14 Januari 2014

"50 PENA CINTA" PART 16



BAGIAN 16
“Rindu Dua Pasang Mata”
Tiga hari sudah sejak kedatangannya dari Lombok, Vey masih belum keluar rumah sama sekali. Dia hanya berputar – putar di dalam rumah, dari kamar tidur ke dapur, kemudian ke ruang keluarga untuk menonton televisi. Rute lainnya, dari kamar tidur ke kamar Riko, ke kamar tidurnya lagi. Dan berbagai rute sudah Vey tempuh di dalam rumahnya itu. Riko yang pernah mengajaknya keluar hanya mendapat tanggapan negatif yang membuatnya dijitak kepalanya oleh Riko.
“Ayo keluar. Jalan – jalan kemana gitu, bosen dirumah terus. Mama sama papa aja lagi keluar jalan – jalan. Sekalian kenalan sama tetangga – tetangga kita.” Ajak Riko dengan tulus.
“Aah, males keluar sama Kakak, entar dikira pacaran sama orang.” Jawab Vey yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
“Kamu ini..” Taaak, jitakan tangan Riko tepat mendarat di kepala sebelah kiri Vey. “Adooooh, Kakaaaaak. Jahatnyaaa.”
“Lagian kamu mikirnya aneh – aneh. Kakak ngajak tulus ikhlas, tapi tanggapannya menyakitkan.”
“Ah, Kakak ‘kan udah biasa tersakiti.” Kata Vey dengan memasang muka yang begitu datar.
“Kamu kenapa sih masih murung aja sejak nyampek rumah? Kesambet setan Lombok ya?”
“Tahu ah.”
“Oya, Dirga tadi telepon, katanya….”
“Hah? Apa katanya? Apa?” Kata Vey bersemangat.
“Katanya Kakak Bohooong… hahahaha.” Riko tertawa lebar setelah memancing emosi adiknya. Vey langsung menekuk wajahnya, geram melihat Riko yang menertawakannya. “Ketahuan sekarang. Kamu dari kemarin – kemarinnya murung soalnya mikirin Dirga, ya?” Kata Riko menggoda adiknya yang sudah membentuk tekukan – tekukan menyeramkan di wajah manisnya.
“Kenapa gak telepon atau SMS dia aja? Ketimbang kepikiran gini. Kamu ‘kan sudah punya nomer teleponnya.” Kata Riko sambil mendekati Vey dan duduk di sebelah kirinya.
“Gengsi ah, masak cewek yang telepon atau SMS duluan.” Kata Vey mulai menanggapi kata – kata kakaknya yang daritadi berusaha membuatnya jengkel.
“Gengsi ya. Emmm, mungkin Dirga sama pikirannya kayak kamu. Sama – sama gengsi untuk ngubungi lebih dulu, jadi… ya… sama – sama gak ngubungi.”
“Ya gak samalah, dia ‘kan cowok, seharusnya dia punya inisiatif untuk memulainya lebih dulu.”
“Kecuali Dirga memang gak suka sama kamu.” Kata Riko sambil senyum – senyum mengejek Vey. Vey langsung melirik Riko, pandangannya yang sinis tiba – tiba berubah sayu. “Iih Kakaak.. jangan bilang gitu..” Kata Vey merajuk manja pada Kakaknya. “Masak iya Dirga gak suka setelah kejadian malam itu?” Kata Vey tanpa sadar mengatakannya.
“Kejadian apa?” Tanya Riko penasaran. Vey terkejut, dia baru sadar akan kata – katanya.”Kejadian apa? Memangnya Vey bilang apa tadi?” Kata Vey gugup. “Hayooo kalian pernah ngapain?” Goda Riko sambil senyum – senyum nakal pada Vey.
“Apa sih, Kak?” Vey berusaha menutupi kegugupannya. Dia tidak mungkin menceritakan bahwa ciuman pertamanya yang tidak di sengaja itulah yang terjadi di malam yang Vey sebutkan tadi. Benar – benar memalukan. Menurutnya itu bukan ciuman, hanya sekedar ketidak sengajaan karena jatuh. Tapi meskipun sudah beberapa kali dia memungkirinya, masih saja ingatan sering terlintas dipikirannya. Benar – benar membuat pusing dan sulit menghindar.
Riko terus menggodanya, terus memaksa agar Vey mengatakan yang membuatnya gugup. “Emmmm, kalau kamu gak mau cerita yasudah. Sekarang giliran Kakak yang mau cerita.” Kata Riko sambil tersenyum – senyum.
“Cerita apaan sih? Pasti gak menarik.” Vey acuh tak acuh menjawab kata – kata Riko.
“Gini, kejadian ini terjadi pas waktu kita di Lombok. Waktu Kakak diajak buat dikenalin ke temen – temennya Ramon sama Nek Mira juga.”
“Oh, yang cari pacar itu ya?” Kata Vey dengan singkat sambil nyengir sedikit mengejek Kakaknya.
“Hah. Iya. Tapi bukan itu inti ceritanya. Gini, pas waktu perjalanan ke rumah Ramon yang baru, setelah pulang dari tempat nongkrong teman – temannya, kami menemukan sebuah kejadian yang sangat…” Kata – kata Riko dipotong oleh Vey dengan pertanyaan yang tidak begitu penting. “Eh? Masih ke rumah Ramon? Udah dapet memangnya pacar?”
“Ah, kamu ini gak penting. Kakak udah bilang bukan itu inti ceritanya. Ayo dengerin ceritanya. Seru ini.” Kata Ramon dengan begitu semangat. Wajahnya benar – benar meyakinkan, tapi Vey masih saja tidak begitu peduli dengan cerita Riko. Pandangan matanya masih tertuju pada televise yang ada di depannya.
“Waktu Kakak, Nek Mira, dan Ramon lagi di perjalanan menuju rumah Ramon yang baru, kami menemukan sebuah mobil terparkir di pinggir jalan. Mobil itu sepertinya kami kenal. Ketika kami melewati mobil itu, ternyata di dalamnya tidak ada orang, ternyata orangnya ada tidak jauh dari mobilnya di parkir, dia lagi sama seorang cewek. Lagi duduk, dan lagiiii…..” Riko menghentikan kata – katanya sambil melirik Vey, menunggu tanggapan dari Vey.
Vey yang baru sadar maksud dari cerita Riko itu langsung tercengang. Mukanya tegang. Dia melirik Riko yang ada di sebelah kirinya. Terlihat di sana Riko sedang cengar – cengir melirik Vey yang sedang gugup. Vey mengingat ulang kejadian malam dimana Dirga dan dirinya tidak sengaja jatuh duduk dan tidak sengaja juga bersentuhan bibir. Malam itu Dirga dan Vey disadarkan oleh sebuah mobil yang melewati mereka. Hanya satu mobil. Apa itu mobil Ramon? Tanya Vey dalam hati.
Mukanya mulai berubah warna menjadi merah. “Emmmm, mau tahu gak lagi ngapain?” Tanya Riko sambil cengar – cengir. Perutnya geli melihat Vey yang berubah menjadi begitu tegang. Vey langsung menutup wajahnya dengan bantal yang ada di sebelahnya sambil berteriak – teriak.
“Aaaaaaaaaargghhh.. Kak Riko jahaaaaat.” Vey berlari naik tangga lalu masuk kamarnya. “Hahahahahahahaha….. “ Riko tertawa terbahak – bahak, kedua pipinya seakan – akan ingin meletus karena tidak sanggup menahan tawa yang begitu luar biasa. “Veeeeey… Kakak belum selesai cerita…” Teriak Riko. Masih saja dirinya ingin menggoda adiknya yang sudah malu tidak karuan.
“Vey.. ayo turun.. Kakak masih mau cerita tentang Mr. Kiss dan Miss. Kiss yang Kakak temui malam itu. Ayo turun.” Riko terus menggoda Vey yang sudah mengunci kamarnya rapat – rapat. “Veeeeeey…” Riko terus memanggil – manggil nama Vey dengan berteriak – teriak sesukanya. Memang hobinya menggoda Vey, apalagi jika Vey sampai malu – malu seperti ini, tambah jadilah dia menggodanya.
“Aaaaaaargh… gak denger… gak denger… “ Teriak Vey dari dalam kamarnya. Rumah itu tiba – tiba berubah menjadi kegaduhan yang diciptakan oleh dua orang bersaudara. Riko kegirangan, sedangkan Vey kelimpungan.
***
“Kamu sampai kapan mau tinggal di sini? Gak kasian Kek Raja sendirian di rumah?”
“Kakek nginep di hotel terus sekarang. Maklumlah, pacarnya ‘kan juga ada di hotel. Ya jadi aku gak begitu khawatir ninggalin Kakek. Kakek udah ada temennya. kenapa memangnya? Ngusir nih?”
“Ya enggaklah, meskipun kamu mau tinggal seumur hidup ya gak apa – apa, lagian ini udah gak ditempatin juga.”
“Eh? Aku beli deh sekalian ni rumah. Katanya sih Kakek pengen bulan madu di pantai. Ketimbang bulan madu di pantai – pantai lain mending di sini aja. Pantai Kuta ‘kan gak kalah bagusnya sama pantai – pantai lainnya.”
“Boleh deh. Eh? Gak usah di beli. Aku mau ngasi rumah ini sebagai hadiah pernikahan buat Kek Raja sama Nek Mira.”
“Wah wah.. baik banget.” Kata Dirga menggeleng – gelengkan kepalanya sambil menepuk – nepuk pundak Ramon yang duduk di sebelahnya.
“Kek Raja sama Nek Mira itu udah membuatku sadar akan sesuatu.” Kata Ramon begitu serius.
“Apa memangnya?”
“Mengajarkan tentang makna kesetiaan yang begitu indah.” Ramon melirik Dirga yang senyum – senyum mendengar kata – katanya.
“Eh, gak bercanda ini, lagi serius ini.”
“Hahaha, iya – iya, ayo lanjutin.”
“Selama ini aku selalu bermain – main dengan yang namanya cinta. Hari ini cinta – cintaan sama cewek A, besoknya ngumbar cinta lagi ke cewek B, parahnya lagi, cewek C, D, E juga di rayu – rayu. Hemmmm, nyesel banget kalau udah inget itu.”
“Emmmm, jadi kamu sedang dapat hidayah ya sekarang?” Dirga meledek Ramon yang sedang serius bercerita padanya.
“Kamu ini daritadi gak serius. Aku udah serius – seriua curhat.”
“Hahhaha… iya, Mon. ini aku udah serius.”
“Serius tapi cengar – cengir.”
“Enggak ni udah serius wajahku.” Kata Dirga sambil berusaha membentuk wajahnya agar terlihat serius.
“Bener ni sekarang serius?”
“Iya, Mon.”
Ramon melanjutkan kata – katanya yang tertunda tadi. “Aku juga udah mutusin mereka semua. Aku berpikir, aku hanya boleh melabuhkan cintaku pada satu orang yang memang benar – benar aku cintai dan mencintai aku. Dan dari kelima cewekku itu masih belum ada yang begitu aku cintai.”
“Jadi kamu sekarang gak punya pacar?”
“Iya, mulai sekarang, aku bakal cari cewek yang bener – bener pantas untuk jadi istriku. Aku bakal lebih serius kali ini. Tidak main – main seperti dulu.”
Dirga mengangguk – angguk, dia menepuk – nepuk bahu Ramon lagi. “Semangat semangat.”
“Kamu juga seharusnya sadar, Dir. Kejadian Nek Mira dan Kek Raja sudah banyak merubah hidupmu.”
“Maksudmu?”
“Tentang Vey?”
Dirga langsung terdiam. Dia tidak tahu harus memberi tanggapan apa dari kata – kata Ramon. “Nek Mira sudah mencontohkan pada kita tentang perjuangan mendapatkan cintanya lagi. Tapi sepertinya kamu masih belum bisa melihat makna – makna baik dari perjuangan itu. Seharusnya kamu juga terapkan konsep perjuangan itu pada Vey. Ya, itu kalau kamu suka dia sih.” Kata Ramon panjang lebar. Tidak puas mengatakan kata – kata panjang tersebut, Ramon menambahkan kata – katanya lagi untuk menyadarkan Dirga.
“Seharusnya kamu sekarang sudah mengerti makna dari perjuangan cinta yang di lakukan Nek mira. Beliau berjuang menemukan cintanya yang sudah lama hilang. Tapi kamu malah melepaskan cinta yang baru saja hinggap. Kalau sudah seperti ini, seharusnya kamu berjuang mendapatkan Vey yang sudah kamu acuhkan.
Vey sudah berjuang mencarimu untuk menyampaikan isi hatinya, tapi kamu malah mengacuhkannya, ya, dia gak jadi yang mau bilang cinta. Dia suka kamu, Dir. Kamu jadi cowok gak peka banget.” Dirga terdiam. Pandangannya masih terpaku pada air laut yang sudah terbias matahari sore. “Apa sebenarnya kamu gak suka Vey?” Tanya Ramon tiba – tiba. Dirga langsung menoleh pada Ramon.
“Bukan begitu, Mon. aku Cuma bingung aja gimana caranya nyampaikan maksud hati.” Dirga kembali pada pandangan awalnya. “Aku suka Vey. Suka, benar – benar suka. Tapi kalau sudah ada di hadapannya, aku malah bingung harus berbuat apa.“
“Kayak sinetron aja kata – katamu.”
“Ah. Kamu ada – ada aja. Sudahlah, mau gimana lagi?”
“SMS? Telepon? Memangnya kamu gak ngelakuin itu semua?”
“Malu, takut dicuekin. Entar malah nambah sakit hati karena ditolak.”
“Aku udah bilang. Dia itu suka sama kamu.”
Dirga tersenyum pada Ramon. Dia ingin melakukan apa yang dikatakan Ramon. Tapi dia hampir kehabisan kata kalau sudah menyangkut Vey. Apa yang harus Dirga lakukan sebenarnya? Dari dulu dia hanya bisa berpikir, berpikir tentang Vey yang di sukainya. Tanpa melakukan apa – apa yang dapat mewujudkan rasa sukanya itu.
Dirga merindukan Vey, sama seperti Vey merindukannya. Tapi penyakit mereka sama. Penyakit ego yang hanya dapat disembuhkan dari diri mereka sendiri. Mereka juga sama – sama suka. Tapi mereka juga memiliki kebiasaan yang sama. Kebiasaan takut diacuhkan yang hanya dapat diatasi dengan keyakinan. Sebenarnya masalah mereka hanya dapat di selesaikan dari dalam diri mereka sendiri. Jika dibiarkan, maka seterusnya mereka akan mengalami perpisahan yang tak pernah diinginkan.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar