14 Desember 2013

"50 PENA CINTA" part 8



BAGIAN 8
“Tanah Raja Kuswantoro”
Lingkungan baru yang tidak mereka kenal terpampang jelas dihadapan mereka. Tanah itu tanah Lombok. Tanah tempat Raja Kuswantoro berasal. Mereka berjalan keluar bandara. Riko yang mukanya lusuh tambah lusuh ketika orang gemuk yang duduk di sampingnya tadi mengejarnya.
“Aduh, apa lagi sih ni orang.” Gerutu Riko. Nek Mira dan Vey terheran – heran melihatnya.
“Hey Mas. Ini kartu nama saya, siapa tahu Mas butuh sesuatu di Lombok ini. Saya asalnya dari tanah ini Mas. Jadi kalau Mas kebingungan sama sesuatu di sini tinggal panggil saya saja. Saya siap membantu. Namanya manusia ‘kan harus saling bantu membantu.” Orang itu tersenyum dan menoleh kea rah Nek Mira dan Vey.
“Oh, ini adik Mas yang mau dihajar itu ya?” Orang gemuk itu mengulurkan tangannya pada Vey. Bermaksud mengajak Vey kenalan.
“Nama Saya Ramon, Mbak.” Si Gemuk tadi menyebutkan namanya.
“Vey.” Vey memaksa tersenyum, dia masih kebingungan. Setelah berjabatan tangan dengan Nek Mira juga, Ramon kemudian pergi meninggalkan mereka di teras bandara.
“Mau dihajar? Siapa maksudnya Ramon tadi hah?” Tanya Vey sambil melirik sinis pada Riko.
“Ngehajar orang kayak kamu itu udah sepantasnya Kakak lakuin dari berangkat tadi, tapi masih kasihan aja.” Riko langsung menanggapi kata – kata Vey. Seperti biasa, Vey tidak akan pernah mau kalah.
“Hah? Iih, Vey kasih tahu papa entar ya! Kakak gak ikhlas jagain Vey!” Vey merajuk, dia mengeluarkan ancamannya agar Riko dapat dikalahkan.
“Ikhlas sih ikhlas, tapi gak dibuang dibagian sesak desak kayak tadi juga!“ Gerutu Riko sambil mengipas – ngipas lehernya yang masih kepanasan sisa panas di pesawat tadi.
“Loooh, itu ‘kan salah Kakak gak punya uang!” Vey menjulurkan lidahnya, meledek Riko yang merasa teraniaya.
“Kamu itu.. Kakak ‘kan udah bilang kalo…”
“Hus hus hus… sudah – sudah! Kalian ini, berantem terus hobinya, betul kata mama kalian, hemm, gak ada yang mau ngalah, kalian ini kayak anak – anak aja, gak usah tengkar lagi ya, entar pulangnya Riko biar nenek yang bayarin tiket pesawatnya biar bisa duduk bareng, gak misah – misah kayak tadi. Yasudah sekarang ayo kita langsung cari hotel. Istirahat terus besok baru kita rencanain pencariannya.” Kata Nek Mira menengahi pertengkaran yang tidak mungkin ada penyelesaiannya.
“Siaaap, Nek Mira!” Vey begitu semangat.
Sebuah taksi bandara sudah siap mereka tumpangi. Riko duduk di depan menemani sopir. Sedangkan Nek Mira dan Vey duduk di belakang. Sepanjang perjalanan menuju hotel, Nek Mira dan Vey terus bercakap – cakap tentang berbagai hal yang nantinya akan mereka lakuin di pulau yang luar biasa indahnya itu. Sedangkan Riko hanya plonga – plongo di depan. Dia hanya diam. Matanya menyusuri setiap jalan yang mereka lewati. Sesekali dia melihat gadis manis, tapi hanya sekelebat dan hilang begitu saja, kemudian berganti gadis lain lebih manis dan ada juga yang lebih jelek.
Sesekali Riko membayangkan salah satu diantara mereka menjadi pacarnya. Maklumlah, pikiran seorang jomblo kadang begitu. Dan ketika dia tersadar, dia akan menghela nafas panjang sambil bergumam dalam hati “Andai aja beneran.” Begitulah seterusnya. Riko lebih sibuk pada lamunannya sendiri.
Beberapa menit kemudian, hotel yang dimaksud sudah terlihat jelas. Taksi yang ditumpangi mereka tadi berhenti tepat di depan hotel. Vey dan Nek Mira turun, kemudian disusul Riko yang baru bangun dari lamunannya setelah di sadarkan oleh sopir taksi itu. Koper – koper mereka sudah diturunkan, taksi dibayar, kemudian pergi meninggalkan mereka di depan hotel.
“Waaah, hotel ini bagus ya, Nek.” Vey terpesona akan keindahan hotel yang ada di depannya. “Bagus banget selera pak sopir taksi tadi ya, Nek.”
“Iya betul, Vey. Ayo masuk.” Kata Nek Mira menyetujui kata – kata Vey tentang hotel yang ada di hadapannya sekarang.
Hotel tersebut adalah hotel pilihan sopir taksi tadi. Mereka bertiga tidak pernah tahu Lombok, jadi waktu kebingungan memilih hotel mana yang bagus, akhirnya mereka bertanya pada sopir taksi yang mereka tumpangi itu. Dan hasilnya tidak mengecewakan. Hotelnya bagus. Kata sopir tadi, hotel ini biasanya ditempati orang – orang penting yang berkunjung ke Lombok.
Vey dan Nek Mira berada di lobi, dia akan segera memesan kamar untuk beberapa hari di Lombok. Riko terlihat cemas, dia ada di belakang Vey. Vey sepertinya sadar itu, Vey menoleh ke belakang dan bertanya, “Kenapa, Kak?”
“Kamu ini! Ini hotel mahal! Gimana nanti kalau uang Kakak gak cukup buat beberapa hari? Kakak ‘kan juga pengen belanja! Entar uangnya habis Cuma buat bayar kamar aja! Kamu ini kadang – kadang kalau dipikir – pikir kejam juga ya!” Riko mengoceh kesal.
Vey tertawa melihat kakaknya yang sedang kebingungan itu. “Kakak! Kamar Kak Riko udah Vey bayarin. Nanti Vey sekamar sama Nek Mira. Kakak bisa pake kamar yang sudah Vey bayar itu.”
“Tumben baik? Hahahaha, oke deh. Dengan berat hati Kakak terima tawarannya.” Riko tertawa lega mendengar kabar tentang dirinya yang tidak akan ditelantarkan lagi seperti tadi.
“Alaaaah!! Sok jual mahal! Tidur di jalanan baru tahu rasa nanti!” Ledek Vey pada Riko yang masih malu - malu menerima pemberian adiknya itu.
“Hahahaha, masak kamu tega sama Kakak sendiri?” Riko senyum – senyum melihat kebaikan adiknya yang tidak disangka – disangka.
Mereka pun langsung menuju kamar masing – masing setelah mendapatkan kunci. Kamar mereka bersebelahan. Nek Mira yang kelelahanlangsung tertidur lelap setelah cuci muka. Vey masih belum bisa memejamkan mata. Dia keluar kamar. Mengetuk pintu kamar Riko.
“Apa? Mau ganggu?” Kata Riko ketika membukakan pintu untuk Vey. Vey tidak berkata apa – apa. Dia langsung nyelonong masuk kamar Riko. “Sepi di kamar. Nek Mira udah tidur. Vey belum bisa tidur.” Vey menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur Riko.
“Mau jalan – jalan keliling hotel gak? Katanya di sini ada tamannya juga.” Kata Riko, nada bicaranya melunak ketika melihat muka Vey yang murung. “Boleh deh.”
“Jangan kusut gitu dong mukanya! Gak enak lihatnya!” Goda Riko pada Vey. Vey tersenyum, dia bangkit dari tidurnya. Kemudian menggandeng tangan Riko. “Ayoo Kakakku..” begitu terasa indah melihat mereka yang sedang akur tanpa pertengkaran dan cekcok mulut yang biasanya selalu terdengar setiap detiknya.
Mereka keluar kamar, Vey masih menggandeng tangan Riko. Tidak sengaja seseorang memakai jas, rapi, bersepatu hitam, tampan, menabrak Vey. Spontan Vey langsung angkat suara, “Hey! Lihat – lihat dong! Mentang – mentang pakek jas main nyerobot aja!”
Orang tadi berhenti melihat Vey dan Riko yang bergandengan tangan. Mungkin dia berpikir Riko adalah pacar dari gadis yang ditabraknya. “Maaf, Mbak! Maaf, Mas! Saya tidak lihat tadi.” Setelah minta maaf tanpa mendapat balasan dari Vey dan Riko, orang tadi langsung pergi berjalan terburu – buru seperti tadi.
“Gila tu orang! Lagi tengkar sama pacarnya mungkin ya? Terburu – buru banget jalannya!” Gerutu Vey, tangannya masih menggandeng lengan Riko.
“Udah, ayo jalan – jalan!” Riko menyela pikiran negatif Vey. Mereka berjalan melewati lorong – lorong kamar menuju taman yang dimaksud.
***
“Habib! Sini. Tadi saya nabrak seseorang di depan kamar nomer 204, mungkin itu kamarnya, tolong layani mereka dengan baik ya! Saya merasa bersalah, gak enak, takut mereka mengeluhkan hotel ini.”
“Loh? Memangnya mereka tahu kalau Anda pemilik hotel ini?”
“Tidak, tapi apa salahnya memberikan pelayanan yang bagus. Siapa tahu nanti mereka akhirnya tahu saya. Takutnya mereka menuduh saya tidak sopan.”
“Baiklah, Pak. Saya laksanakan.” Jawab kepala pelayan hotel.
***
Malam itu bulan tak tertutup awan, Vey dan Riko berjalan di sekitar kolam renang yang ada di hotel itu. Beberapa kali mereka bercakap – cakap tentang pekerjaan. Maklumlah, pembicaraan tentang pekerjaan mereka pasti nyambung, karena mereka memang bekerja satu kantor di perusahaan papanya.
“Papa itu pemimpin perusahaan, pasti uangnya banyak. Tapi kenapa ngasi uang saku ke Lombok dikit banget ya ke Kakak?” Riko memulai percakapannya lagi setelah beberapa saat berhenti karena mencari tempat duduk yang enak untuk mereka.
“Papa bukan pelit, Kak. Uangnya sekarang lagi difokuskan pada proyek yang sedang kita garap bareng itu. Apalagi Kakak aja yang ngerasa kurang. Udah dikasih jutaan masih dibilang sedikit! Kakak itu kadang – kadang harus ngurangi uang jajan! Aku aja bisa, kenapa Kakak enggak! Biasanya yang ngabisin uang banyak tu anak cewek, bukan anak cowok! Tapi malah kebalikannya kalau Kakak.”
“Kakak itu paling gak bisa kalau udah lihat barang yang bagus. Pasti gak bisa buat gak dibeli.”
“Mungkin itu juga yang bikin cewek risih, Kak! Mungkin karena itu juga Kakak sampai sekarang gak punya pacar.”
“Risih gimana maksudmu?”
“Ya risih, masak cowok suka belanja! Mulai sekarang, kurangi! Siapa tahu dengan itu Kakak bisa dapet cewek. Vey bantu deh cariin temen – temen Vey di Bogor nanti. Vey tawarin Kakak ke mereka. Siapa tahu ada yang mau sama Kakak.”
“Kamu kira Kakak ini barang ya kok pake acara ditawarin.”
“Bukan gitu, Kak. Vey ini mau bantu. Eh? Tunggu, sebenarnya masalah utama Kakak itu bukan masalah belanja itu sih.” Kata Vey tiba – tiba.
“Apa memangnya?”
“Kakak kalau ngajak kenalan cewek pasti ngajak mama. Kakak jadi terkesan anak mama, anak manja, dan anak – anak lainnya.”
“Tapi k’kan gak salah, Vey. Ngajak orang tua biar sama tahu entar enaknya gimana.”
“Iya kalau pikirannya sama seperti Kakak! Kalau cewek yang lagi Kakak dekati itu adalah cewek yang mandiri, pasti deh bakal illfeel ngelihat anak mama kayak Kakak. Kakak pasti dipandang gak mandiri karena apa – apa masih butuh mama, cari jodoh aja masih ngajak mama. Hemmm.”
“Aah, bukan alasan yang tepat itu, kadang ada juga cewek yang suka ngelihat cowok yang perhatian dan sayang sama orang tuanya sendiri. Kamu sendiri masih belum punya pacar tapi udah mau nyariin Kakak.”
“Aku tu bukannya gak ada yang mau, Kak. Ada sih, tapi gak sesuai sama tipeku.”
“Alasan aja kamu.” Ledek Riko sambil senyum – senyum geli mendengar alasan adiknya.
“Loh? Beneran. Banyak yang deketin Vey. Secara Vey itu pinter, cantik, mandiri, siapa sih yang gak suka sama Vey.” Kata Vey dengan bangganya, Riko tampak memonyongkan bibirnya mendengarkan adiknya membanggakan diri sendiri. “Tapi ya itu, masih belum ada yang pas, belum ada yang sesuai tipe Vey.”
“Memangnya gimana tipemu?” Tanya Riko sedikit penasaran.
“Kayak Kakak!”
Riko mengernyitkan alisnya. Keheranan mendengarkan penjelasan Vey yang begitu singkat. “Kayak Kakak? Serius? Bukannya kamu benci tipe – tipe kayak Kakak?”
“Vey pengen ada yang kayak Kakak. Kerjaannya bercanda terus sama Vey, meskipun tengkar tapi Kakak sayang sama Vey, dan meskipun suka bercanda, kalau sudah menyangkut pekerjaan Kakak pasti serius. Tapi Vey cuma gak mau tipe Vey itu suka belanja kayak Kakak.”
“Wah, wah, ternyata kamu diam – diam mengagumi Kakakmu sendiri.”
“Gile lu… bukan gitu! Bukan berarti Vey suka Kakak! Kakak kira Vey itu gila! Masak suka sama saudara sendiri! Amit – amit! Vey itu cuma pengen tipe Vey kayak Kakak! Gitu. Suka bercanda, sayang Vey, serius dalam kerja, tapi gak suka belanja.”
“Hahahaha, iya – iya Kakak ngerti kok! Kakak cuma bercanda.”
“Terus kalau Kakak gimana? Gimana tipe cewek idaman Kakak?”
“Kayak Kamu!”
“Aaah, Kakak niru Vey! Ayo serius.”
“Loh? Iya kakak serius! Tipe kakak tu kayak kamu. Cantik, pinter, enak di ajak bercanda, diajak tengkar juga enak. Hehehehe.”
“Aaah, Kakak niru.”
“Loh? Beneran Vey. Makanya itu Kakak sulit nyari pacar, soalnya Kakak terlalu terpaku sama tipe Kakak itu. Gimana kalau kita pacaran aja?” Riko menahan tawanya, dia sengaja ingin menggoda adiknya.
“Iiih! Kakak gila ya!”
“Hahahahahaha, bercanda Vey! Gitu aja serius banget sih!”
“Kak Riko gila! Aku laporin ke Mama sama Papa entar.”
“Laporin aja! Mama sama Papa mungkin cuma ketawa – ketawa dengernya. Lagian Kakak cuma bercanda! Kamu ini serius banget!”
Malam itu mereka ramai sendiri. Membahas hal – hal yang tidak penting, membahas ini itu, membahas segala hal yang membuat mereka tertawa dan bertengkar sejenak. Tidak biasanya mereka sedekat itu. Ada gunanya juga mereka bepergian tanpa kedua orang tua. Setidaknya mereka bisa akur, bisa merasakan saling menjaga satu sama lain di tanah orang.
Tidak terasa malam semakin larut, bulan semakin meninggi. Bintang – bintang yang berkerlipan semakin bertambah banyak di langit sana. Beberapa burung malam sayup – sayup terdengar di kejauhan sana. Mereka saling sahut menyahut satu sama lain, menyampaikan kabar dari malam yang pekat.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar