12 Januari 2014

"50 PENA CINTA" PART 15



BAGIAN 15
“Pulangnya Vey dan Riko”
Pagi yang cerah tidak membuat hati Vey ceria. Dia masih murung sama seperti kemarin setelah percakapan singkatnya dengan Dirga. Sekarang Vey benar – benar merasa bersalah. Telepon dan pesan singkatnya tidak mendapat balasan dari Dirga. Niatnya untuk meminta maaf karena sudah keterlaluan membuat Dirga merasa bersalah masih belum dapat terlaksana juga. Vey bingung bagaimana cara menemui Dirga. Dia benar – benar kehilangan Dirga. Hubungan melalui telepon tidak mendapat tanggapan, Dirga juga tidak di hotel, dan menurut Kek Raja, Dirga juga tidak pulang ke rumah. Jadi dimana Dirga?
Vey sudah hampir kehabisan waktu. Besok pagi dia dan Riko akan kembali ke Bogor. Nek Mira akan tetap di Lombok sampai hari pernikahannya dengan Kek Raja terlaksana. Vey dan Riko akan kembali lagi ke Lombok pada waktu pernikahan tersebut. Bukan hanya mereka nantinya yang akan datang, Nek Ningsih, mama dan papa Vey juga akan ikut ke Lombok untuk menghadiri pernikahan Nek Mira dan Kek Raja.
Pernikahan Nek Mira dan Kek Raja akan di adakan dua minggu lagi di hotel tersebut. Selama dua minggu itulah Vey dan Riko pulang untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang belum rampung karena tertunda oleh perjalanan mereka ke Lombok.
“Murung amat wajahmu, Vey!” Kata Riko ketika ada di sebuah toko oleh – oleh khas Lombok bersama Ramon.
“Lagi gak mood tu, Rik. Biasa kalau masalah hati memang datangnya gak milih waktu. Hehehe.” Ledek Ramon yang ada di sebelah Vey. Vey melirik Ramon. “Iih, sok tahu.” Sahut Vey ketus. “Judes banget. Tak kasi tahu Dirga lo ya..” Ramon semakin menggoda Vey.
“Eh? Kamu tahu Dirga dimana?” Tanya Vey kaget mendengar kata – kata Ramon.
“Yaiyalah tahu. Dirga ‘kan nginep di rumahku yang gak ditempati. Rumahku dulu, tapi udah jarang aku tempati. Tapi suasananya bagus, deket pantai. Bisa menjernihkan pikiran kalau lagi suntuk. Olehkarena itu Dirga izin untuk tinggal beberapa hari di sana. Kamu gak tahu? Yaaah, aku kira sudah tahu.” Jelas Ramon pada Vey.
Vey langsung menarik lengan Riko dan Ramon keluar toko. Riko dan Ramon hanya terheran – heran melihat tingkah Vey yang tiba – tiba. “Ada apaan sih, Vey? Kenapa narik – narik gini?” Tanya Riko setelah sampai di luar toko.
“Antarkan aku ke Dirga!” Kata Vey singkat.
“Loh? Katanya mau jalan – jalan?” Tanya Riko.
“Sudahlah turuti aja orang yang lagi kasmaran.” Ledek Ramon.
“Cepetaaaaaan.” Teriak Vey yang sudah ada di dalam mobil terlebih dahulu.
Mobil Ramon melaju kencang menuju pantai kuta. Pantai dimana rumah Ramon berada. Selama perjalanan, Vey hanya terdiam memikirkan bagaimana cara untuk berbicara dengan benar di hadapan Dirga. Dia tidak ingin melakukan kesalahan lagi. Sesekali Ramon dan Riko menggodanya tentang hubungannya dengan Dirga. Tapi Vey tidak begitu memperhatikan, dia terlalu sibuk pada lamunannya tentang Dirga.
Beberapa saat kemudian, mobil Ramon memasuki sebuah pekarangan rumah. Rumah itu tidak begitu besar. Bisa dibilang rumah itu begitu sederhana, tetapi indah. Halamannya terawat, banyak bunga dan tanaman hiasan yang tumbuh di halaman tersebut. Kalau masalah rumah, meskipun jarang ditempati tapi kebersihannya masih terjaga.
Angin yang menghembus setiap waktu dari arah pantai membuat rumah itu begitu sejuk dirasa. Ramon, Riko, dan Vey turun dari mobil. Mereka melangkah mendekati pintu rumah. Vey mulai terheran – heran. Tidak ada mobil Dirga di halaman rumah, apa benar Dirga ada di rumah ini?
“Ramon.. apa benar Dirga di sini? Kok gak ada mobilnya?” Tanya Vey penasaran.
“Mobilnya mungkin sudah dibawa pulang sama Pak Santo, sopir Dirga itu. Dirga ‘kan kalau kemana – mana lebih sering di antar jemput sopir.” Jawab Ramon. Mereka sudah sampai di depan pintu. Ramon mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak ada jawaban yang terdengar.
“Ramon… kemana Dirga?” Rengek Vey, dia sudah mulai tidak sabar menunggu tanggapan dari ketukan tersebut.
“Oh, mungkih Dirga di bagian belakang rumah. Disana ada tempat nyantai yang langsung mengarah ke pantai. Mungkin Dirga lagi bersantai di sana. Ayo ikut aku ke belakang.” Riko dan Vey mengikuti langkah Ramon. Mereka melewati jalan samping rumah menuju kebelakang rumah. Dan benar kata Ramon, Dirga sedang duduk bersantai sambil mendengarkan lagu dengan headsheet di telinganya.
“Benar ‘kan? Itu Dirga. Sana kamu aja yang nyamperin. Kita jadi penonton aja dari jauh.” Kata Ramon sambil mendorong tubuh Vey maju. Vey melangkah mendekati Dirga. Jantungnya kali ini benar – benar berdebar – debar tak terkontrol. Sesekali dia mengambil nafas panjang agar tidak terlihat terlalu gugup di hadapan Dirga nanti.
Vey terus mendekat, dan berhenti di samping tempat Dirga duduk. Mulutnya terkunci. Dia bingung kata apa yang harus lebih dulu keluar dari mulutnya. Dirga yang tersadar ada orang di sampingnya segera menoleh dan melepas headsheet-nya.
“Vey?” Dirga terkejut melihat Vey yang berdiri di hadapannya.
“Dirga, aku…” kata – kata Vey terputus, dia masih gugup. Dirga yang tadinya duduk sekarang berdiri tepat di depan Vey. “Aku minta maaf atas kejadian kemarin.”
“Minta maaf? Bukan kamu yang salah, tapi aku.” Kata Dirga singkat.
“Aku juga salah, maaf sudah membuatmu mengambil keputusan yang salah, maaf juga sudah membuatmu merasa begitu bersalah. Aku tidak pernah bermaksud untuk membuatmu kepikiran seperti ini.”
“Bukan kamu yang salah. Aku tinggal di sini bukan karena kepikiran tentang masalah kemarin, aku hanya ingin menenangkan pikiran saja.” Kata Dirga, ekspresinya begitu datar, mungkin masih ada rasa kesal di hatinya. “Sekarang kembalilah ke hotel. Jangan khawatir tentang masalah salah menyalahkan ini. Itu sudah selesai. Jangan dibahas lagi.” Setelah mengatakan kata – kata itu, Dirga melangkah untuk meninggalkan Vey.
“Aku bukan khawatir karena masalah salah menyalahkan ini.” Kata Vey tiba – tiba, kata – katanya membuat Dirga berhenti melangkah. Kini Vey ada di belakangnya. Meskipun Dirga menghentikan langkahnya, dia tidak membalikkan badan pada Vey. Vey memandang punggung Dirga. Aku ke sini cuma ingin bilang aku suka kamu, Dir. Bisik Vey dalam hati. Tapi mulutnya terkunci. Egonya mengalahkan segala yang ada di hatinya. “Aku hanya tidak ingin meninggalkan kesan buruk selama aku tinggal di Lombok ini. Besok aku pulang ke Bogor. Syukurlah kamu sudah menganggap masalah salah menyalahkan ini selesai sebelum aku pulang.” Lanjut Vey. Kata yang dikeluarkannya tidak sesuai dengan apa yang ada di hatinya.
Dirga sedikit kaget mendengar bahwa Vey akan pulang besok ke Bogor. Dia ingin berbalik, tapi sepertinya rasa gengsi masih menguasainya. Dirge masih terdiam di tempatnya. “Terima kasih atas semuanya.” Kata Vey, kemudian dia mendahului tempat Dirga berhenti tadi. Ingin sekali Dirga mengejar dan memeluk Vey dari belakang. Tapi kakinya terpaku.
Vey yang melangkah menjauhi Dirga begitu sesak dadanya. Kenapa dia tidak mengejarku? Apa dia rela aku pergi dengan cara seperti ini? Gumam Vey dalam hati. Mereka sama – sama suka. Hati mereka sama – sama saling memanggil, tapi ego mereka mampu mengalahkan hati nurani yang suci.
***
Malam yang sunyi membuat Vey melangkahkan kakinya di lorong – lorong kamar hotel tanpa tujuan. Kakinya terus melangkah mengikuti irama hatinya yang sedang kacau. Besok dia akan kembali ke tanah kelahirannya, Bogor. Seharusnya hal tersebut membuatnya senang karena bisa bertemu dengan kedua orang tuanya lagi, tapi malam itu suasananya membuat Vey tidak ingin pulang.
Vey merindukan Dirga. Merindukan saat – saat ketika mereka masih bisa bertemu, meskipun setiap pertemuannya selalu diisi dengan keributan. Tapi itulah yang membuat Vey rindu pada Dirga. Langkah Vey berhenti pada di pinggir kolam tempat pertemuan Nek Mira dan Kek Raja. Dia menghela nafas panjang. Pikirannya melayang mencari hal yang dicari – carinya.
Vey duduk di sebuah bangku pinggir kolam. Disandarkannya leher pada sandaran kursi, kepalanya menengadah ke atas. Matanya kini mengarah pada bintang yang bertaburan menghiasi malam yang sunyi. Vey mengambil ponsel pintarnya di saku baju. Dia membuka aplikasi catatan. Sebuah lembar kosong terpampang di hadapannya. Tangannya mulai menekan beberapa tombol untuk menghasilkan kesatuan kata padu.
Pena Kek Raja yang ke – 50 mengantarku bertemu dengan sosok manusia sepertinya. Manusia yang bukan seperti tipeku, tapi dia mampu membuatku merindukannya. Manusia yang bukan seperti Kak Riko, tapi dia mampu membuatku melamunkannya.
Aku ke tanah Lombok ini berniat untuk mencarikan cinta Nek Mira yang telah lama hilang. Tapi aku sendiri malah menemukan cinta yang tak tentu jawabannya. Apa yang harus aku lakukan? Aku akan pulang besok pagi. Tapi sampai sekarang, aku masih belum mendapatkan jawaban tentang cintaku ini.
Aku bingung harus mulai berpikir darimana untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaanku sendiri. Apa aku benar – benar menyukai Dirga? Tapi kenapa sulit mengatakannya?
 Vey berhenti mengetik. Dia menghela nafas panjang. Pikirannya sekarang penuh pertanyaan yang belum mampu dijawabnya sendiri. “Apa aku benar – benar suka Dirga ya?” Vey menggaruk – garuk kepalanya. Kalau sudah merasakan sendiri yang namanya cinta, baru terasa bimbang dan gelisahnya. Biasanya mampu menasehati orang tentang cinta, tapi ketika diri sendiri mengalaminya, satu nasehat pun tak keluar dari hatinya. Itu yang dirasakan Vey saat ini.
“Dirgaaaa… aku rindu.” Kata Vey. “Dirga pasti rindu juga padamu, Vey.” Tiba – tiba suara Kek Raja muncul dari belakang Vey. Vey benar – benar kaget bercampur malu. Dia menoleh pada Kek Raja. Ya itu benar Kek Raja. “Kakek? Loh? Kakek gak pulang?”
“Kakek nginep di hotel, Vey. Di rumah sepi. Dirga yang biasanya nemenin Kakek sekarang lagi minggat entah kemana.” Vey berdiri untuk mendorong kursi roda Kek Raja. Setelah ada di samping tempat duduknya tadi, Vey kembali duduk di kursi.
“Kakek ngapain malam – malam gini keluar?”
“Kakek Cuma pengen cari udara segar aja. Kamu sendiri?”
“Ya sama, Kek. Cari udara segar.”
“Sekalian melepas galau ya?” Goda Kek Raja. Vey tersenyum mendengar kata – kata Kek Raja. “Kakek memang sudah tua, Vey. Tapi Kakek masih peka melihat orang yang lagi jatuh cinta.” Kek Raja tersenyum melihat wajah Vey yang mulai merona merah. “Dirga orangnya kalau sudah mencintai seseorang pasti akan menjaganya dengan sepenuh hati, contohnya Kakek. Kakek hanyalah Kakek sepupunya. Tapi dia benar – benar menyayangi kakek, dan karena sayang itu dia benar – benar menjaga Kakek sampai – sampai kamu salah paham dengan dia kemarin tentang masalah sembunyi –sembunyian itu.” Kek Raja tersenyum. Vey merasa bersalah, “Maafin Vey, Kek.”
“Gak ada yang salah, Vey. Dirga dan kamu itu cuma salah paham.”
“Iya, Kek. Tapi sepertinya Dirga benar – benar marah sama Vey. Vey jadi bingung sendiri gimana caranya biar dia mau nanggepin Vey lagi.”
“Berikan dia waktu, Vey. Jangan mendesaknya lagi dalam mengambil keputusan. Kamu suka dia ‘kan?”
“Hah? Emmm.” Vey menggaruk – garuk kepalanya. “Apa benar Vey suka, Kek?” tanya Vey. Vey berbalik tanya pada Kek Raja. Dia bingung harus menjawab apa.
“Kamu bingung dengan perasaanmu sendiri?” Vey mengangguk. “Memangnya apa yang kamu rasakan sekarang Vey? Apa kamu memikirkan Dirga?”
“Lebih dari itu, Kek. Aku benar – benar merindukannya. Kalau sudah inget dia pikiran jadi gelisah sendiri, pengen ketemu tapi kondisi tak memungkinkan.”
“Kamu mulai memasuki tahap pertama cinta, Vey.”
“Oh? Begitu ya, Kek? Terus aku harus gimana? Aku kayaknya gak bisa apa – apa, Kek. Besok sudah pulang ke Bogor. Gak mungkin punya waktu untuk mengungkapkan atau berbicara lagi sama Dirga.” Vey menunduk, dia kebingungan sendiri.
“Biarkan itu mengalir seperti air di sungai, Vey. Jangan kamu paksakan. Kalau sudah waktunya nanti kamu pasti punya kesempatan untuk berbicara dan mengungkapkan rasa yang kamu rasakan. Sekarang kondisi sedang memanas. Beri waktu untuk hati kalian merindu satu sama lain. Dan waktu itulah waktu yang tepat untuk kalian berbagi satu sama lain. Dua minggu lagi kamu ‘kan kesini lagi, mungkin itu kesempatan keduamu untuk berbicara dengan Dirga.”
“Jadi Vey harus…”
“Jadi kamu harus menunggu waktu yang tepat. Jangan paksakan disaat yang tidak memungkinkan seperti sekarang ini. Kalau sudah jodoh ‘kan gak mungkin kemana, Vey.”
“Tapi bukankah cinta butuh perjuangan dan pengorbanan, Kek?”
“Betul. Ini perjuanganmu untuk bertahan meskipun jarak berjauhan. Ini juga pengorbanananmu untuk cinta, mengorbankan perasaan menggebu – gebu untuk sesaat. Jangan terburu – buru, nanti hasilnya bisa jelek.” Kek Raja memberikan nasehat pada Vey. Vey hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan Kek Raja. Sekarang Vey mengerti apa yang harus dilakukannya. Menunggu waktu yang tepat.
Malam itu terasa menenangkan bagi Vey. Suasana hatinya agak mereda setelah mendengar beberapa petuah dari Kek Raja. Semilir angin malam berhembus pelan mengiringi senyum Kek Raja dan Vey yang masih bertahan duduk dipinggir kolam itu sampai larut malam. Mereka masih berbincang – bincang tentang segala hal yang belum mereka pahami dan belum mereka mengerti, terutama soal cinta yang akhir – akhir ini menguasai hari – hari mereka.
