpaku, tubuhnya membatu, sama seperti kejadian pertama kali Vey melihatnya.
“Seperti lukisan nyata.” Kata Riko tanpa disadari.
“Kenapa Kakak ke sini? Kecewa dengan isi kamar ya?? Hahahaha.” Kata Vey sambil nyengir. “Aku mau lihat kamar Kakak, mau lihat jendelanya. Apa kayak punya Vey juga pemandangannya.” Goda Vey, dia segera berlari kecil menuju pintu, tapi langsung ditangkap oleh Riko.
“Jangaaaaan!! Gak boleh!”
“Kenapa?”
“Gak boleh. Kamu bersihin kamarmu aja. Gak usah ngurus kamar orang lain.”
“Hahahaha, pasti jelek aslinya, makanya itu Kakak gak ngebolehin aku lihat. Hahahaha.” Vey membalikkan badannya, dia masuk lagi ke kamarnya.
“Ah, sok tahu!” Riko meninggalkan kamar adiknya. Jelas saja Riko tidak membolehkan Vey melihat kamarnya. Dia tidak mau dibilang kalah, karena pemandangan yang bisa dilihat dari jendelanya hanyalah semak belukar dan rumah – rumah penduduk yang bergenting merah diselingi hitam disetiap baris gentingnya.
Bibir Riko menyudut ke atas, mengejek Vey yang sedang senang karena mendapat bonus pemandangan alam asli dari alamnya sendiri. Tenang, Rik. Kamarmu lebih luas, jangan merasa kalah. Harus tetap optimis. Jangan sampai merasa kalah. Bisik Riko dalam hatinya. Dia menyemangati diri sendiri setelah menyadari apa yang baru saja dia dapatkan. Kegaduhan yang dibuat mereka seketika menghilang. Rumah kuno itu kembali dalam kesunyiannya. Vey dan Riko yang tadi bersitegang hanya karena masalah kamar kini sibuk dengan kamar mereka masing – masing.
Share:

1 komentar: