15 Desember 2013

"50 PENA CINTA" part 9



BAGIAN 9
“Pencarian Cinta”
Matahari mulai meninggi ketika Vey dan Nek Mira berada di ruang makan di hotel itu. Riko yang masih mendekap guling dan berlindung di bawah selimutnya dibiarkan menikmati tidurnya oleh Vey. Vey berpikir perjalanan pertamanya dengan Nek Mira lebih baik tanpa Riko.
“Riko gak dibangunin, Vey?” Nek Mira bertanya pada Vey setelah melahap habis sarapan paginya di ruang makan hotel tersebut.
“Kasihan, Nek. Semalem tidurnya larut banget Kak Riko. Lebih baik kita berdua aja, entar kalau dia ikut pasti ngeluh ngantuk terus.”
“Yasudah kalau gitu kita mau berangkat kapan ini?” Tanya Nek Mira sambil membenahi bajunya yang agak kusut karena duduk.
“Sekarang, Nek. Ayo. Nenek udah siap ‘kan?”
“Siap dong!” Jawab Nek Mira dengan semangat.
Mereka beranjak meninggalkan ruangan itu. Taksi yang sudah dipesankan oleh pihak hotel siap mengantar mereka ke tempat tujuan. Sopir taksi menoleh pada Vey dan Nek Mira yang sudah siap untuk berangkat.
“Kemana Bu?” Tanya sopir taksi dengan sopan dan ramah.
“Oh, iya, ini, Pak alamatnya.” Vey menyerahkan selembar kertas berisi sebuah alamat. Itu adalah alamat Raja Kuswantoro. Vey sudah memperkirakan pencariannya. Dia memperkirakan pencarian pertamanya adalah menuju alamat Raja Kuswantoro yang ada di alamat surat yang diterima Nek Mira dulu.
“Itu alamat yang disurat ya, Vey?” Nek Mira bertanya pada Vey. Sebenarnya Nek Mira sudah tahu jawabannya, tapi hanya sekedar basa basi agar tidak kering suasananya.
“Iya, Nek. Nanti kalau memang Raja pindah rumah atau gimana, nanti kita Tanya pada tetangga – tetangga di sekitar. Atau, kalau memang Raja dulu itu menggunakan alamat orang lain untuk mempermudah sampainya surat, pastinya kita bisa memperkirakan kalau Raja adalah penduduk di sekitar rumah itu juga.”
Nek Mira mengangguk. Untuk beberapa saat, mereka terdiam, mereka hanya memperhatikan beberapa hal yang dilewati oleh taksi. Sesekali pikiran Vey memikirkan kakaknya yang ditinggal sendirian di kamar hotel.
***
“Huaaaaaoooom… eemmmmm…” Riko menggeliatkan tubuhnya, menarik semua otot yang kaku ketika tidur. Dia masih terdiam memandang langit – langit kamar. Pikirannya masih melayang membayangkan mimpi indah yang baru saja dia nikmati.
“Mimpi ketemu putri cantik.. hehehehe” Riko cengar – cengir sendirian, sesekali dia menutup wajahnya dengan bantal. Matanya masih terpaku pada langit – langit kamar. Setelah beberapa saat dia melamun, tiba – tiba wajah putri cantik itu berubah menjadi wajah Vey dan Nek Mira.
“Ya ampun.” Riko langsung bangkit, dia baru ingat kalau ada janji dengan Vey dan Nek Mira. “Ya ampun ya ampun, jam berapa sekarang jam berapa jam berapa????” Riko heboh sendiri, dia segera mencari – cari ponselnya. Setelah mendapatkan ponselnya di bawah bantal, dia baru sadar kalau waktu sudah berjalan terlalu siang. Pukul 10.00.
“Aduh aduh, Vey pasti ngomel – ngomel ini.” Riko langsung mencari kontak telepon Vey.  Dia menelepon Vey untuk memastikan bahwa Vey belum berangkat.
“Halo? Vey? Kakak kesiangan. Tetep jadikan?”
“Jadi dong, Kak.”
“Yaudah – yaudah Kakak mau mandi dulu.”
“Gak usah, orang aku udah di jalan sama Nek Mira. Hahaha, Kakak Vey tinggal. Kasihan ngelihat mukanya mengenaskan waktu tidur, jadi gak tega buat bangunin.”
“Mengenaskan? Memangnya korban tabrak lari pake acara mengenaskan segala!”
“Kalau gak percaya ngaca aja sekarang!”
Riko keheranan, dia segera berlari ke depan cermin. Dan sesuatu terjadi.
“AAAAAAAAAARRRRRRGGGGHHHHHHH VEEEEEEYYY… Awas kalau ketemu!!!!!!” Teriak Riko. Dia heboh sendiri melihat wajahnya yang tidak dapat terlukiskan dengan kata – kata.
Wajah Riko penuh oretan spidol merah, biru, dan hitam. Oretan itu membentuk lukisan abstrak karya Vey. “Hahahahaha….” Vey tertawa kemudian mematikan teleponnya tanpa permisi.
“Kurang ajaaaaar….” Riko kesal. Dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan mukanya. Untuk waktu yang agak lama, Riko masih di kamar mandi berusaha menghilangkan warna – warna abstrak itu.
***
“Kamu apakan Kakakmu, Vey?” Tanya Nek Mira merasa penasaran melihat wajah Vey yang begitu senang. “Hahahaha, tadi Vey memberikan salam pagi untuk Kakakku tersayang, Nek. Hehehhe”
“Hemm, kamu ini.” Nek Mira menggeleng - gelengkan kepalanya melihat tingkah Vey yang masih seperti anak – anak.
Perjalanan sudah sampai di tujuan. Mereka turun dari taksi setelah membayarnya. Tepat di hadapan mereka sebuah gerbang yang begitu besar. Ini jelas rumah orang kaya. Rumahnya begitu rumit untuk dijelaskan. Besar. Seorang satpam yang menjaga rumah itu menghampiri Vey dan Nek Mira yang berada di depan gerbang.
“Perlu dengan siapa, Bu?” Tanya satpam itu dengan sopan pada Nek Mira.
“Kami dari Bogor, Pak. Ingin mencari Raja Kuswantoro.” Kata Nek Mira dengan sopan.
“Oh? Teman bisnis mungkin ya?” Tanya satpam tersebut sambil tetap memasang wajah sopan.
“Hah? Ti..” kata – kata Nek Mira langsung di potong oleh Vey.
“I.. iya, Pak. Kami teman bisnis yang dari Bogor. Jauh – jauh untuk membicarakan masalah bisnis yang sedang kami hadapi. Bisa antarkan kami pada beliau?” Kata Vey dengan sungguh – sungguh. Vey berpikir, jika dia berkata yang sebenarnya satpam itu tidak akan percaya dan pastinya mereka akan diusir
“Oh, iya tunggu saya bukakan dulu pintu gerbangnya.” Satpam penjaga rumah itu membukakan gerbang untuk Nek Mira dan Vey. Dengan mantap Vey langsung berjalan memasuki gerbang menuju pintu masuk rumah, Nek Mira yang ada di belakangnya mengikuti langkah Vey dengan pasti.
Ketukan pintu pertama Vey lancarkan. “Hey, Vey. Untuk apa di ketuk? Ini ada belnya.” Kata Nek Mira sambl tersenyum. “Eh? Hehehe, gak ngelihat, Nek. Nyelempit sih tu bel.” Vey kemudian menekan bel rumah beberapa kali. Terdengar langkah kaki yang mendekati pintu.
“Perlu dengan siapa ya?” Seorang pelayan rumah tangga membukakan pintu rumah dan bertanya dengan sopan pada Vey dan Nek Mira.
“Kami perlu dengan Raja Kuswantoro. Kami dari Bogor. Perkenalkan saya Vey dan ini nenek saya Mira Laksmina. Katakana pada tuanmu, Mira Laksmina mencarinya.”
“Oh baik, tunggu sebentar.” Laki – laki beruban itu kembali menutup pintu kemudian masuk kembali kerumah.
“Siapa, Pak Umar?” Tanya seorang pemuda yang ada di dalam rumah itu.
“Seseorang bernama Mira Laksmina dari Bogor mencari tuan Raja, Tuan.”
Pemuda tadi terlihat terkejut. Dia diam sejenak. Kemudian berkata pada pembantunya itu.
“Katakan kalau rumah ini sudah dijual padaku oleh pemilik sebelumnya. Dan katakana kalau pemilik sebelumnya adalah tuan Raja.”
“Mengapa begitu, Tuan? Bukankah..”
“Jangan banyak Tanya. Katakan pada mereka kalau kita hanya mengenal tuan Raja sebagai penjual rumah ini. Bila mereka bertanya kemana tuan Raja pindah, itu terserah kamu mau bilang pindah kemana.”
Pembantu itu begitu menurut. Dia langsung kembali ke pintu untuk menyampaikan pesan tuannya itu.
“Maaf, Nyonya. Tuan Raja yang Nona dan Nyonya tanyakan itu memang pemilik rumah ini, tapi itu sebelum tuan saya membeli rumah ini darinya.”
“Maksudnya? Siapa tuanmu yang sekarang?”
“Nama Beliau adalah Dirga Dirwan Putra. Beliau membeli rumah ini dari tuan Raja Kuswantoro.” Pembnatu itu berusaha berkata dengan lancer tanpa dicurigai.
“Loh? Sejak kapan?” Tanya Vey penasaran.
“Sejak… sejak beberapa tahun yang lalu. Sudah lama, Non. Saya sudah lupa kapan itu.”
“Kalau memang pindah, apa Anda tahu dimana sekarang Raja Kuswantoro tinggal?” Tanya Nek Mira dengan cemas.
“Emm, itu.. mungkin di daerah barat sana sekitar jalan Pattimura. Saya tidak tahu pasti. Dulu beliau hanya menunjuk jalannya saja ketika kami menanyakan rumahnya yang sekarang.”
“Oh, begitu. Baiklah. Terima kasih, Pak. Sampaikan salam kami pada Tuanmu. Maaf sudah mengganggu.” Kata Nek Mira sambil menarik tangan Vey.
Dari dalam rumah pemuda tadi memperhatikan Vey dan Nek Mira yang mulai melangkah menjauhi rumahnya. “Gadis itu… Bukankah dia…”
***
Riko baru saja selesai mandi. Dia masih dengan handuknya duduk di atas sebuah kursi yang menghadap cermin. Dia mengambil ponselnya yang berada tepat di depannya. Ponselnya diperhatikan dengan sungguh – sungguh. “Kenapa Vey gak ngubungi lagi ya? Apa dia baik – baik aja sama Nek Mira? Hemmm, kalau sampai terjadi sesuatu pasti nanti aku yang disalahkan papa sama mama.”
Riko berpikir untuk menelepon adik satu – satunya itu. Tapi segera berubah ketika mengingat kejadian tadi pagi yang membuatnya menjadi lukisan abstrak karya Vey. “Aaaah, enggak deh. Biarin aja dia sama Nek Mira. Entar kalau ada apa – apa pasti nelepon aku. Hemm, sekarang enaknya ngapain nih..”
Riko melempar ponselnya ke tampat tidur yang ada di belakangnya. Seketika dia mengingat seseorang yang pasti bisa membawanya jalan – jalan kemanapun dia mau. “Si pria gembul. Ramon. Iya betul – betul. Aku harus ngubungi dia. Hahaha, ada manfaatnya juga si gembul itu. Hehehe.”
Riko mencari selembar kartu nama yang di suguhkan Ramon waktu di bandara kemarin. Dia menemukannya di kantong jeans miliknya. Kondisi kartu nama itu begitu memprihatinkan. Lucek, lusuh, kumel, membentuk bola kertas. Riko merapikannya. Berharap nomer ponsel yang ada di kartu nama itu tidak kurang satu nomerpun karena lusuh.
“Naaaah.. sempurna ni. Tinggal calling langsung jalan. Hehehe.” Riko menekan nomer demi nomer sesuai dengan yang tertera di kartu nama itu. Terdengar panggilan yang diterima oleh seseorang di seberang sana. Itu suara si gembul Ramon.
***
Taksi yang ditumpangi Vey dan Nek Mira berjalan menuju jalan Pattimura, sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh pembantu beruban tadi. Raut wajah Nek Mira sedikit murung. Mungkin karena titik terang yang pertama dia dapatkan redup begitu saja.
“Nenek kenapa? Sedih ya? Tenang saja, Nek. Kita masih punya kesempatan untuk mencari kekasih hati Nenek.” Vey tersenyum dan menggenggam tangan Nek Mira, berusaha untuk menyulut api semangat Nek Mira kembali. Nek Mira menoleh dan membalas senyum Vey, dia tersenyum. “Iya Vey. Nenek gak papa kok. Tenang aja.”
Perjalanan ke jalan yang ditunjuk pembantu tadi ternyata jauh juga. Butuh sekitar satu jam. Itu pun karena macet. Maklumlah, waktu itu adalah waktu liburan, banyak yang berlibur, banyak pula kendaraan yang digunakan untuk berlibur, itu menyebabkan macet yang tidak begitu parah.
Setelah lama menunggu, sampailah mereka disebuah jalan. Vey dan Nek Mira turun dari taksi. Mereka masih berdiri di tempat ketika taksi pergi meninggalkan mereka. “Bagaimana kita mencarinya Vey? Kita belum tahu alamat barunya.”
“Gak sulit kok, Nek. Hehehe. Tinggal nanya perumah aja. Butuh tenaga, tapi kita ‘kan punya waktu banyak untuk mencarinya.” Vey tersenyum pada Nek Mira. “Ayo, Nek kita mulai operasi pencarian Raja.” Vey menarik tangan Nek Mira. Vey sadar bahwa mencari dengan cara seperti itu sungguh sangat mustahil untuk cepat ditemukan, tapi Vey tidak mau menyampaikan kata mustahil pada Nek Mira. Vey bertekad bahwa Nek Mira hanya boleh mendengar kata semangat, buka kata mustahil.
“Cinta butuh perjuangan ‘kan, Nek? Sekarang kita tunjukkan kalau perjuangan untuk cinta itu memang benar ada.” Vey berkata dengan santai pada Nek Mira setelah mendapatkan satu rumah yang tidak ada nama Raja sama sekali di dalam rumah itu.
Beberapa langkah agak jauh dari rumah itu, Vey kembali bertanya pada orang. “Permisi, Pak. Boleh bertanya? Kami ingin menanyakan nama orang.” Kata Vey dengan sopan.
“Ya? Silahkan, Nak.” Jawab seorang pria paruh baya yang sedang duduk – duduk di teras rumahnya.
“Raja Kuswantoro, apakah anda kenal dengan nama ini?”
“Oooh, Raja maksudmu, Nak? Iya iya, saya tahu. Rumahnya selisih tiga rumah dari sini. Kanan jalan, bercat biru. Di sana rumahnya.” Pria paruh baya tadi menunjuk rumah yang agak jauh terlihat dari tempat mereka berada.
“Terima kasih, Pak.” Vey dan Mira tersenyum, sepertinya ada sedikit petunjuk untuk menemukan Raja. Mereka berdua berjalan beriringan menuju rumah bercat biru itu. Sesampainya di depan rumah, mereka langsung menjumpai seorang perempuan tua. Nek Mira mengernyitkan alisnya. Vey sepertinya mengerti apa yang dipikirkan Nek Mira.
“Nenek pasti berpikir dia adalah istri Raja?” bisik Vey pada Nek Mira. Nek Mira tersenyum, dia menyenggol tangan Vey. Vey tersenyum melihat tingkah Nek Mira. Rumah sederhana itu terlihat begitu sejuk, Vey memasuki halamannya dengan penuh kesopanan. Orang tua tadi menyambutnya dengan ramah.
“Perlu dengan siapa ya?” perempuan tua tadi tersenyum dengan sopan.
“Kami perlu dengan seseorang bernama Raja. Raja Kus…”
Belum sempat Vey melanjutkan kata – katanya, perempuan tadi langsung menanggapi. “Oh Raja. Jadi kamu calon istrinya itu ya? Ooh, iya iya tunggu ya.”
Vey dan Nek Mira plonga plongo, mereka saling pandang. “Calon istri?” Vey bertanya – Tanya. Mereka berdua masih berdiri di depan rumah menunggu kepastian perempuan tua tadi. Langkah kaki manusia terdengar banyak melangkah menuju pintu. Terlihat empat orang di sana. Perempuan tua tadi, seorang kakek tua, perempuan paruh baya dan seorang pemuda berpenampilan hitam – hitam, bibir berlipstik hitam, baju hitam, tindik telinga hitam, eye liner hitam, gayanya seperti anak punk.
“Raja, gadis ini mencarimu.” Eyalaaah, anak punk itu adalah Raja katanya. Vey dan Nek Mira ingin tertawa tapi ditahan sekuat tenaga. “Ini Raja?” Tanya Nek Mira. “Iya, gimana sih? Masak pacar sendiri gak kenal. Ini nenekmu ya, Nak?”
“Maaf, kami salah orang. Yang kami cari itu Raja Kus…” belum selesai Vey berkata perempuan tua tadi menyambungnya sendiri.
“Iya.. Raja Kusmudi ‘kan? Ya ini anaknya.”
“Bukan, Raja Kuswantoro.” Kata Vey dengan cepat, dia takut kata – katanya di cegat lagi oleh perempuan tua itu.
“Nek, dia bukan pacarku. Pacarku lebih subur badannya. Naaaah, itu itu.. itu yang di sana baru pacarku.” Anak punk tadi menunjuk ke arah belakang Vey dan Nek Mira. Seorang perempuan bertubuh subur makmur terlihat. Ketika mereka sibuk dengan pertemuan anak punk dan si gembul part 2, Vey dan Nek Mira segera kabur tanpa kata.
Vey dan Nek Mira tertawa – tawa mengingat kejadian yang baru saja mereka hadapi. Mereka tetap terus berjalan menyusuri jalan Pattimura sambil tertawa, bukan karena gila, tapi karena masih saja ingatan anak punk tadi melekat pada benak mereka berdua.
Tak berapa lama kemudian mereka kembali bertanya lagi pada seorang perempuan yang berjalan melintas di hadapan mereka yang sedang duduk melepas lelah di sebuah warung kecil. Dan kali ini, Vey menanyakannya dengan lebih spesifik agar tidak terjadi kesalahan seperti tadi.
“Raja namanya, Bu. Beliau umurnya sekitar 63 tahun. Ibu tahu dimana rumahnya?”
“Oh, kakek tua itu ya? Yang rentenir itu? Mau apa kamu, Nak? Mau pinjem uang? Ya ampun, kamu kan masih muda. Awas kamu nanti dinikahi dia kalau sampai gak bisa bayar hutang.”
“Hah?” Vey dan Nek Mira hanya menganga mendengar itu.
“yasudah kalau kamu sudah nekad, sini ibu kasih tahu. Jalan dari sini luruuus, belok kiri, ada tangga dari tanah, turun, terus jalan 100 meter ada belokan ke kanan, belok kanan, terus luruuuus.. di ujung jalan ada rumah gak begitu besar, itu rumahnya.”
Vey dan Nek Mira masih menganga ketika ibu penunjuk jalan tadi pergi menghilang dari hadapan mereka. Vey menelan ludahnya, dia menoleh pada Nek Mira. “Kita coba saja, Nek. Mudah – mudahan saja itu tidak benar ya..” Vey berusaha tersenyum. Nek Mira tertawa melihat ekspresi Vey yang dipaksakan itu.
Mereka berjalan mengikuti petunjuk dari perempuan tadi. Jalan lurus, kemudian ada belokan ke kiri, mereka berbelok ke kiri, kemudian ada tangga yang di bentuk dari tanah, tangga itu menurun, tidak begitu tinggi. Setelah turun dari tangga mereka berjalan lurus 100 meter, kemudian ada belokan ke kanan, dan kembali berjalan lurus. Sampailah di ujung jalan. Ada sebuah rumah tidak begitu besar. Itu adalah rumah satu – satunya yang ada di ujung jalan itu.
Vey dan Nek Mira memasuki halaman rumah yang katanya adalah rumah Raja. Ada seorang pemuda menyapu di halaman itu. Vey menghampirinya dengan niat untuk bertanya apakah benar itu rumah Raja yang Vey maksud.
“Permisi, maaf mengganggu.”
“Iya, ada apa ya?”
“Apa benar ini rumah Raja Kuswantoro?”
“Raja? Raja Kuswantoro?” Tanya pemuda itu terheran – heran.
“Iya, Raja Kuswantoro. Apa benar di sini rumahnya?” Belum sempat pemuda tadi menjawab, seorang kakek tua keluar dari rumah itu sambil berkata. “Ya benar, di sini rumah Raja. Silahkan duduk.”
Vey menoleh pada Nek Mira yang ada di belakangnya. Vey tersenyum kemudian menarik tangan Nek Mira. Mereka berdua duduk di kursi yang sudah di sediakan untuk tamu. “Baiklah, berapa yang ingin kalian pinjam?” Tanya kakek tua tadi.
“Maaf sebelumnya, saya ingin bertemu dengan Raja Kus….”
“Iya, saya ini Raja.. Raja Uang. Begitu orang menyebut nama saya.”
Nek Mira tersenyum – senyum, Vey menggigit bibirnya, dia menahan tawa yang sebenarnya ingin meledak saat itu juga.
“Jadi Anda bukan Raja Kuswantoro?” Tanya Vey dengan senyum – senyum.
“Raja Kuswantoro? Siapa lagi itu? Saya ini Raja Uang. Ayo cepet bilang kalian  mau pinjam berapa?” Kakek tua itu berkata sambil menunduk menghitung uangnya. “Kalian tidak usah malu – malu, pake acara cari Raja Kuswantoro. Bilang aja langsung cari Raja Uang buat ngutang. Tidak apa – apa. Jangan malu – malu. Tinggal bilang mau pinjam berapa nanti akan saya berikan. Asal ingat ya.. bunga peminjamannya itu 15 persen. Kalau sampai telat nanti kena denda lain. Bagaimana? Kalian setuju?” Kakek tua tadi mendongakkan kepalanya. Di depannya sudah sepi, tak ada orang satu pun. Pemuda yang memegang sapu – sapu tadi hanya memandang tuannya sambil menganga.
“Loh? Kemana mereka?”
“Pergi daritadi, Tuan.”
“Loh loh.. mereka itu benar – benar pemalu.. yasudahlah, nanti kalau benar – benar butuh uang mereka pasti balik lagi.”
Sementara itu, Vey dan Nek Mira sudah jauh dari rumah itu. Mereka tertawa kembali ketika mengingat kejadian itu. Vey dan Nek Mira memutuskan untuk melanjutkan pencariannya esok hari. Hari ini sudah terlalu sore.
“Gak kerasa udah sore ya, Nek. Vey lapar. Pengen cepet – cepet balik ke hotel.”
“Iya, Vey. Nenek juga sudah kerasa laparnya. Kalau tadi pas waktu lari – lari sama kamu laparnya masih belum kerasa. Masih lebih kerasa serunya. Nenek gak pernah bepergian sebebas sekarang ini.” Kata Nek Mira sambil tersenyum puas. Dia bersandar pada sandaran kursi taksi. Kelelahan mungkin, maklumlah, umurnya yang sudah 62 tahun tidak memungkinkan untuk menyimpan tenaga lebih untuk hari ini. Vey memandang Nek Mira. Dia teringat pada Neneknya di Bogor. Kalau neneknya sedang kelelahan, beliau paling suka dipijat badannya. Vey pun melakukan hal yang sama pada Nek Mira saat itu. Nek Mira tersenyum pada Vey. Dia diam dan menikmati pijatan Vey pada lengan dan pundaknya.
***
Baru saja Vey dan Nek Mira menghabiskan makanan mereka. Itu adalah makan siang mereka di sore hari. Mereka duduk bersantai di tepi kolam renang. Sampai saat itu mereka masih belum melihat batang hidung Riko. Vey mulai mencemaskannya.
“Kakakmu gak ngubungi kamu sama sekali seharian, Vey?” Tanya Nek Mira yang duduk di sebelah Vey. “Enggak, Nek. Vey jadi cemas ni. Apa Kak Riko ngambek gara – gara Vey kerjain tadi pagi? Apa dia udah balik ke Bogor ya, Nek? Duuh, nanti Vey yang dimarahi mama sama papa ni.” Vey mulai benar – benar khawatir tentang keberadaan kakaknya itu.
“Coba hubungi lagi. Jangan cemas dulu. Siapa tahu Riko cuma jalan – jalan aja.” Nek Mira mencoba menenangkan Vey. Vey menuruti kata – kata Nek Mira. Dia mengambil ponsel di selipkan di saku jeansnya. Kemudian menekan tombol – tombol ponsel untuk mecari kontak Riko.
Ponselnya sudah menempel di telinganya ketika tangan seseorang memegang pundaknya. “Haloooo adikku sayang…” Riko terlihat di belakang Vey. Dia bersama seseorang bertumbuh gembul. Dia adalah si gembul part 1, Ramon. “Kakak?” Vey kaget sekaligus lega melihat kakaknya ada dihadapannya dengan utuh tanpa kekuarngan apapun.
“Kemana saja? Kenapa gak ngasi kabar?” Tanya Vey sedikit kesal. “Bukannya kamu yang gak ngasi kabar? Kakak ditinggal gitu aja. Ya akhirnya Kakak pergi deh jalan – jalan sama Ramon. Masih ingat ‘kan? Ini Ramon. Yang di bandara itu.”
“Oh, iya, terima kasih ya, Mon, udah ngajak Kak Riko jalan – jalan. Maaf kalau Kak Riko merepotkan.” Kata Vey sambil menjabat tangan Ramon. “Oh, tidak apa – apa! Aku malah senang dapat teman seheboh Riko. Dia asyik orangnya. Kita juga sudah punya rencana besok, buat cari cewek.. buat dia. Hehehe” Jelas Ramon. Vey melirik Riko. Sepertinya Riko mengerti maksud Vey.
“Iya, kita nanti cari ceweknya sekalian sama nyari Raja kok. Hehehe, jadi Ramon besok sekalian nganter kita muter – muter cari Raja. Tenang saja. Aku gak bakal lupa janji kok.” Riko tersenyum pada Vey dan Nek Mira.
“Iya betul kata Riko, tadi Riko sudah banyak cerita tentang Raja yang mau kalian cari itu. Tenang saja, aku akan membantu.”
Nek Mira tersenyum, kemudian berkata pada Ramon, “Apa tidak merepotkan, Nak?” Ramon tersenyum sopan pada Nek Mira. “Tidak kok, Nek. Sesame manusia ‘kan harus saling membantu.”
Menit – menit selanjutnya mereka masih bercakap – cakap sampai akhirnya Ramon pamit pulang. Ajakan makan malam ditolak oleh Ramon dengan alasan sedang ada janji kencan dengan pacarnya yang ketiga.
Malam mulai menjajah siang. Menggantikan warna langit yang biru menjadi hitam legam. Malam itu seperti biasa, bintang tetap berkerlipan menemani bulan yang tenang menyinari malam yang pekat.
Share:

1 komentar: