02 Desember 2013

"50 PENA CINTA" part 3



BAGIAN 3
“Mira Laksmina”
Vey masih saja bengong. Dia hanya diam. Pikirannya melayang, tapi mulutnya tetap bergerak beraturan mengunyah makanan ringan yang disediakan mamanya setelah makan siang selesai.
Keluarga Vey memiliki kebiasaan yang masih tetap terjaga sampai sekarang, mereka akan berkumpul di ruang keluarg setelah makan siang ataupun makan malam selesai sambil menikmati makanan ringan yang disediakan. Katanya untuk menjaga kekompakan keluarga.
“Vey? Kamu kenapa daritadi bengong? “ Mama Vey berusaha menegur Vey. Tapi sepertinya Vey lagi asyik dengan pikiran dan khayalannya. Riko gatal melihat adiknya yang diam. Tidak biasanya diam, biasanya kalau sudah berkumpul pasti ada saja yang dijadikan bahan untuk menggoda satu sama lain, yang akhirnya akan berujung pertengkaran yang semakin memanas. Tapi pertengkaran mereka hanya pertengkaran yang lucu jika diperhatikan, karena biasanya yang mereka jadikan bahan untuk bertengkar hanyalah hal – hal yang tidak penting untuk dipertengkarkan. Contohnya seperti tadi waktu perebutan kamar. Mereka sudah dewasa, tapi pertengkaran – pertengkaran lucu yang mereka lakukan membuat mereka menyerupai anak – anak kecil.
“Heh tukang mikir! Tu diajak bicara sama mama. Udah mulai berkurang ya pendengarannya? Emmmm, maklum ya, kamu ‘kan memang terlihat lebih tua dari Kakak.” Ledek Riko sambil menyenggol lengan Vey yang duduk di sebelahnya. Vey menoleh pada RIko dan seperti tidak terjadi apa – apa sebelumnya dia menjawab kata – kata Riko, “Ha?” hanya kata ‘ha’ yang dia keluarkan dari mulutnya.
“Bukan aku yang ngajak kamu bicara! Mama tu! Iih, kamu ini lagi jatuh cinta ya? Biasanya ‘kan kalau cewek bau kencur kayak kamu jatuh cinta kerjaannya tu ngelamun, gak siang gak malem. Kesurupan baru tahu rasa! Hahaha.” Riko mulai melancarkan serangan pertamanya.
Sepertinya Vey sudah mulai terpancing. Alisnya mulai membentuk kesatuan, beberapa kata sudah terancang di otaknya, kata – kata itu terkumpul dan menjadi satu dan siap dikeluarkan. “Heh! Aku bukan kencur lagi ya! Umurku udah 21 tahun. Kakak tu udah tua tapi masih aja belum punya pacar!” Vey belum puas, dia masih melanjutkan serangannya, “Kalau seumuranku jatuh cinta itu wajar, kalau seumuran kakak masih nyari cinta itu malah gak wajar.. hahaha”
Riko mengerucutkan bibirnya, tanda ketidak setujuan yang ditunjukkan melalui raut muka. Memang kalau sudah bicara cinta dan hubungan tentang percintaan, Riko pasti tidak punya jawabannya, karena setiap menghadapi yang namanya cinta, Riko pasti saja mengalami kegagalan. Kegagalan di pertengahan jalan masih wajar, tapi berbeda dengan yang dialami Riko. Dari awal perjalanan cintanya sudah terlalu sering mengalami kegagalan. Bukan salah cewek yang didekati Riko, tapi salah Riko sendiri. Setiap kali ngajak kenalan sama cewek selalu bawa mamanya. Mamanya sudah tidak mau ikut, tapi Riko selalu beralasan agar mamanya mau ikut. Entah malu, entah ragu, atau yang lainnya. Tapi yang paling sering digunakan Riko sebagai alasan adalah, “Riko ‘kan cari mantu buat mama, berarti harus cocok sama mama, kalau sampai mama gak ikut, entar Riko bisa salah pilih, bisa – bisa gak cocok sama mama.” Dan setiap kali alasan itu diluncurkan, mamanya tidak pernah bisa menolak ajakan Riko. Itulah alasan mengapa sebagian cewek jadi illfeel pada pandangan pertama.
“Heh.. heh.. heh.. sudah - sudah. Kalian ini kalau udah ngumpul pasti rame. Ada aja bahan buat didebatin.” Papa mereka merasa gatal telinganya mendengar percekcokan yang tidak jelas arah dan tujuannya itu.
Vey tersenyum mengejek Riko, “Tenang, Pa. Meskipun kita selalu bertengkar begini, tapi Vey sayang dan cinta kok sama kakakku satu – satunya ini. Meskipun tak ada seorang wanitapun yang mencintaimu, tenanglah kakakku tersayang, masih ada aku, keluargamu yang akan memperhatikanmu. Hahaha.” Jelas sekali Vey meledek Riko dengan majas yang begitu ironi. Dia benar – benar puas melihat kakaknya kesal.
“Untung kamu adikku, kalau bukan, udah aku tenggelemin ke sumur!” Sahut Riko kesal. Vey tertawa – tawa sendiri melihat kakaknya menjadi seperti itu. Mama dan papanya hanya bisa geleng – geleng melihat mereka berdua bertingkah.
“Oh ya, Pa. papa bilang rumah ini punya temen nenek ‘kan?” Tanya Vey ketika suasana sudah mulai kondusif.
“Iya, kenapa memangnya?”
“Siapa namanya, Pa?”
“Emmmm, kalau gak salah namanya tu ada Mira Mira-nya gitu. Nama panjangnya Papa lupa.”
“Mira Laksmina.” Sambung mama Vey. “Temen nenekmu itu dulu sering dibawa orang tuanya main ke rumah. Dulu kata Nenekmu, dia gak bakal ke rumah kalau gak dikawal. Biasa, orang kaya. Takut dirampok di jalan, kalau enggak ya takut diculik.” Lanjut mama Vey sambil mengaduk segelas teh yang dipegangnya.
“Emm, Mira Laksmina ya, Ma. Sekarang ada dimana dia, Ma?” Vey menanyakan rasa penasarannya.
“Di panti jompo, kita kemarin yang melakukan transaksi jual beli rumah ini juga dilakukan di panti jompo itu. Kamu sih diajak gak mau. Kenapa kamu nanya gitu? Ada sesuatu yang bikin kamu penasaran ya?”
“Enggak sih, Ma. Cuma nanya aja.”
“Kata nenekmu sih, nek Mira itu pernah diajak tinggal bareng. Tapi dia menolaknya. Padahal niat nenek itu baik. Keluarga nenek dan keluarga Nek Mira itu udah akrab, jadi mungkin nenek pengen nolongin Nek Mira yang lagi dalam kesusahan.” Mama Vey menjelaskan lebih lanjut tentang Mira Laksmina.
“Kesusahan? Kesusahan apa, Ma? Memangnya ada apa?”
“Nek Mira itu katanya sih udah bertahun – tahun tinggal sendiri, keluarganya udah lama meninggal karena kecelakaan. Oleh karena itu, dia lebih memilih tinggal di panti jompo daripada di rumah besar ini. Katanya sih kalau di sini dia gak ada yang bisa ngerawat, gak ada temen, gak ada siapa – siapa buat diajak bicara. Kalau di panti jompo kan ada perawat yang bisa jagain dan ngerawat dia.”
“Kalau memang gitu alasannya, kenapa gak tinggal bareng nenek aja ya, Ma? Nenek ‘kan temennya juga.”
“Katanya sih, Nek Mira gak mau ngerepotin dan menyusahkan nenekmu.”
“Mama tahu detil ceritanya?” Vey sepertinya ingin tahu lebih dalam lagi.
“Ya nggaklah, kamu kira Mama wartawan yang bisa mewawancarai kehidupannya orang.” Mama Vey tertawa kecil.
“Aah Mama gak asyik. Aku kira Mama tahu banyak.” Vey memperbaiki duduknya setelah menjumut sebuah kue coklat buatan mamanya di atas meja.
“Memangnya kamu kenapa kok banyak nanya tentang pemilik rumah ini?” Tanya papa Vey.
“Ya cuma pengen tahu aja, siapa tahu ada yang menarik.” Vey tersenyum, dia berencana untuk menyembunyikan penemuan sebelum dia tahu pasti alur – alur cerita yang sebenarnya.
“Kak Riko.” Vey menggoda Riko yang dari tadi diam saja sambil sibuk melahap kue – kue mungil bikinan mamanya itu. Riko sedang meneguk minumannya ketika Vey memanggilnya sambil menyenggol lengan Riko. “Ukkhhuuk..” Mungkin sedikit teh yang masuk dalam mulutnya menyerong ke tenggorakan gara – gara senggolan Vey. “Apaan sih kamu, lihat – lihat dulu dong kalau mau nyenggol.” Gerutu Riko.
“Hehehe, maaf deh. Kak, besok ada acara gak??” Ketika Vey mulai menunjukkan tampang dan sikap manis pada Riko, itu pertanda bahwa sedang ada maksud tertentu yang akan dilancarkan oleh Vey.
“Sibuk, sibuk banget.” Jawab Riko acuh tak acuh. “Aaaah, kakak, ayo dong yang bener.. “ Vey tersenyum dan bergelayut manja pada lengan Riko. “Iih, apaan sih kamu. Kamu kalau lagi sok manis gini nyeremin tahu gak!” Riko berkelit, berusaha menghindari rangkulan tangan Vey. Tapi Vey masih saja mengejar lengannya.
“Kakaaaaak.”
“Apaan sih Vey.. kamu itu lama – lama kayak orang kesurupan beneran, tiba – tiba nyerang tiba – tiba sok manis. Nyeremin!” kata Riko sambil berusaha berkelit dari kejaran tangan Vey. “Aku cuma pengen minta anter ke rumah nenek besok.”
“Mau ngapain sih, bukannya baru kemarin yang ke rumah nenek? Kemarin waktu kita pamitan mau pindahan rumah, inget gak?” Kata Riko, Vey mulai reda, tidak mengejar – ngejar lengan Riko lagi. “Aku cuma pengen denger cerita nenek tentang temennya ini.”
“kamu ini kenapa sih Vey? Kok kayaknya penasaran banget? Kamu nemuin sesuatu yang bikin kamu penasaran ya?” Papa Vey mulai mencurigai tingkah laku Vey yang begitu keras keingin tahuannya mengenai Mira Laksmina. “Apalagi rumah nenek itu jauh dari rumah kita yang sekarang ini. Butuh dua jam perjalanan untuk sampek. Apalagi besok Riko sama kamu masih harus bantu beres – beres rumah, besoknya lagi kalian juga harus bantu proyek bisnis papa biar cepet kelar.”
Vey cemberut, dia menekuk sebagian wajahnya, sifat manja pada dirinya masih saja ada meskipun umurnya sudah begitu dewasa. Mungkin itu karena faktor kakak adik. Dia adalah anak paling bungsu. Biasanya, anak paling bungsu adalah anak yang memiliki sifat manja yang lebih dibanding dengan anak sulung. Tetapi tidak semua kejadian seperti itu.
“Terus, kapan kita bisa pergi ke kota?”
“Mungkin satu minggu lagi, sekalian beli cat dan beberapa perabot rumah yang dirasa kurang.” Jawab papanya dengan tenang.
“Oya, Pa. Sekalian mama juga mau ikut kalau mau keluar. Mama mau belanja keperluan dapur untuk seminggu, biar gak belanja – belanja ke pasar. Kata ibuk sih pasar di sekitar sini agak jauh, harus jalan kaki dulu. Mama ‘kan gak terbiasa jalan kaki.” Mama Vey menyumbang kata – kata untuk rencana minggu depan itu.
Untuk beberapa saat suasana menjadi sepi. Vey masih terganggu pikirannya dengan rasa penasaran yang menjadi, sedangkan Riko, mama, dan papanya sibuk berkutat dengan makanan yang tersedia. Menit – menit selanjutnya suasana pedesaan yang sejuk dan menenangkan begitu terasa. Mereka hanya diam dan memandang keluar jendela yang berlukiskan pemandangan desa yang menghijau.
Share:

2 komentar:

  1. Makin penasaran :D
    oh iya, makasih udah folback blog aku ;)
    salam kenal yaaaa...

    Hampir lupa, tadi aku sempat baca ada kata tenggorakan. Itu emang benar tenggorakan atau tenggorokan?
    hehehehehe, makasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga :D
      makasih udah baca blogku.. :D

      eh, maaf itu tenggorokan aslinya, tapi waktu ngetik jariku keseleo, jadinya malah tenggorakan.. hehehhe :D

      Hapus