***
Vey dan Riko sudah bersipa untuk pulang. Koper mereka bertambah satu lagi, berisi oleh – oleh dari tanah Lombok yang sudah mereka beli kemarin. Mereka sudah berdiri di depan bandara bersama Kek Raja, Nek Mira, dan Ramon. Perbincangan mereka tidak begitu berat, hanya sekedar basa – basi salam dan pesan.
“Hati – hati di jalan ya, Vey.” Kata Ramon sambil menyerahkan koper milik Vey yang dibawakan Ramon.
“Iya, tenang. Entar aku bilangin ke pilotnya suruh hati – hati.” Ramon tertawa mendengar kata – kata Vey.
“Salam sama papa dan mamamu ya, Vey. Sampaikan juga pada Nenekmu untuk tentang kabar gembira ini.” Kata Nek Mira sambil tersenyum bahagia. Sejak pertemuaannya dengan Kek Raja, di wajah Nek Mira selalu terpancar rona bahagia yang berseri – seri. Dan Vey senang melihatnya.
“Iya, Nek. Tenang saja. Nanti waktu pernikahan Nek Mira sama Kek Raja, mereka semua bakal Vey ajak ke sini. Agar tambah meriah.” Vey tersenyum melihat kedua insan yang baru dipersatukan itu. Senyum Vey memang terlihat seperti orang yang begitu bahagia, tapi dalam hati, dia merasakan sesuatu yang hilang. Daritadi dia menoleh kanan kiri, memastikan apakah Dirga benar – benar tidak datang untuk mengantarnya pulang. Setelah tiba gilirannya untuk berangkat, barulah Vey sadar kalau Dirga memang tidak mungkin datang.
Vey melangkah menuju pintu masuk pesawat, langkahnya masih berat. Pikirannya masih tertinggal di tempat lain. Dia terlalu memikirkan Dirga. Riko yang berjalan mendahuluinya mengerti apa yang sedang dipikirkan adik perempuannya itu. Riko langsung merangkul bahu Vey sambil berkata, “tenang, Vey. Dirga baik – baik saja. Dua minggu lagi kita bakal ketemu sama dia kok. Ayo cepet jalannya, mama sama papa udah nunggu di Bogor.” Kata Riko sambil tersenyum berusaha untuk menyemangati adiknya.
Pesawat yang ditumpangi Vey dan Riko baru saja terbang menuju Bogor. Seorang laki – laki berlari mendekati Ramon, Nek Mira, dan Kek Raja yang sudah mau beranjak pulang. “Kakek, Vey udah berangkat?” Tanya Dirga sambil terengah – engah kehabisan nafas karena berlari.
“Baru saja. Kenapa kamu bisa telat?” Tanya Kek Raja pada Dirga yang terlihat begitu murung mendengar kabar bahwa Vey sudah berangkat. Dirga terdiam, dia menyesali keterlambatannya.
“Dia masih bingung berpikir, Kek. Masih bingung berpikir suka apa enggak ke Vey. Kelamaan berpikir jadi telat deh.” Celetuk Ramon sambil cengar - cengir mengejek Dirga. Dirga meliriknya, tapi Ramon hanya menanggapinya dengan senyum nakal yang membuat Dirga jadi ragu untuk menanggapi candaan Ramon.
“Ayo pulang, Kek, Nek. Biarkan Dirga merenungkan nasibnya sekarang.” Nek Mira, Kek Raja, dan Ramon pun melangkah pergi meninggalkan Dirga yang masih terdiam. Tak berapa lama dari kepergian mereka, Dirga pun melangkah keluar untuk pulang, langkahnya begitu gontai, seperti tak punya otot. Dia sekarang tidak tahu harus berbuat apa. Menunggunya dua minggu lagi? Aku sudah terlalu merindukannya. Gumam Dirga dalam hati.
Derungan mobilnya mulai terdengar menjauhi bandara yang ramai dengan sesak desak manusia yang ingin bepergian. Dirga terus menyetir mobilnya menyusuri jalanan beraspal tanpa ujung. Dirga tidak tahu harus kemana agar pikirannya tidak kacau seperti saat ini, yang dia tahu hanyalah menyetir dan terus menyetir tanpa tujuan yang jelas.
Share:

1 komentar: