27 Desember 2013

"50 PENA CINTA" PART 10



BAGIAN 10
“Petunjuk di Titik Akhir”
Ramon sudah standby di ruang makan. Ruangan yang mereka setujui untuk tempat pertemuan. Vey dan Nek Mira datang dengan senyuman. Mereka duduk di dekat Ramon. Dan seperti biasa, Riko masih saja bangun telat. Tapi kali ini Vey membangunkannya. Ini karena yang kenal baik dengan Ramon hanyalah Riko. Riko terlihat batang hidungnya setelah beberapa ment hidangan sarapan pagi datang.
Riko langsung duduk bergabung. Perutnya mungkin kelaparan. Dari mereka berempat, yang paling cepat makannya adalah Riko. Vey memperhatikan Riko. “Apa? Heran? Gak pernah lihat orang lapar?” Vey langsung membalasnya, “Iiih, Kakak makannya kayak orang gak makan setahun. Kakak itu kelaparan, bukan lapar!”
“Apa bedanya lapar sama kelaparana?” Tanya Ramon. “Kalau lapar itu ya lapar biasa, kalau kelaparan itu udah tingkat akut. Lapar ditambah lapar sama dengan kelaparan.” Jelas Vey bersungguh – sungguh dalam menjelaskannya. Nek Mira dan Ramon tertawa mendengar penjelasan Vey yang terdengar aneh tapi masuk akal.
“Permisi, Maaf, apakah Anda yang menyewa kamar nomer 204?” Tanya seorang pelayan pada Riko yang sedang melahap makanannya.
“Hah? I..iya, ada apa ya? Ada masalah?” Kata Riko dengan kikuk, dia hanya takut melakukan kesalahan yang tidak dia sadari.
“Oh, tidak, Tuan. Kami hanya diperintahkan untuk melayani Anda dengan baik. Perkenalkan saya kepala pelayan di hotel ini. Saya diperintahkan untuk melayani Anda secara khusus sebagai tanda perminta maafan dari pemilik hotel ini.” Kepala pelayan itu berkata dengan begitu sopan.
“Oh begitu? Memangnya ada apa? Apa pemilik hotel ini teman atau kenalan saya?” Tanya Riko keheranan.
“Bukan, Tuan. Kemarin malam Tuan secara tidak sengaja menabrak Anda di depan kamar Anda, beliau merasa tidak enak, beliau juga tidak punya waktu untuk minta maaf secara langsung.”
Vey dan Riko saling pandang. Mereka berusaha mengingat wajah orang yang menabraknya kemarin malam. “Tunggu tunggu, orang itu pemilik hotel ini?” Tanya Vey dengan nada terkesima.
“Benar, Nona. Baiklah, jika kalian butuh sesuatu, kami siap melayani dengan sepenuh hati. Saya permisi dulu, masih ada pekerjaan yang menunggu.” Kepala pelayan tadi tersenyum dan kemudian pergi begitu saja.
“Gila, pemilik hotelnya masih muda?” Kata Vey menambah kekagumannya pada orang itu.
“Kamu tahu memangnya, Vey?” Tanya Nek Mira yang duduk tepat di sebelahnya.
“Iya Nek. Orang dia nabrak Vey bukan nabrak Kak Riko. Tapi kejadiannya memang di depan kamar Kak Riko. Kalau ditaksir sih umurnya seumuran Kak Riko.” Vey memperjelas penjabarannya.
“Namanya Dirga. Dirga Dirwan Putra.” Kata Ramon tiba – tiba menyela perbincangan yang semakin memuncak.
“Dirga? Kayak pernah denger ya, Nek.” Kata Vey sambil menggigit sendok teh yang digenggamnya. “Eh? Kok kamu tahu?” Vey menyambung kata – katanya dengan pertanyaan.
“Dia sahabatku.sahabat kecil. Sekarang udah jarang ketemu gara – gara dia sibuk terus. Ini bisnis turun temurun dari keluarganya. Sekarang gilirannya untuk melanjutkan bisnis ini. Itu alasan kenapa dia muda – muda udah punya bisnis sendiri.” Ramon menjelaskan secara singkat tentang Dirga.
Riko, Vey, dan Nek Mira hanya manggut – manggut mendengarkan penjelasan Ramon. Selagi Ramon bercerita sedikit tentang Dirga dan kehidupannya sendiri, yang lain hanya diam mendengarkan dengan baik. Ramon memang pencerita yang baik meskipun kadang omongannya agak tidak nyambung, kadang bicara A tiba – tiba sudah pindah ke topik B. Tapi, meskipun begitu ceritanya tidak membosankan untuk didengar.
Setelah makanan mereka habis, Ramon pun menyelesaikan ceritanya. Dia langsung mengajak Vey, Riko, dan Nek Mira untuk segera berangkat berkeliling melancarkan operasi pencarian. Kali ini Vey merasa lebih tenang daripada kemarin. Ini karena ada Riko dan Ramon yang mengantar mereka.
“Ini mau ke jalan mana dulu?” Tanya Ramon sambil menyetir mobil pribadinya. “Kami dapat petunjuk kalau Raja ada di daerah jalan Pattimura. Kemarin kami sudah mencari ke sebagian dari daerah itu. Jadi kita tinggal cari di bagian lain di jalan itu. Siapa tahu ketemu.” Ramon mendengarkan penjelasan Vey yang singkat.
Nek Mira yang dari tadi hanya diam saja kini sibuk dengan lembaran – lembaran surat dari Raja yang sengaja dibawa Vey. Surat yang dibaca Nek Mira itu adalah surat yang berisi pena ke 37 yang dikirim Raja pada Nek Mira. Nek Mira membuka amplop dan mulai membacanya dengan hati – hati, bukan karena tidak tahu isinya, tapi hanya karena ingin mengenang masa – masa indahnya dulu bersama Raja.
Lombok, 3 Januari 1969
Hari ini, kutuliskan tinta penaku yang ke 37 ini di atas selembar kertas surat yang akan kukirim untuk kekasihku. Mira Laksmina.
Kekasihku? Aku benar – benar merindukanmu. Tetesan air mata kadang menyertaiku dalam menyampaikan isi hati ini padamu. Entah mengapa, rasa ini begitu kuat. Tambah kuat. Melebihi kuatnya baja. Aneh. Ini benar – benar aneh. Meskipun aku tidak pernah melihat wujud aslimu, tapi kerinduan ini begitu nyata.
Harapanku untuk terus memilikimu selalu bertambah tinggi setiap kali aku menerima dan mengirim surat untukmu. Mudah – mudahan akhirnya kita dapat dipertemukan dalam kebahagiaan. Dalam kerinduan yang memuncak, dalam perasaan cinta yang memusat.
Meskipun waktu masih belum bisa mempertemukan kita, tetapi pena sudah lebih dulu mempertemukan kita. Pena – pena ini yang menyambung kisah kita, kisah yang pastinya akan terus berlanjut sampai pena dan waktu sepakat untuk mempertemukan kita dalam kesatuannya.
Aku pernah memikirkan bagaimana sebenarnya akhir dari kisah ini? Tetapi tak pernah sekalipun aku berpikir buruk untuk akhirnya, tidak. Karena aku tidak pernah mempercayai kisah yang berakhir sedih. Tidak ada kata sedih. Kita mengawali kisah ini dengan perasaan bahagia, dan aku yakin kita akan mengakhirinya pun dengan perasaan yang bahagia.
Belum selesai Nek Mira membaca keseluruhan isi suratnya, tiba – tiba dia langsung menutupnya. Dia menghela nafas panjang. Nek Mira memandang Vey yang sedang sibuk bercakap – cakap dengan Riko dan Ramon yang duduk di kursi depan. Raja dan Vey hampir sama. Mereka tidak pernah mempercayai kisah yang berakhir sedih. Mereka orang – orang yang punya harapan begitu tinggi. Nek Mira bergumam dalam hatinya.
Vey yang baru menyadari kalau Nek Mira sedang memandangnya segera menoleh dan bertanya, “Ada apa, Nek? Apa Nenek butuh sesuatu?” Tanya Vey dengan begitu perhatian. Nek Mira menggeleng sambil tersenyum. hatinya tak tentu arah. Pikirannya tiba – tiba kembali ke masa lalu. Masa – masa runtuhnya dia, masa – masa dimana putus asa benar – benar menguasai hidupnya. Nek Mira mengalihkan pandangannya ke arah luar mobil. Dia berusaha menghilangkan pikiran yang tiba – tiba datang itu.
Beberapa menit telah berlalu. Hari ini jalanan senggang. Tidak begitu ramai. Ini mempercepat mobil Ramon sampai pada tujuan. Jalan Pattimura sudah terlihat, tapi Ramon tidak mengambil arah seperti yang di ambil Vey dan Nek Mira kemarin ambil. Ini permintaan Vey. Vey ingin mencari dari jalan Pattimura dibagian yang berbeda dari kemarin. Agar pencariannya merata.
Seperti biasa, sistem pencariannya sama seperti kemarin. Bertanya pada setiap orang yang ada dan terlihat oleh mata. Vey turun dari mobil ketika melihat seseorang baru keluar dari rumah yang tampaknya baru saja mengadakan hajatan. Rumah itu agak ramai.
“Maaf permisi, Pak. Boleh bertanya sebentar?” Tanya Vey dengan sopan pada pria paruh baya yang baru keluar rumah tadi.
“Ya, tanya ya, Mbak?”
“Apa Anda kenal dengan yang namanya Raja Kuswantoro?”
“Oh? Anda kenalannya ya? Ini Mbak rumahnya silahkan masuk. Orang tuanya dari tadi malam masih belum bisa berhenti menangis. Sungguh kasihan, Mbak.” Orang tadi menunjuk rumah yang ramai orang itu.
“Raja rumahnya di rumah yang ada hajatannya ini, Pak?” Tanya Vey dengan sedikit penekanan agar jawabannya meyakinkan.
“Iya, Mbak! Bukan hajatan. Ini ada orang meninggal. Raja meninggal tadi malam karena di tabrak lari orang.”
“Pak, ini Raja Kuswantoro ‘kan?”
“Iya, Mbak. Kalau tidak percaya silahkan masuk dan tanyakan sendiri.” Kemudian orang tadi pergi meninggalkan Vey yang masih dalam kebingungannya. Vey bingung bukan karena bapak – bapak tadi. Dia bingung bagaimana cara menyampaikannya pada Nek Mira yang sedang menunggunya di dalam mobil.
Vey kembali ke mobil. dia masih dalam kebingungannya. Wajahnya namb=pak sekali kalau sedang kebingungan. “Gimana, Vey?” Tanya Riko pada adiknya. Vey masih kikuk. Dia kebingungan, benar – benar kebingungan. kali ini memang benar. Ini Raja Kuswantoro kata orang tadi. Aku harus gimana sekarang? Apa aku harus bilang sejujurnya pada Nek Mira? Aku yang sudah membawanya sejauh ini. Apa aku juga yang akan membawanya jatuh lagi? Vey bergumam dalam hatinya. Kebingungannya segera di sadarkan oleh belaian tangan Nek Mira pada lengan Vey.
“Gimana, Vey? Sudah dapat alamatnya?” Tanya Nek Mira dengan hati – hati, karena dia tahu ada yang salah dari Vey. Tanpa kata – kata Vey hanya menunjuk rumah yang ramai itu. “Rumah yang ada hajatannya itu?” Tanya Ramon memperjelas. “Itu orang mati, bukan hajatan.” Kata Vey dengan perlahan. Riko, Nek Mira, dan Ramon yang semula melihat rumah ramai itu tiba – tiba langsung mengalihkan pandangannya pada Vey. “Orang mati?” Tanya Riko kaget. “Jangan bilang kalau yang mati itu…” Riko tidak melanjutkan kata – katanya. Dia masih kaget.
Nek Mira tersenyum, dia terlihat tegar. Mungkin dia sudah mempersiapkan mentalnya untuk kejadian yang seperti ini. “Ayo turun, kita lihat dan kita pastikan.” Kata Nek Mira. Vey segera menekan pintu mobil yang akan dibuka Nek Mira. “Ini.. ini Raja Kuswantoro. Namanya benar – benar Raja Kuswantoro, Nek.” Vey begitu cemas. Dia hanya takut Nek Mira sedih lagi seperti kejadian dulu. Wajah Vey benar – benar cemas, dia memandang wajah Nek Mira. Riko dan Ramon hanya diam melihat Vey dan Nek Mira dari kursi depan.
“Vey? Kamu kenapa? Mana Vey yang kemarin? Kenapa tiba – tiba lemah kayak gini?” Nek Mira tersenyum. “Meskipun akhirnya dia meninggal, setidaknya Nenek sudah membalas pencariannya. Dan nenek bisa tenang sudah menemukan kepastian yang seharusnya sejak dulu nenek lakukan.” Vey menunduk, tangannya lemas. Nek Mira membuka pintu mobil. Riko langsung mengawalnya. Vey masih di dalam mobil. “Kamu tidak turun, Vey? Kamu tidak ingin menguatkan Nek Mira kalau memang ini benar terjadi?” Tegur Ramon yang masih ada di dalam mobil. vey tersadar. Dia langsung turun bersama Ramon mengejar Nek Mira dan Riko yang sudah lebih dulu masuk ke halaman rumah itu.
Terlihat orang menangis di seisi rumah itu. Beberapa lainnya berkerumun di samping rumah. Nek Mira bersalaman pada perempuan tua yang menyambutnya di pintu rumah. “Anda kenalan Raja?” Tanya orang itu, masih bergetar suaranya karena menangis. “Mari kami antar langsung ke pusaranya.” Kata perempuan tua itu.
Mereka berjalan menuju samping rumah. Di sana kuburannya. “Raja pernah meminta, jika dia meninggal, dia ingin di kubur di samping rumahnya. Agar lebih dekat dengan keluarga katanya.” Perempuan tua tadi mulai menangis tadi. Dib batu nisannya tertulis RAJA K. Nek Mira mulai tergoyah hatinya, matanya mulai berkaca – kaca. Vey yang ada di belakangnya sudah meneteskan air mata terlebih dahulu. Vey tidak kuat melihat Nek Mira sedih hanya karena semangat yang sudah Vey sulut untuknya.
“Sungguh mendadak kepergiaannya. Tadi malam keadaannya memang sudah kritis. Padahal tabrakannya tidak begitu parah. Tapi mungkin benturan di kepalanya begitu keras sehingga menimbulkan luka dalam yang serius. Kami pihak keluarga sangat sedih. Kami hanya minta sumbangan doa dari semua kenalan Raja agar Raja Kuswantara dapat di terima di sisi-Nya.”
Nek Mira terkejut. “Raja Kuswantoro?”
“Raja Kuswantara, Bu. Bagaimana sih Anda ini, jangan sampai salah nama, kalau salah nama nanti doanya gak sampai ke orangnya.”
Vey, Riko, dan Ramon tercengang, mereka kaget. Seorang perempuan muda datang memegang sebuah figura dan menyandarkan figura tadi ke batu nisan Raja. “Ini foto Raja?” Tanya Nek Mira memastikan. “Iya, Bu. Mari kita mulai doanya.” Seorang pemuda dengan tompel di dahinya terpampang jelas di foto itu. Riko menggigit bibirnya, dia benar – benar tidak kuat menahan tawa, dia langsung berlari ke mobil tanpa permisi.
“Loh? Mau kemana anak itu?” Tanya perempuan tua yang hendak memimpin doa itu.
“I.. i.. itu, dia begitu sedih. Tidak kuat menahan tangis. Dia malu kalau menangis di sini, terlalu banyak orang. Jadi dia langsung berlari ke mobil.” Kata Ramon berusaha mencari alasan. Perut Vey mulai bergoncang, pipinya hampir meletus menahan tawa. “Aku akan menyusulnya, akan menyabarkannya.” Kata Vey, kemudian berlalu begitu saja.
Nek Mira ingin menyusul mereka, tetapi untuk menghargai perempuan tua itu, Nek Mira berusaha bertahan sampai doanya selesai di sampaikan. Vey dan Riko tertawa dengan puas di mobil. sesekali terlihat mobilnya bergoyang – goyang karena Vey dan Riko yang tidak bisa menahan tawanya lagi.
Beberapa saat kemudian Nek Mira dan Ramon sudah berada dalam mobil. Ramon mulai memacu mobilnya. “Tadi ada yang nangis sesenggukan loh, Nek.” Ejek Ramon. Riko masih saja tertawa mengingat ekspresi Vey yang tadi kebingungan dan yang tadi sesenggukan menangis.
“Raja Kuswantara! Bukan Raja Kuswantoro! Jangan salah nama! Nanti gak nyampek doanya! Hahahaha” Riko ngakak tiada henti, Vey hanya tertawa malu – malu karena kesalah pahamannya tadi. Nek Mira ikut tertawa melihat Vey yang malu – malu.
“Vey ‘kan juga gak tahu kalau itu Raja yang salah. Lagian bapak – bapak tadi benar – benar meyakinkan waktu Vey nanya apa bener itu Raja Kuswantoro. Bapak itu bilang ‘iya benar kalau tidak percaya, tanya langsung ke dalam.’ Kalau udah kayak gitu siapa ayo yang gak yakin kalau itu benar.” Vey berusaha membela diri meskipun rasa malu karena menangis masih ada.
Mereka masih saja tertawa – tawa mengingat kejadian tadi ketika mobil Ramon berhenti di depan sebuah ruma bercat hijau. Di depan rumah itu ada beberapa orang yang sedang berduduk santai. Kali ini, Vey tidak mau turun sendirian. Dia mengajak semuanya agar tidak terjadi kesalah pahaman seperti tadi.
“Maaf, mengganggu sebentar. Saya ingin menanyakan seseorang, Bu.” Kata Riko berusaha sopan.
“Oh, iya mau tanya siapa ya?” Kata perempuan muda yang menyambut mereka di halaman rumah itu.
“Apa Anda kenal dengan Raja Kus….” Riko belum selesai mengucapkan kata – katanya perempuan muda tadi langsung memotongnya.
“Oooh, Raja.. ya tunggu ya tunggu..” Perempuan tadi langsung berlari masuk rumah.
“Waah wah, gak bener nih. Vey udah pengalaman, Kak. Setiap nama Raja gak di terusin sampek belakang pasti gak beres ke belakangnya.” Kata Vey sambil menggeleng – gelengkan kepalanya. Dan benar saja. Perempuan tadi menggendong balita berumur sekitar lima tahunan.
“Memang banyak yang cari Raja buat berobat. Raja memang sudah ahli mengobati penyakit dalam sejak umurnya dua tahun. Itu tu kayak anak yang pakek batu kalau ngobatin. Raja gak jauh beda hebatnya. Ayo ayo cepat siapa yang mau lebih dulu.” Kata orang tadi dengan cepat.
“Tu ‘kan bener. Gak bereskan? Bener nih Raja, Raja Pengobatan. Hihihih.” Bisik Vey.
“Oh, maaf, Mbak. Yang kami cari itu Raja yang umurnya 63 – an. Bukan untuk berobat.” Kata Ramon dengan sopan.
“Oh begitu, yasudah kalau begitu.” Perempuan tua tadi agak kecewa.
“Nanti kalau memang ada kerabat saya yang sakit akan saya rekomendasikan anak Mbak.” Kata Ramon dengan senyuman. Ramon memang pandai menyenangkan orang.
“Oh begitu? Baiklah baiklah terima kasih.” Perempuan muda itu tersenyum mendengarkan kata – kata Ramon. Tak berapa lama kemudian mereka pun menghilang dari rumah bercat hijau itu. Mereka kembali menyusuri jalan Pattimura. Berusaha untuk mencari sesuatu yang sudah lama menghilang dari hidup Nek Mira. Sesekali Nek Mira diminta berserita tentang kisah cintanya itu oleh Riko dan Ramon yang masih penasaran bagaiman cerita detailnya. Dan ketika suasana mulai agak menyedihkan, Ramon mulai bertindak untuk menetralkan dan mencairkan suasana. Begitu seterusnya sampai mereka menghentikan mobilnya di penghujung jalan Pattimura.
Vey, Riko, Ramon, dan Nek Mira turun untuk menanyakan hal yang sama pada sebuah rumah yang ada di sebelah kiri di penghujung jalan itu. Rumah itu bercat putih polos. Rumahnya sederhana, tetapi bersih dan halamannya rindang. Mungkin kerindangan itu yang membuat seseorang betah duduk berlama – lama di halaman tersebut. Vey dan yang lainnya mendekati orang itu.
“Maaf mengganggu.” Kata Vey dengan sopan.
“Oh, iya. Ada apa ya?” Perempuan itu paruh baya. Di hadapannya ada sebuah bak kecil, pisau dan kacang panjang yang panjang menjuntai. Mungkin dia sedang bersiap – siap untuk memotong – motong kacang panjang itu.
“Apa Anda kenal dengan yang namanya Raja Kuswantoro? Umurnya sekitar 63 tahun.” Kata Vey memperjelas. Dia memperjelasnya agar tidak terjadi kesalahan lagi. Perempuan paruh baya tadi mengernyitkan dahinya. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Pastinya memikirkan pertanyaan yang sedang Vey ajukan.
“Raja Kuswantoro? Kalau tidak salah… ini adalah majikan ayah saya.” Kata perempuan itu.
“Eh? Benarkah? Tapi benar ‘kan namanya Raja Kuswantoro? Dan umurnya sekitar 63 tahun?” kata Riko memastikan.
“Iya benar. Raja Kuswantoro adalah majikan ayah saya. Tapi mengapa kalian mencarinya sampai kesini?”
“Loh? Bukannya rumahnya di sekitar jalan Pattimura ini?” Tanya Vey penasaran.
“Ya bukanlah, Mbak. Yang di jalan Pattimura itu rumah ayah saya. Rumah pelayannya Pak Raja itu.”
“Loh? Terus rumah Raja yang bener dimana?” Tanya Nek Mira menambahkan.
“Jauh dari sini, kira – kira satu jam, rumahnya paling besar di antara sekelilingnya. Pagarnya juga besar. Terus..”
“Gimana kalau ditulis saja, Mbak.” Kata Ramon sambil mengeluarkan sebuah catatan kecil dan bolpen yang di serahkan pada perempuan itu. Perempuan tadi menulisnya dengan cekatan. Setelah selesai menulis, catatan itu diserahkan lagi pada Ramon.
Vey melihat alamat itu. “Tunggu, ini kayaknya aku pernah tahu alamat ini.” Kata Ramon sambil berusaha mengingat – ingat. Vey melihat alamat itu lagi, memastikan. Dia mengingat sesuatu. Dia segera membongkar tas slempang miliknya. Dia menemukan sebuah kertas berisi alamat juga. “Loh? Sama. Ini alamat Raja di surat, Nek. Benar. Ini alamat Raja, Nek.” Nek Mira melihat alamat itu. Ramon yang daritadi berpikir sekarang sudah menemukan jawabannya. “Aku juga ingat. Alamat ini, alamat sahabatku, Dirga. Sudah lama tidak kerumahnya jadi agak lupa tadi.”
“Ah. Vey sekarang ingat, Nek. Pantas saja waktu dengar nama Dirga, Vey seperti pernah mendengarnya. Dirga itu nama orang yang katanya membeli rumah Raja itu. Kata pembantunya yang beruban itu.” Kata Vey pada Nek Mira. Vey berusaha mengingat semuanya.
“Tunggu – tunggu, dijual? Dijual ke Tuan muda Dirga? Tidak mungkin lah Mbak. Orang Tuan muda Dirga itu cucunya Tuan Raja Kuswantoro.” Jelas perempuan itu.
“Hah?” Vey dan Ramon tercengang.
“Dan yang katanya Mbak itu, pembantu yang beruban itu mungkin yang Mbak maksud adalah ayah saya.” Perempuan itu lebih memperjelas lagi.
Vey dan Nek Mira saling pandang. Mereka kebingungan. setelah mengucapkan terima kasih pada perempuan itu, mereka langsung beranjak pergi meninggalkan jalan Pattimura. Ramon menyetir mobilnya dengan perlahan. Sore itu jalanan sudah ramai. Maklumlah, sore itu para pekerja kantoran dan para karyawan waktunya pulang.
“Tapi setahuku, Dirga gak punya kakek yang namanya Raja. Terkhir kali aku tahu kakek Dirga yang namanya Darma Dirwantoro meninggal karena serangan jantung tiga tahun yang lalu di rumah sakit. Terus kenapa ada nama Raja Kuswantoro?” Kata Ramon.
“Terus juga, kenapa pembantu itu bohong pada kita ya, Nek? Pasti ada sesuatu. Terus waktu kita nanya kemarin, pembantu itu mengatas namakan tuannya. Dirga. Berarti Dirga yang berbohong pada kita? Apa pembantunya yang berbohong ya?”
Nek Mira memikirkan beberapa kejadian kemarin yang mudah diingatn dan bermanfaat untuk dijadikan penyelidikan. “Itu juga, Vey. Satpamnya, menanggapi kita seperti memang ada nama Raja di rumah itu. Satpam itu gak merasa asing ketika mendengar nama Raja.”
“Benar, Nek.” Kata Vey. Mereka terus mengait – ngaitkan segala hal yang penting untuk diingat dan penting untuk dikaitkan. Sementara Ramon, Vey, dan Nek Mira memprediksi berbagai kejadian yang dihadapi, Riko sudah terlelap tidur di kursi depan.
“Bagaimana, Nek? Apa kita akan lanjut sekarang ke rumah Dirga? Atau mau lanjut besok?” Tanya Ramon sambil mengemudi mobilnya.
“sekarang aja!” Jawab Vey dengan semangat. “Kita baru saja mendapatkan fakta baru tentang Raja Kuswantoro. Kenapa harus di tunda – tunda. Aku lebih suka sekarang!” Vey berapi – api.
“Jangan, Vey. Besok saja. Kita sudah pernah masuk di rumah itu. Dan untuk kedua kalinya pasti tidak akan semudah itu. Mereka sudah menyembunyikan sesuatu dari awal. Mana mungkin mereka dapat dengan mudah menerima kita untuk kedua kalinya. Kita harus pikirkan dulu bagaimana cara untuk bisa bertemu dengan Raja.” Kata Nek Mira sambil mengusap – usap kepala Vey yang duduk di sampingnya.
“Betul kata Nek Mira Vey. Aku bisa saja membantu kalian masuk. Orang – orang rumah Dirga pasti sudah tahu aku. Tapi kalau mereka tahu kalau aku bawa kalian gimana jadinya? Kita harus pikirkan lagi gimana caranya agar kalian bisa masuk.” Ramon menambah kata – kata Nek Mira. Akhirnya Vey menurut saja. Apa boleh buat? Dua banding satu.
Mobil Ramon melaju dengan kecepatan sedang menuju hotel. Nek Mira yang sudah kelelahan hanya diam sambil memandang beberapa hal yang dilewati mobil Ramon. Ramon tetap fokus dengan setirnya. Sedangkan Vey, dia sibuk memikirkan bagaimana cara memasuki rumah itu tanpa ketahuan orang lain. Yang ingin langsung dia temui hanyalah Raja, bukan penghuni rumah, bukan juga Dirga dan pembantu beruban yang sudah menipunya kemarin – kemarinnya. Vey menghela nafas panjang setiap kali mengingat kata – kata pembantu itu.
Sementara Vey sibuk dengan pikirannya, matahari sudah perlahan berlenggang menuju peraduannya, meninggalkan alam di kegelapan malam. Dan seperti biasa. Setiap kali siang mengganti malam, bintang – bintang mungil bercahaya selalu menyambutnya dengan gemerlap malam yang pekat.
Share:

4 komentar: